Pernikahan

Bahagiakan Juga Pasangan, Bukan (Sekedar) Diri Sendiri

Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia untuk selama-lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi.

Kutipan di atas saya ambil dari salah satu tulisan Mas Fahd Pahdepie karena saya sangat setuju dengan kalimatnya. Pernikahan itu bukan bertujuan untuk membahagiakan diri sendiri. Karena kita semua sudah tahu bahwa membahagiakan diri sendiri seringkali hanya berefek sesaat. Tapi jika ingin bahagia itu berlanjut seterusnya, maka bahagiakanlah orang lain juga. Dalam hal pernikahan, tentu saja membahagiakan pasangan.
via https://pixabay.com/id/pernikahan-cincin-kawin-322034/
Jika pernikahan terjadi dari dua orang, maka butuh kerja sama untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Kerja sama dari dua belah pihak untuk sama-sama berusaha membuat pasangannya bahagia. Dengan cara apa, memperbaiki diri misalnya. Sering kita menuntut banyak hal dari pasangan, lantas sudahkah kita menjadi pribadi yang layak untuk menuntut? Dalam artian, sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari pasangan?

Cara lainnya, suami istri juga harus saling membantu dalam urusan anak. Tidak bisa hanya seorang istri saja yang disibukkan dengan segala urusan anak. Suami bukan hanya bertugas memberi nafkah dengan membeli perlengkapan bayi dan sepatu anak, lantas lepas tanggung jawab begitu saja urusan anak dan menyerahkan semua pada istrinya.

Ya, pernikahan tidak bisa terjadi jika hanya satu pihak yang berusaha, karena hal ini bisa saja menjadi bom waktu yang menekan. Suatu saat, pasangan akan menuntut balik kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukannya. Bisa saja pasangan akan merasa bosan karena merasa hanya berusaha sendiri.

Bahagiakan juga pasangan, bukan (sekedar) diri sendiri

Istri yang menuntut suaminya untuk memperhatikannya, sudahkah sang istri memperhatikan suami? Istri yang mengeluhkan sikap acuh suaminya, sudahkah dibicarakan pada suaminya? Maka hal ini kembali lagi pada komunikasi. Saat pernikahan sah, maka jangan lagi kita menyembunyikan segala sesuatunya sendiri. Saat ini kita sudah punya sahabat. Ya, anggap pasangan kita adalah sahabat. Seorang sahabat yang baik tentu saja akan selalu mendengarkan keluh kesah sahabatnya. Apa yang dirasa mengganjal, maka dibicarakan baik-baik dan jadi bahan introspeksi bersama.

Baca: Sahabat Terbaik adalah Pasangan Sendiri

Ada juga suami yang merasa karena posisi dirinya ialah seorang imam, pemimpin, lantas membuatnya merasa memiliki kuasa untuk (hanya) mengatur istrinya. Tapi ketika istrinya meminta perubahan juga bisa terjadi padanya, suami menggunakan ‘kekuasaannya’ untuk berkilah, “aku kan suamimu, kamu yang lebih pantas menuruti perintahku.” Well, ya suami memang pemimpin dan sudah kodratnya istri harus patuh pada suami. Tapi suami juga harus ingat, bahwa pernikahan bukanlah atasan dan bawahan, melainkan partner, rekan, teman, dan pendamping seumur hidup.

Ini sama saja ketika kita belajar tentang ilmu personality. Kita belajar tentang kepribadian, bukan untuk ‘memenangkan’ diri sendiri kemudian menyalahkan pasangan, tetapi untuk saling belajar memahami kepribadian masing-masing dan menerima segala kekurangannya.

Maka kembali lagi, tentang posisi suami atau istri, ilmu tentang kepribadian, itu semua digunakan untuk saling memahami dan saling introspeksi. Artinya bukan hanya satu pihak yang berusaha berubah menjadi lebih baik, melainkan dua pihaklah. Karena toh pernikahan sendiri terjadi dari dua orang kan. Jadi, kalau mau bahagia seterusnya, ya bahagiakan juga pasangan. Bukan hanya untuk (kepentingan) diri sendiri 😊

#selfreminder

4 thoughts on “Bahagiakan Juga Pasangan, Bukan (Sekedar) Diri Sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *