Kids, Kolaborasi, Parenting, Untitled

Anak, Guru Terbaik Orang Tua

Saya langsung teringat nama Kiki Barkiah, saat Mama Carolina Ratri membuka polling tentang siapa yang bisa menjadi Top 20 Hottest Indonesia Rocking Mama 2016. Bukan tanpa alasan sih, karena sudah sering saya baca postingan-postingan beliau tentang segala hal berbau parenting. Bahkan beliau juga menerapkan homeschooling untuk kelima anaknya. Saya pun pernah membaca bukunya yang berjudul 5 Guru Kecilku.
credit: Pixabay
Makanya, berbeda dengan Mak Liza yang menuliskan Fakta Tentang Anak dan Titik Rawan Dalam Pernikahan, saya justru berpikir seperti Teh Kiki. Bahwa anak sejatinya adalah guru terbaik orang tua. Ya, bukan orang tua yang mengajarkan anak, lebih dari itu anaklah yang menjadi guru untuk para orang tuanya. Terlepas dari fakta bahwa kehadiran anak ternyata bisa menyebabkan berkurangnya kebahagiaan dalam pernikahan yang barangkali juga tidak bisa dipungkiri, tapi anak tidak bisa disalahkan begitu saja. Toh, kehadirannya adalah anugerah Maha Kuasa dan jadi kebahagiaan tersendiri.

Guru Kesabaran

Yang saya rasakan, tidak ada pelajaran sabar terbaik selain saat diamanahi anak. Dimulai dari balada kehamilan dengan mual yang menyakitkan, pusing, sesak nafas, berat membawa perut saat jalan sampai ketika anak itu sudah lahir. Tidur yang terbangun tengah malam untuk menyusui, mengganti popok, mendiamkan anak saat rewel. Gerakan Tutup Mulut saat memasuki masa MPASI, anak sakit yang menyebabkan dia rewel. Sampai perkembangan yang tidak secepat teman sebayanya. Ah, semua benar-benar menguji kesabaran. 
Mungkin para orang tua berkilah, ini belumlah seberapa. Selanjutnya akan ada ujian-ujian yang lebih dahsyat lagi menguji kesabaran. Tapi jika kesabaran orang tua habis, maka siapa yang akan jadi korban? Ya anak itu sendiri. Naudzubillah. Padahal anak tidak pernah minta dilahirkan. Ia dihadirkan karena memang sudah kehendak Tuhan yang diamanahi pada orang tuanya. Maka orang tuanyalah yang harus belajar sabar dan lebih kuat.

Guru Keyakinan

Menyusui dengan keras kepala. Tidak peduli ASI belum keluar saat baru-baru, yang terpenting saya harus menyusui. Harus makan sayur daun katuk, bubur kacang hijau, makan kacang-kacangan, sampai minum jamu pahit, apapun saya lakukan agar ASI saya keluar. Itulah salah satu keyakinan saya. Saya menanam keyakinan sekuat mungkin supaya saya bisa menyusui. Bahkan sekalipun saya hamil, saya akan tetap menyusui bayi saya. 
Begitupun tentang segala nasihat. Semua yang baik dan sesuai, sebisa mungkin akan saya lakukan. Yang sekiranya hanya mitos, tidak akan saya jalankan. Selama saya percaya, saya akan menanamkan keyakinan bahwa semua baik-baik saja. Anaklah yang mengajarkan saya untuk tidak menjadi peragu.

Guru Kecerdasan

Suatu kali Emir mendadak bisa duduk sendiri. Kali lainnya, dengan lucunya dia mulai memainkan ekspresi wajahnya. Di kesempatan lain, dia ngoceh tidak jelas seolah sedang mengajak berbicara orang tuanya. Ah, saya merasa tidak pernah mengajarkan itu semua. Yang saya lakukan hanyalah memberi stimulasi. Tapi penerimaan semuanya tetap terletak pada dirinya. 
Segala apa-apa yang dia bisa, semua fase yang dia lewati, karena memang sudah fitrahnya begitu. Bahwa anak memang diciptakan memiliki kecerdasannya sendiri :’) Orang tuanyalah yang harus belajar untuk mengendalikan perilaku. Anak hanyalah kertas kosong, karenanya ia bisa menjadi peniru ulung.

Guru Kekuatan

Seperti kesabaran, anak juga sudah mengajarkan saya untuk menjadi lebih kuat. Di saat anak lain sudah tumbuh gigi sementara Emir belum, saya harus kuat. Di saat anak lain sudah lancar merangkak, Emir masih belajar, saya harus kuat. Kenyataannya setiap anak memang berbeda. Ada anak yang melewati fasenya cepat, ada pula yang lambat. Semua harus dilewati dengan kesabaran. Siapa yang akan menyemangati anak kalau bukan orang tuanya sendiri?
Anak sudah mengajarkan saya kekuatan. Kekuatan untuk teguh pendirian, tidak membanding-bandingkannya dengan anak lain, bersyukur karena ia masih diberi kesehatan dan ia lah anugerah terindah yang diamanahi pada saya.

Guru Kekompakkan

Inilah yang kita bahas di atas tadi. Terlepas dari fakta bahwa kehadiran anak ternyata bisa menyebabkan berkurangnya kebahagiaan dalam pernikahan, saya justru menganggap anak bisa mengajarkan kekompakkan pada orang tuanya. Yang itu artinya juga merekatkan hubungan pernikahan. 
Tidak peduli kadang harus berbeda pendapat, ketika suami istri sudah menjadi orang tua, maka disitulah dibutuhkan kekompakkan keduanya. Kekompakkan untuk mengurus dan mendidik anak sampai ajal menjemput. Ya, sampai kapanpun anak tetaplah tanggung jawab orang tuanya. Orang tuanyalah yang harus belajar untuk menyamakan visi untuk membawa anak pada kehidupan yang lebih baik :’)

Guru Memaafkan

Orang tua kesal lalu memarahi anak, apakah anak balik marah? Mungkin bisa jadi, tapi percayalah seorang anak tetap akan menjadi pemaaf bagi orang tuanya. Orang tua salah ngomong pada anak? Anak tetap akan memaklumi. Sesalah apapun orang tua, bagi anak – ketika ia masih memiliki orang tua, maka itu adalah anugerah terbesarnya. Tidak ada anak yang senang ketika ditinggal orang tuanya. 
Maka orang tualah yang seharusnya belajar seperti anak. Yang mudah memaafkan ketika orang lain salah. Yang mudah memaafkan ketika orang lain keliru. Dan yang mudah memaafkan dan tidak mengingat-ingat kesalahannya lagi :’) Sungguh tidak mudah, tapi anaklah yang bisa kita lihat betapa besar hatinya untuk mengajarkan kita :’)
Menjadi murid memang tidak mudah, ia harus melewati berbagai pelajaran-pelajaran agar bisa menjalani ujian dan lulus untuk naik ke kelas berikutnya. Karena itulah ada sang guru. Guru yang bisa membantu mengajarkan pelajaran, mengajarkan yang sulit agar lebih mudah, mengajarkan agar lulus ujian dengan baik dan bisa naik kelas. Dan sang murid itu ialah orang tua. Yang gurunya, adalah anak-anaknya :’)

10 thoughts on “Anak, Guru Terbaik Orang Tua

  1. Poin yg mudah memaafkan itu bikin aku ngerasa bersalah juga :(. Jd inget si kaka, kdg aku marahin, tp tiap kali itu jg dia srg melukin sambil ngomong, aku sayang mami :(.

    Jd nyeseeeel bgt udh marah2 ke anak. Buatku yg kesabaran itu paling susaaah bgt mba -_-.

  2. Nice article.
    Sejatinya anak memang guru bagi ortunya. Semesta kebahagiaan bagi ortu. Saya sengaja membidik hal yang luput dari perhatian.

    Oya, bagian bawah artikel, saya bilang, naif, bila menyalahkan anak untuk menurunnya tingkat kebahagiaan dalam pernikahan.

    Btw, trims yaa sudah mengingatkan.

  3. Kadang sebagian orang berfikir.. bahwa anak tdk bs bertahan hidup tanpa orang tua. Tapi kalau saya pribadi sih merasa.. justru saya yg (mungk8n) tdk bs bertahan tanpa anak2 saya. Katanya orang tua adalah tempat anak 7ntuk bersandar. Benar sih. Tapi anak2 adalah penguat sehingga orang tua akan tetap kuat dijadikan tempat bersandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *