Bincang Keluarga, Pernikahan

Bermain Gadget di Dekat Pasangan

Jadi postingan ini harusnya diposting minggu lalu. Tapi ternyata Mbak Rosa melahirkan 😍 Whua selamat ya Mbak 😍

Minggu lalu (berarti minggu sebelum Mbak Rosa melahirkan) saat saya mau nanya ke Mbak Rosa gimana kelanjutan tema #BincangKeluarga, beliau langsung balas gini (kurang lebih), “Nanti ya De, lagi ada suamiku nih. Dia bisa ngambek kalo aku main hape, hihi.”

Saya jadi ingat satu nasihat dalam buku pernikahan yang pernah saya baca, yakni tentang “tidak bermain gadget di dekat pasangan.” Maksudnya supaya masing-masing tidak sibuk sendiri dengan gadgetnya dan bisa menciptakan quality time bersama pasangan dengan baik. Toh siapa juga sih yang nggak bakal jengkel lihat orang di dekatnya sibuk dengan gadgetnya sendiri, sementara kita yang ada di dekatnya merasa diabaikan atau tidak dianggap. Kayaknya semua orang pasti jengkel ya.

Baca punya Mbak Rosa:
Begitu pun saya. Makanya sejak awal nikah, saya bikin kesepakatan dengan suami supaya kita tidak saling bermain gadget saat lagi berdekatan. Kami tahu bahwa gadget itu bisa jadi candu. Makanya kami tidak mau candu itu bisa merusak quality time baik kami. Suami sudah kerja dari pagi sampai sore. Meskipun beliau kerja di rumah, tetap saja kami harus menciptakan waktu untuk ngobrol walaupun sekedar obrolan ringan. 
Lalu apa artinya saya dan suami tidak pernah bermain gadget saat berdekatan? Tidak juga. Lebih tepatnya bukan bermain, tapi ada kalanya gadget itu digunakan saat kami memang perlu. Saya tahu suami pekerjaannya kadang tidak menentu, bisa jadi saat lagi asyik-asyik ngobrol dihubungi klien. Atau suami tahu kalau saya kadang dapat job ngeblog atau buzzer dan waktunya misalnya mepet, maka mau tidak mau saya pegang gadget depan beliau. Intinya ya bijak saja. Yang jelas kami berusaha untuk tidak bermain-main atau membuka media sosial atau melakukan hal yang kurang penting saat lagi berdekatan. 
Pernah ada kejadian lucu. Saya kelepasan buka media sosial di dekat suami, akhirnya suami pun pegang gadgetnya depan saya. Pas saya cemberut, suami nyeletuk, “kan Ade juga main gadget.” Akhirnya kami langsung sama-sama naruh gadget. 
Jadi ada untungnya juga dibuat kesepakatan dari awal seperti ini. Kami sudah punya kesadaran sendiri dan sudah paham apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Kalau memang perlu dan urusannya urgent, gadget boleh digunakan saat berdekatan. Kalau salah satu hanya bermain-main saja, berarti yang lain juga boleh. Kalau salah satu sudah mulai kelepasan, yang lain harus mengingatkan. Kalau salah satu sudah naruh gadgetnya, berarti saatnya quality time diciptakan 🙂 Begitulah.
Perkara gadget ini mungkin kelihatan sepele. Tapi percaya atau tidak, konon pasangan yang saling sibuk dengan gadgetnya sendiri, seringkali karena keduanya bermasalah. Bisa jadi keduanya merasa tidak puas dengan pasangannya. Entah pasangannya ada rasa tidak suka, terlalu sibuk, terlalu menyukai hobinya,  atau yang lain, sehingga mengabaikan pasangannya. Bukan hanya keduanya, tapi saya juga sering mendengar cerita bahwa suami atau istri akan kesal jika pasangannya sibuk sendiri dengan gadgetnya.
Maka di sinilah pentingnya diskusi soal bermain gadget. Bahkan bila perlu dibuat kesepakatan agar suami istri bisa memahami apa yang harus mereka lakukan dan bisa menciptakan quality time yang baik. Jangan sampai gadget menjadi candu dan pelampiasan karena ketidakpuasan dengan pasangan hingga mengabaikannya. Naudzubillah. Sebab biar bagaimana pun, quality time yang baik harus diciptakan agar cinta dalam rumah tangga bisa terus tumbuh 🙂

Gadget rusak/hilang masih bisa dibeli. Tapi hubungan baik tidak bisa dibeli 🙂

4 thoughts on “Bermain Gadget di Dekat Pasangan

  1. Kadang saya ma suami bahkan ma anak-anak kalau lagi berdekatan pun suka pada pegang gadget. Tapi tetep aja mulut ngobrol dengan berbagai topik. Udah gitu nyambung pula hehehe.

    Tapi dilihat topiknya juga, sih. Kalau memang penting banget bahasannya, gadget harus diletakkan dulu. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *