Cerita Bunda, Parenting

Ketika Diri Merasa Gagal Menjadi Ibu. Gagal Menurut Siapa?

gagal menjadi ibu

Ada hal yang paling membuat saya sedih ketika menjadi seorang ibu. Ketika saya merasa diri GAGAL menjadi ibu. Tapi tidak, ternyata ada yang lebih sedih lagi. Yakni ketika saya tahu atau saya melihat seorang teman merasa dirinya GAGAL menjadi ibu.

Sampai sini saya jadi berpikir, GAGAL ini apa sih? Gagal menurut siapa? Mengapa kita merasa gagal? Apakah ada ibu yang sempurna, sementara ibu adalah seorang manusia yang punya keterbatasan. Yang hakikatnya juga tidak sempurna?

Ketika merasa gagal menjadi ibu

Saya jadi ingat video Gita Savitri yang juga tidak jauh bicara tentang gagal. Gagal itu sebetulnya tentang perspektif kita sendiri. Dan betul sih, kalau mau diakui, memangnya siapa sih yang bilang kita gagal? Orang kebanyakan ‘hanya menyebutkan satu kesalahan kita’ tapi mereka tidak mengecap kita gagal secara keseluruhan.

Sayangnya, kita juga hidup di lingkungan yang punya banyak value. Standar dan teori yang terlalu banyak. Yang akhirnya membuat kita merasa gagal ketika ada satu dua yang tidak bisa kita ikuti. Ya, hanya satu dua, tapi kita sudah merasa diri jatuh bahkan terpuruk.

Ketika saat hamil kita lemah, kita merasa gagal karena tidak bisa layaknya ibu lain yang masih kuat untuk melakukan apapun.

Ketika kita berharap melahirkan secara pervaginam, tapi dokter berkata itu terlalu beresiko. Dan akhirnya kita merasa gagal karena ‘tidak bisa menjadi ibu normal’.

Ketika bayi sulit menyusu atau ASI belum keluar, kita merasa gagal karena kenapa “Aku tidak bisa seperti yang lain, yang begitu mudah menyusui?”.

Ketika melihat anak lain perkembangannya lebih cepat, kita merasa gagal karena diri ini merasa tak mampu ‘membuat anak berkembang dengan cepat.”

Apalagi? Kalau mau diteruskan bisa habis tulisan ini hanya untuk daftar kegagalan.

Kegagalan-kegagalan yang sebetulnya ditimbulkan oleh diri kita sendiri. Oleh sikap tidak merasa aman karena melihat ibu-ibu lain ‘lebih mampu’.

Gagal menurut siapa?

Sayangnya lagi, di saat kita merasa sedang gagal, ada saja omongan-omongan negatif dari luar. Rasanya mungkin ingin berteriak, “Aku sudah tahu diriku salah! Tak perlu ingatkan lagi kesalahan itu! Aku muak!

via GIPHY

Baca: Karena Bagi Seorang Ibu Anak adalah Anugerahnya

Ingin rasanya menenggelamkan diri entah di mana. Sejenak menjauh dari semua orang untuk berdiam diri.

“Aku sayang pada anakku, ya Allah. Sungguh sayang. Kau tahu aku sudah berusaha, bukan? Bantu aku, ya Allah.”

Gagal. Gagal itu ternyata timbul ketika kita tidak bisa memenuhi ‘ekspektasi’ orang lain. Ketika kita tidak bisa mengikuti teori pakar A. Ketika kita sudah berusaha sekeras mungkin untuk menuruti kata pakar B. Nyatanya, kita bukanlah ibu yang sempurna. Kita pun tak mungkin memaksa anak kita.

Sedemikian keras kita berusaha, yang ada justru kenyataan menjadi berbalik.

Ibu, kitalah sebenar-benar ibu untuk anak kita

Ibu, Bunda, Mami, Mama, Umi, apapun sebutan itu. Kita tetaplah seorang ibu. Kitalah yang menjadi ibu kandung dari anak-anak kita. Kitalah yang hamil dan melahirkan mereka.

Ketika Allah menitipkan seorang makhluk mungil pada kita, di saat itu pula Allah sudah siapkan kita untuk punya intuisi menjadi seorang ibu. Itu ada, dan tak terbantahkan.

Baca: Karena Semua Ibu adalah yang Terbaik

Apapun kata orang di luar sana, mereka tak ada yang punya intuisi sekuat kita. Kitalah yang sesungguhnya tahu sebenar-benar anak kita.

Beristirahatlah sejenak. Lepas semua gadget. Tinggalkan semua media sosial dan berita apapun. Masuk rumah. Dan tatap lekat anak-anak kita.

Bangunlah intuisi kita sendiri. Dengarkan hati kita. Dengarkan suaranya yang jernih dan tak pernah berbohong.

Lihat mata anak-anak kita. Di sana terletak kejujuran. Bahwa kitalah “ibu mereka yang sebenar-benar menjadi ibunya.”

Tidak ada yang mampu mengecap kita gagal. Tidak seorang pun bahkan mungkin pasangan kita sendiri. Mereka di luar sana hanya tahu apa yang terlihat. Mereka hanya tahu sebatas teori. Mereka hanya bisa berkata A meski kenyataannya tidak A. Yang tahu diri kita hanyalah kita sendiri. Yang tahu bagaimana anak kita juga kita sendiri sebagai ibunya.

Gagal menurut manusia, tidak sama dengan apa yang ada di mata Allah. Allah tahu bahwa kita masih berjuang untuk mengurus  dan mendidik anak-anak kita dengan baik. Allah yang menilai. Dan Dia tak pernah tidur layaknya manusia.

Tagged , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.