Cerita Bunda, Parenting

Alasan Saya Mulai Jarang Membaca Buku Parenting

Beberapa hari lalu saya baca blog Mbak Puty dan Mbak Okke tentang kolaborasi mereka yang membahas buku parenting. Yang menarik adalah saat saya baca blognya Mbak Okke dan menemukan tulisan yang mungkin selama ini saya butuhkan tentang Membaca Buku Parenting.

Jadi gini ceritanya, saya termasuk yang sering debat sama suami HANYA karena saya baca artikel atau buku parenting. Kenapa? Karena kesalahan saya dalam menerapkan dan memberitahu teori parenting itu pada suami. Alih-alih memberitahu, (kata suami) saya justru terkesan ‘maksa’. Karena cara memberi tahunya nggak dengan bahasa diskusi. Tapi cenderung ingin mempraktekkan PLEK pada anak-anak. Padahal kondisi kami bisa jadi berbeda dengan teori itu.

Misal saya pengen menyapih Emir, tapi belum berhasil sampai sekarang. Saat Emir rewel, saya keukeuh nggak mau nyusuin karena teori bahwa menyapih harus tega-tegaan tapi sialnya saya belum punya alternatif lain. Dan kenyataannya kadang Emir rewel banget. Nggak mau minum susu dan digendong juga. Maunya minum ASI sama saya aja. Di sini saya sering keukeuh, jadilah debat lagi sama suami. Padahal fokus kita seharusnya bukan menyapih, tapi bagaimana cara menenangkan Emir.

Kondisi dan value dengan teori parenting sering berbeda

Nah inilah yang sering bikin gesekkan. Kondisi dan value kami dengan teori-teori parenting seringkali berbeda. Apalagi dengan kondisi kami punya dua anak dengan jarak dekat. Jadi kebanyakan tidak bisa disamakan dengan teori yang mungkin hanya didasarkan jika si orang tua punya anak satu atau anak dengan jarak berjauhan.

Akhirnya lama kelamaan saya merasa capek sendiri. Merasa nggak didukung. Belum lagi kalau kami pulang ke rumah orang tua, selalu ada perbedaan-perbedaan cara mengasuh. Kalau saya keukeuh, bisa jadi debat lagi. Tapi untungnya suami selalu mengingatkan kalau cara bikin orang tua – biar mau mendengarkan kita adalah dengan cara menuruti dulu perintahnya. Baru kalau ada salah, mereka sendirilah yang tahu konsekuensinya. Jadi kita nggak perlu susah-susah lagi memberi masukkan. Karena setelah orang tua tahu mereka salah, maka mereka dengan sendirinya akan menerima cara mengasuh kita pada anak-anak.

Baca: Orang Tua Tidak Salah, Mereka Hanya Belum Paham

Oke sebelum makin melebar dan ngalor ngidul…

Menjadi tidak fleksibel karena merasa terikat dengan teori

Segala macam filosofi parenting di dalam buku parenting itu diklaim berdasarkan dari riset para expert, sudah teruji dan terbukti berhasil. Hal ini membuat kita berpikir bahwa filosofi tersebut adalah filosofi ter-ideal, yang jika diterapkan dalam pola asuh kita, maka sudah pasti berhasil membuat masa depan anak kita gemilang; sudah jaminan mutu.

Kalau saya sih, jadinya saya bersikap begitu kaku, pengin menerapkan plek, filosofi parenting yang saya baca. Okke 

http://www.mamamolilo.com/2017/12/modyarhood-5-alasan-saya-nggak-rajin.html#more

Saya hanya berpikir, saya mulai capek merasa sendirian begini. Jadi suka stres sendiri menghadapi anak. Maunya sesuai dengan teori, tapi kenyataannya sering nggak mendukung. Finalnya saya merasa jadi ibu yang nggak sempurna, gagal karena tidak bisa mempraktekkan teori dengan baik ? Apalagi teori parenting sekarang kan duh aduhai melimpahnyaaaa…

Iya sih teori itu kan sebenarnya nggak salah dan hanya perkara mau atau tidak dipraktekkan ya. Tapi maybe nggak cocok bagi seseorang seperti saya. Karena seperti Mbak Okke, saya nggak bisa jadi orang yang fleksibel hanya karena merasa terikat dengan teori. Itulah yang membuat saya “oke, udahan dulu deh baca buku parentingnya. Saatnya fokus ke anak sendiri.” Bukannya nggak mau belajar, tapi lebih ke ‘mengistirahatkan pikiran’ supaya saya nggak saklek lagi jadi orang. Apalagi sampai ketakutan dan memendam kekhawatiran bahwa anak saya ada sesuatu yang ‘ti­dak seperti anak lainnya’. Duh naudzubillah, jadinya malah membandingkan deh ?

Celoteh Bunda = sharing

Buku-buku parenting sering sekali membuat klasifikasi-klasifikasi kondisi dan perilaku anak lengkap dengan ciri-ciri, cara mencegah dan cara penanganan. Nah, ini yang bikin saya jadi terlalu mengamati gerak-gerik anak saya. Mending cuma sampai mengamati thok, pada kenyataannya sikap ini berlanjut jadi sok menganalisa ala-ala expert dengan panduan teori buku parenting  (ditambah dengan teori-teori dan asumsi sendiri). Okke

Lalu bagaimana dengan blog Celoteh Bunda yang katanya mengusung tema parenting? Nah mungkin saya mau meluruskan. Bahwa apa yang tersurat di sini HANYALAH bersifat SHARING. Dalam artian semua hal di sini sudah saya praktekkan sendiri. Saya sama sekali TIDAK PERNAH menasihati, apalagi merasa diri paling expert. Jadi semua yang tertulis di sini tidak memaksa pembacanya untuk mempraktekkan. Apalagi sampai menjudge bahwa kalau tidak dipraktekkan berarti jadi orang tua yang gagal, oh tidak.

Mengistirahatkan pikiran dan fokus pada anak sendiri

So, sekarang saya nggak kepengen stres sendiri lagi dan merasa jadi ibu yang gagal dan nggak sempurna karena nggak se-idealis ilmu parenting. Saya juga berpikir setiap orang tua PASTI punya caranya sendiri untuk membesarkan anaknya. Begitu pun saya dan suami yang sesungguhnya punya value sendiri dalam membesarkan anak-anak kami. Inilah peran suami yang selalu mengingatkan saya supaya nggak saklek dengan teori yang belum tentu sesuai dengan value kami.

Nah ini dia! Ini yang sering banget saya rasakan. Ketika membaca filosofi parenting yang begitu ideal, berusaha menerapkannya dan lebih sering gagalnya daripada berhasil, maka saya merasa gagal jadi orangtua. Kadang saya berpikir, aduh, kalau saya gagal melakukan cara ini, ntar gimana karakter anak saya di masa depan?

Padahal kalau saya lihat-lihat, saya, partner saya, orangtua saya, orangtua partner, bapak saya, ibu saya, bapak mertua saya, ibu mertua saya, dibesarkan tanpa terlalu banyak teori dan filosofi parenting. Kami semua aman-aman saja hidup sebagai manusia dewasa. At least, kelihatannya aman sih. :))) Okke

Mungkin apa yang kami terapkan tidak sesuai teori parenting kebanyakan. Tapi sebetulnya, orang tualah yang paling tahu kondisi sebenarnya pada anaknya. Atau dengan kata lain, sesungguhnya RISET INTERNAL itulah yang paling valid untuk menerapkan teori parenting. Kalau ada yang cocok diterapkan, kalau tidak bisa ya tidak memaksa.

Tidak ada orang tua yang gagal

Well, kesimpulannya adalah TIDAK ADA orang tua yang gagal HANYA karena TIDAK mempraktekkan ilmu parenting. Sebab hanya orang tua yang tahu betul kondisi anaknya. Selama anak-anaknya masih dirawat dan dibesarkan dengan baik, setiap orang tua sudah jadi orang tua yang benar. Perkara caranya berbeda atau mungkin keliru, setiap orang tua pasti tahu konsekuensinya masing-masing ?

Baca: Ekspektasi Berbeda dengan Realita? Santai Aja Deh!

Nah kalau Bunda dan Ayah sendiri gimana, masih suka baca buku parenting nggak sih? Kalau masih, bagaimana cara menerapkannya? Kalau tidak, boleh dong sharing juga kenapanya? ?

Tagged , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

24 thoughts on “Alasan Saya Mulai Jarang Membaca Buku Parenting

  1. Hai mbak Ade, salam kenal. Saya udah pernah baca banyaaak sampai ‘mual2’, bertikai sama suami, sampai anak2 juga kena imbas, hehehe, lalu udah dulu, cape, bismillah…
    Sempat juga berpendapat cara ini salah, yg benar caraku, lalu dapat bukti macem2 yg akhirnya, well, parenting adalah usaha, masalah hasil ya dari Allah.

  2. Kalau saya masih terus belajar teori parenting. Baca buku, ikut seminar, baca di internet, dll. Lebih seringnya menyimak pengalaman dari orang lain. Tapi kembali lagi ke keadaan/kondisi diri sendiri karena enggak semua teori parenting bisa kita terapkan ke anak kita/keluarga kita. Tiap anak itu unik beda kepribadian dan karakter. Beda anak aja udah beda cara mengasuhnya.
    Maka ada istilah menjadi orang tua itu adalah belajar seumur hidup.

    Semangat, Mbak. Memang adakalanya kalau kita sudah merasa stress kita perlu mengambil istirahat sejenak dari “jejalan” ilmu. 🙂

    Salam hangat dari Bandung

  3. Hwa…ternyata saya tidak sendirian merasakan hal serupa ya. Sekarang kalaupun masih baca cenderung tidak santai. Mungkin memang ada masa2nya. Saat jadi ibu baru, biasanya masih pada semangat. Setelah waktu berlanjut, jadi bisa lebih menerima ketika situasi tidak seideal teori 🙂

    Salam

  4. Aku anak pertama aja mba yang rajin baca buku parenting. .

    Anak ke dua dah nggak. Feeling aja..? soalnya bnyk teori2 yang klo dipake di lapangan malah susah.

    Sekarang mbacanya cerita fiksi??

  5. Contoh buku yang dibaca buku apa Mba? Hihi. Penasaran buku apa yang sampai banget banget detil gitu. Saya seneng banget sama buku buku parenting yang lebih bahas tentang komunikasi dan bonding, jadi bukan teori yang saklek, malah banyak kerasa kebantu. Kalau masalah debat sama suami, itu keknya karena kita satu arah dengan beliau. Setuju banget yang betul adalah diskusi. Bagaimanapun pak suami kan adalah bapaknya anak anak. Parenting itu ya koalisi bapak dan ibu, bukan salah satunya. Semoga pengalaman membaca ilmu ilmu parenting tidak menjadi barrier kita semua untuk tetap menjadi lebih baik dari waktu ke waktu 🙂

    1. Nggak mau sebut merek 🙂

      Yap betul, sebenarnya harus kesepakatan antara suami istri. Cuma karena suami tahu banget saya gimana, jadi keputusan untuk stop sementara buku parenting udah bener hehe. Toh suami justru lebih luas pengetahuan parentingnya daripada saya 😀 Smoga ke depannya saya bisa lebih santai aja kali ya.

  6. Kalo kt temen saya yg punya anak 5 tahun, gpp dimarahin tetangga, ortu, mertua, toch kita tau mana yg terbaik utk anak kita. bunda yg lebih tau anaknya 🙂
    tetap semangat mba 🙂

  7. Kalau saya suka Mba baca buku parenting, ikutan seminar parenting juga dan baca selain ilmu parenting juga suka, seperti buku kesehatan untuk anak. Soalnya membaca dan belajar itu adalah salah satu cara saya u/ membekali diri saya dengan ilmu sebagai ibu. Tetapi, memang tipe parenting itu kan beda2 ya, jadi disesuaikan juga dengan sikon dan kebutuhan anak-anak kita. Membaca ilmu parenting membuat saya dan suami tahu konsep pendidikan dan pengasuhan anak kami. Ilmu parenting mengajarkan saya tau bagaimana melangkah dalam pendidikan anak2 kami nantinya. Tetapi, memang segala sesuatu ada yang lebih kita utamakan mba. Seperti Mba yang jarak anak2nya berdekatan, memang sebaiknya lebih mengutamakan kewarasan kita daripada nerapin ilmu parentingnya. Soalnya nanti kita malah stres. Nanti ada masanya belajar kembali. Semangatttt, ya Mba ?

  8. Bagus.. bisa jadi pelajaran buat aku sama suami nanti kalo punya anak, gak usah saklek ama buku parenting ? Tapi gimana-gimana parenting tips + teori tetep perlu, buat referensi dan variasi pilihan. Satu hal yang pasti, kita tidak boleh memaksakan idealisme ketika kondisi tidak memungkinkan kan ya ?

  9. Makasih ya mbak… jadi tercerahkan…
    Sebenernya belum menikah dan belum punya anak. Tapi memang aku sedang terbuka untuk wawasan parenting dan marriage sekaligus lihat contoh langsung lewat kakak ipar.

    Dan sepertinya beberapa poin di atas ada benarnya ketika kulihat sisi kakak iparku ketika di rumah (mertuanya). Aku jadi belajar beberapa hal di sini…

  10. Saya malah gak sempat yg namanya belajar parenting? jaman anak2 kecil dulu saya blm terlalu melek internet. Akses ke buku2 parenting juga tdk semudah sekarang. Paling mentok dulu saya baca majalah ayah bunda…. jadi saya membesarkan anak2 hanya pakai insting saja? Alhamdulillah sekarang anak2 sdh besar. Dan saya baru mau mulai belajar nih ttg parenting utk remaja?

  11. Mungkin mbak Ade kebanyakan baca buku parentingnya hehe.

    Sebaiknya kalo pilih buku parenting yang ga melulu menyajikan teori mbak, jadi si penulis selain punya basic ilmu parenting juga seorang ibu.

    Tapi memang benar semua teori yang ada dalam buku parenting ga bisa PLEK kita praktekkan ke anak kita. Saya termasuk yang sering mendobrak teori2 tsb haha.

    Thanks for sharing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.