Pernikahan

Baper atau Iri dengan Suami Orang Lain? Oh No!

Baper atau iri dengan suami orang lain? Oh no! Naudzubillah. Jangan sampai deh. Dan jujur, memang sampai sekarang saya belum pernah yang namanya merasa iri dengan suami orang lain. Apa ya, kayaknya nggak ada yang perlu diiriin. Buat saya, suami udah banyak banget kelebihannya. Sudah jadi figur suami dan ayah yang baik dan bisa membimbing. Anak yang penurut dengan orang tuanya. Dan nggak segan untuk selalu bantuin istrinya.

via Pixabay

Baca: Seberapa Manja Sih Kamu dengan Pasanganmu?

Kalau boleh jujur, dari dulu saya kagum sama suamipun karena merasa bahwa beliau punya banyak kelebihan hehe. Justru sayanya yang sampai sekarang selalu merasa apakah saya sudah pantas menjadi istrinya? Hanya beliau dan Allah yang bisa menjawab :)) Suami tipe yang sangat peka. Sering tanpa ngomong, suami udah ngerti maksud saya. Waktu saya hamil Emir, beliau jarang menuntut saya macam-macam. Yang penting saya mau makan (karena waktu itu mual berat). Beliau berharap anak laki-laki, tapi beliau selalu bilang “laki-laki atau pun perempuan sama saja.” Padahal kalau dilihat dari mitos ciri ciri hamil dari lactamil saya hamil anak perempuan. Tapi ya qadarullah, ternyata anak saya laki-laki 🙂

Makanya yang terjadi pada saya justru kebalikannya. Seringkali saya bersyukur diberi suami seperti sekarang. Karena berdasarkan cerita-cerita yang masuk ke mata dan telinga saya justru cerita-cerita yang kurang mengenakkan tentang suami mereka. Mungkin ini yang namanya pelajaran jangan melihat rumput tetangga.

He is not perfect too 🙂

Lantas apa suami saya nggak punya kekurangan sama sekali? Ya mustahil. Biar bagaimana, suami saya tetaplah manusia biasa yang pasti punya kekurangan. Tapi satu dua kekurangan rasanya wajar. Toh semua manusia juga pasti punya kekurangan. Tinggal kembali lagi ke kitanya, apakah kita bisa mengimbangi kekurangan itu dengan kelebihan kita atau tidak? Apakah kita mau melihat kelebihan lainnya dibanding kekurangannya atau tidak?

Saya juga pernah kok mengeluh. Tapi saya selalu mengusahakan kalau keluhan itu saya sampaikan langsung pada suami dulu. Dengan kata lain, saya diskusi dengan beliau. Kalau ada hal-hal yang sekiranya kurang enak, langsung saya sampaikan pada suami. Tentu saja pas suasana hatinya lagi enak. Dan saya selalu menghindari untuk membuka aib suami di depan orang lain. Karena suami istri pakaian yang saling melengkapi kan. Suami menutup aib istrinya, pun istri juga harus menutup aib suaminya.

Baca: Jangan Bandingkan Rumah Tangga Kita dengan Rumah Tangga Orang Lain

Yah, intinya menghindari saja perkataan-perkataan yang kurang baik. Suami kita punya kelebihan juga pasti punya kekurangan. Kita pun sama. Jadi memang tidak ada yang perlu dibaperi atau merasa iri dengan suami orang lain. Karena percayalah, seringkali apa yang nampak di mata kita, tidak seindah dibalik mata kita. Karena kita tidak pernah tahu masalah-masalah apa saja yang sudah dilewati oleh orang lain 🙂

9 thoughts on “Baper atau Iri dengan Suami Orang Lain? Oh No!

  1. Karena kalau membandingkan malah yang ada bakalan sedih yah, semua manusia ada kekurangan dan kelebihan sendiri, alhamdulillah saya juga merasa bahagia dan bersukur sekali dianugerahi suami yang baik sama Allah Swt

  2. dampak dari socmed juga mungkin mak.. banyak yg explore kehidupan terlalu pribadi bareng suami yg me micu kebaperan dan membandingkan dg rumah tangga yg lain ya mak?
    hmm.. bener kata pepatah.. rumput tetangga mah ijo mulu.. tapi alangkah baiknya ketika menyikapinya dg selalu merasa bersyukur..
    #heladalah jadi panjang hihihi..

  3. Yup, Mbak. Saya pun bersyukur diberikan suami yang seperti suami saya ini. Meski masih ada kekurangannya (karena ekspektasi saya terhadap rata-rata suami), gimana pun juga suami saya nggak pernah marah dan nggak menuntut. Apalagi saya nggak pinter masak, alhamdulillaah banget nggak pernah dimarahi karena nggak bisa masak variasi di rumah. :))

    Intinya tetap bersyukur ya, Mbak.

  4. Iya ya mba. Nggak ada gunanya juga kita membanding-bandingkan suami kita dengan suami orang lain. Rasanya seperti nggak bersyukur aja. Padahal dulu sebelum memutuskan untuk menikah kan, kita lho yang mengambil keputusan. Walaupun misalnya dijodohkan, kita lho yang manut, entah dalam kondisi apapun itu. Karena bahagia itu kita yang tentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *