Pernikahan, Untitled

4 Tahun Pernikahan. Terus Bertumbuh, Naik, dan Tak Pernah Menyerah

Masya Allah, tepat hari ini, 22 Juli, 4 tahun sudah pernikahan saya dan suami, Kak Siddiq. Kalau usia, saya lebih suka menyebutnya dengan kata “sudah”. Supaya saya lebih ‘ngeuh’ bahwa usia itu berjalan terus. Bahwa, “Ini lho kamu sudah umur sekian. Ayo sudah umur sekian, kamu harus begini.” Dalam artian saya harus bertumbuh.

Alhamdulillahnya, suami bilang dalam waktu 4 tahun saya sudah mengalami banyak perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi saya sendiri masih belum puas bahkan mungkin nggak boleh puas. Karena sayanya sendiri masih merasa banyak sekali yang harus dibenahi dari diri ini. Baik sebagai pribadi, pasangan, maupun selama jadi ibu.

Yah, tentu saja harapannya dari tahun ke tahun saya bisa semakin baik. Dan tentunya pernikahan ini bisa langgeng bahkan hingga jannah-Nya kelak. Aamiin Aamiin ya Rabbal Alamin.

Flashback awal nikah. Dengan segala proses yang serba cepat

Jadi pengen flashback lagi. Di blog Sohibunnisa mungkin saya sudah cerita tentang bagaimana saya dan suami bisa menikah. Iya, dulu kami memang seperti dijodohkan. Tapi doi kayak nggak mau gitu. Awalnya saya berharap banget *uhuk*. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk, “Udahlah pasrah aja. Toh jodoh urusan Allah. Cuma berharap yang terbaik aja” Walaupun hati teriris perih 😆

Tapi jujur deh, entah kenapa, keyakinan sama suami tuh ada aja terus dalam hati. Di satu sisi saya nggak mau berharap, tapi di sisi lain keyakinan dalam hati tuh nggak pernah hilang.

Benar aja, pas tanggal 4 Juli 2015 tiba-tiba ada BBM yang masuk dan setelah basa-basi, lalu nanya, “Ade udah ada calon belum?” DUARRRR. Hati saya meledak-ledaklah rasanya 🙈

Singkat cerita beliau langsung telepon ayah ibu. Ayah ibu say, YES. Dan diputuskanlah untuk menikah setelah lebaran, tanggal 22 Juli 2015.

Bayangin aja dari tanggal 4 Juli ke 22 Juli itu kan cuma 3 minggu kurang 😂 Tapi Alhamdulillah dengan maraton ngurus surat-surat, lamaran, seserahan, sampai untuk acara hari H, semua berjalan lancar 😭 Masya Allah kalau diingat sampai sekarang masih aja suka nggak percaya prosesnya bisa sekilat itu 😭

Diboyong ke Surabaya. ‘Hanya’ tinggal di kamar

Karena saya tahu konsekuensi nikah dengan suami, jadi saya sudah siap banget untuk diboyong ke Surabaya. Karena memang beliau kerjanya di Surabaya.

Sejak awal beliau memang sudah ngomong kalau rumahnya masih jadi satu dengan kantor. Jadi niatnya saya di Lamongan aja dulu bareng mertua. Nanti suami akan pulang setiap hari Sabtu sampai Minggu. Seninnya balik lagi ke Surabaya.

Tapi Masya Allah, rencana itu tidak pernah terealisasi. Entah kenapa, kami malah betah tinggal berdua walaupun hanya bisa di kamar aja 😅 Maklum, karyawan suami laki semua. Kalau beliau kerja, otomatis saya di kamar aja. Dan saya tidak pernah mempermasalahkan itu.

Di kamar yang tidak terlalu lebar, hanya ada satu kabinet dan satu tempat tidur yang harusnya dipakai untuk sendiri, tapi kami pakai tidur untuk berdua. Nggak pakai bantal. Yang ada hanya boneka panda berbentuk bantal kecil dari bonus suami beli kasur, yang saya pakai untuk tidur. Suami ngalah nggak pakai bantal sama sekali.

Hadirlah seorang bayi mungil yang bernama Emir

Kemudian ditiuplah seorang janin pada bulan Agustus. Karena mual-mual, suami memindahkan kamar kami jadi di bawah. Supaya saya tidak perlu naik turun kalau muntah. Karena kamar kami sebelumnya memang di atas dan tidak ada kamar mandi.

Alhamdulillah kamar di bawah lebih luas dan ada kamar mandi dalam. Praktis saya keluar hanya untuk masak dan makan.

Ah FYI, awal nikah saya nggak pernah masak. Pas hamil malah mulai masak. Dan masak untuk 9 orang alias untuk semua karyawan suami juga 😂

Tanggal 17 April 2016, lahirlah seorang bayi mungil yang kami beri nama Emir. Rumah kami masih jadi satu dengan kantor. Dan kami masih tinggal di ‘dalam kamar’. Tapi dari pagi sampai sore, saya ajak Emir main di ruang tamu. Karena waktu itu kantor sudah dipindah ke atas.

Setiap saat hujan selalu deg-degan

Sayangnya, rumah kami dulu masih belum sempurna. Dari jalanan ke dalam rumah, itu turun. Jadilah begitu hujan, rumah selalu banjir. Setiap saat hujan, kami bukan senang, tapi deg-degan karena pasti banjir. Bukan karena jalanan juga, tapi namanya rumah bekas tambak (rawa), jadi rembeslah dari bawah.

Puncaknya, pas Emir dua bulan, rumah kami banjir besar. Hanya rumah kami. Karena rumah-rumah yang lain kebanyakan sudah ditinggikan. Ikan-ikan dari tambak depan malah ngungsi ke rumah kami. Praktis saya, ibu (waktu itu masih ditemani ibu), dan Emir dipindah ke kamar atas. Sementara anak-anak lainnya yang menginap mengalah tidur di luar kamar.

Begitu Emir 6 bulan, saya mulai kepikiran, “Gimana ini Emir bentar lagi merangkak. Nggak mungkin kalau terus-terusan hanya di kamar. Apalagi dengan keadaan rumah banjir.”

Alhamdulillah, meski dipaksakan, saya dan suami nekat merenovasi rumah. Ditinggikan dari jalan supaya tidak banjir lagi. Sementara saya dan Emir diungsikan ke kos-kosan yang ada di depan rumah.

Hadir Elis di saat Emir masih bayi

Dalam kos-kosan itu, masya Allah, Allah tiupkan lagi janin dalam rahim saya. Saya sedih banget. Merasa bersalah. Setiap kali Emir tidur, saya selalu menatap dia dan minta maaf. Tapi untungnya, suami justru bisa menguatkan saya. Dan menyadari bahwa, “Ini sudah jalan Allah. Tidak boleh ditolak.” Biar bagaimana pun saya harus terima. Karena saya juga tidak mau kalau janin ini kenapa-kenapa.

Baca ceritanya di: Ya, Saya Positif Hamil (Lagi)

Begitu bulan Februari 2017, Alhamdulillah rumah sudah jadi. Dan kantor pun full dipindah ke atas. Jadi lantai bawah sekarang full jadi rumah kami. Dan tangga dalam dimatikan alias atasnya ditutup supaya kami punya privacy.

Tanggal 8 Juni 2017, lahirlah Elis. Sesuai perkiraan USG, bayi kedua memang perempuan. Masya Allah bukan main senangnya. Setelah dianugerahi anak pertama laki-laki yang sesuai keinginan, anak kedua pun langsung Allah anugerahi perempuan. Nikmat mana lagi yang harus kami dustakan 😭

Kami berharap dipertemukan lagi di jannah-Nya kelak

Akan kepanjangan kalau diceritakan setiap prosesnya 😅 Intinya sejauh ini kami merasa selalu bertumbuh. Kami bukan pasangan ideal yang tidak pernah bermasalah. Lagi pula tidak ada rumah tangga yang tak pernah mendapat ujian dan cobaan. Tapi kami pasangan ‘biasa’ yang juga pernah sesekali bertengkar. Saling mengutamakan ego. Menangis, sedih, berduka. Tapi sejauh ini, Masya Allah, Alhamdulillah, kami bisa melewati semuanya 😭

Kami saling sayang. Saling mengisi. Saling mengalah. Satu sedih, satu menyediakan pundak. Satu marah, satu diam. Satu emosi, satu tenang.

Kami masih terus berusaha saling mengenal sampai saat ini. Karena pernikahan sejatinya memang perkenalan yang tak pernah usai. Kami masih terus berusaha untuk saling sabar satu sama lain. Kami juga masih terus berusaha dan berdoa agar kami selalu bisa bertumbuh.

Dan yang pasti, dalam kamus kami tidak pernah ada kata menyerah. Proses pernikahan boleh singkat. Hanya kurang dari 3 minggu kami bisa melalui semua prosesnya. Tapi pernikahan ini tidak boleh singkat. Sebisa mungkin, kami akan bertahan. Bahkan selalu berharap bahwa kami bisa dipertemukan lagi di jannah-Nya kelak 😭

Sekarang kebahagiaan kami lengkap. Dengan adanya Emir Elis, kami merasa sudah berjalan sangat jauh. Masih ada proses-proses selanjutnya yang harus kami lewati. Masih banyak jalan yang harus kami terjal. Semoga, pernikahan ini terus bertumbuh naik. Meningkat. Dan terus lebih baik. Aamiin Aamiin ya Mujibassailin 😭

Tagged , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.