Cerita Bunda, Untitled

Anak Bukan Beban!

Pernah saya mengeluh pada suami bahwa saya capek sekali mengurus Emir. Ternyata jawaban suami cukup menohok, “itu artinya Ade masih menjadikan Emir sebagai beban.” Lanjutnya, “Coba berpikir kayak Ade lagi nulis. Ade nulis untuk apa, hiburan kan?” Saya mengangguk. “Coba deh jadikan Emir seperti itu. Saat Ade nemenin dia, saat Ade ngajak dia bercanda, jadiin itu sebagai hiburan.”
Lantas saya yang balik bertanya pada diri sendiri, apa iya saya menjadikan Emir beban? Bukankah capeknya saya wajar karena memang seharian penuh harus mengurus Emir? Ditambah sekarang saya hami lagi *upz, semakin bertambahlah capeknya.

Di hari lain, setiap kali saya bercanda dengan Emir atau menatapnya sedang tidur, ingin rasanya dia jadi bayi saja. Melihat perkembangan zaman yang semakin ke sini semakin mengerikan, saya justru takut dan khawatir kalau-kalau saya salah mendidiknya.

Saat dia masih bayi, mudah saja diatur. Apa-apanya semua kita yang urus. Tapi ketika dia sudah besar? Dia pasti akan memiliki dunianya sendiri. Dia pasti sudah bisa mengambil keputusan sendiri bahkan tidak ingin orang tuanya terlalu ikut campur. Orang tua saya sendiri pun pernah bilang, lebih mudah mengatur bayi ketimbang ketika anak sudah besar.

Tapi tentu saja saya tidak bisa berlama-lama berandai-andai. Bagaimana pun saya tetap ingin Emir tumbuh besar dengan sempurna. Ingin Emir nanti tumbuh dewasa dan bisa membantu orang tuanya dalam banyak hal. Hingga kemudian, kami bisa melihatnya menikah dan memiliki seorang anak. Ah, impian yang jauh.

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR. Muslim 2664)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/12275-andai-andai-yang-terlarang.html

Mungkin memang wajar jika saya sesekali lelah, tapi jika dikatakan saya menjadikan Emir sebagai beban, rasanya jahat sekali saya ini. Lagi-lagi, harusnya saya bersyukur sudah dititipkan seorang anak yang lahir dari rahim saya. Belum lagi dengan kehamilan kedua yang begitu cepat diberikan, rasanya nikmat mana lagi yang harus saya dustakan? Lelahnya saya saat ini sangatlah tidak sebanding dengan nikmat yang sudah Allah berikan. Dan bukankah saya akan menikmati kelelahan saya hari ini ketika Emir sudah besar nanti? Masya Allah…

Maka itu, kepada teman-teman yang belum dikaruniai anak, saya selalu bilang, “nikmati masa-masa saat masih berdua dengan suami. Saat mereka belum terlalu dibuat sibuk ketika anak sudah hadir. Sebab bukan tidak mungkin, ada kalanya mereka rindu masa-masa saat masih berdua, belum sibuk, dan masih banyak waktu untuk sendiri. Dan yakinlah, bahwa Allah tidak pernah tidak mendengar do’a-do’a hamba-Nya. Ia yang lebih tahu kapan kita siap menghadapi semuanya.”

Oke, barangkali saya hanya perlu piknik *eh.

12 thoughts on “Anak Bukan Beban!

  1. Menurut aku sih wajar kalau kita merasa cape, tapi ngga pernah ada dibenak seorang ibu menjadikan anak sebagai beban kan mba 🙂 Apalagi sekarang ada tambahan sedang hamil, berarti Allah percaya bahwa Mba akan mendidik anak2 dengan baik.. Semangat! 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *