Pernikahan

Apa yang Membuat Saya Nyaman untuk Ikut Suami?

Postingan ini ketrigger sama postingan Mbak Ikka yang lagi cerita soal LDR. Saya sudah komen di sana sih, cuma kok kayaknya jadi pengen ikutan nulis juga 😁 Bukan tentang LDR. Tapi tentang pertanyaan di akhir postingan Mbak Ikka yang bertanya, bagaimana cara para istri nyaman untuk ikut bersama suami.

Sebelumnya, saya bisa merasakan bagaimana kegalauan Mbak Ikka yang sebelumnya belum pernah LDR. Saya sendiri pernah LDR, tapi cuma 2 minggu aja. Karena waktu itu lagi pulang ke Bekasi, dan suami harus balik ke Surabaya karena kerjaannya memang tidak bisa ditinggal.

Ya bisa dibilang agak merana sih. Karena memang saya kan tidak pernah berjauhan sebelumnya. Cuma karena sebentar, dan posisinya saya sama orang tua, jadi nggak begitu terasa. Mungkin beda kondisinya jika LDR itu dalam jangka waktu yang lama. Entah apa jadinya saya 😄 Makanya saya salut dengan para istri dan suami yang tetap strong dan setia selama berjauhan. Applause 👏

Bagaimana cara saya tetap nyaman untuk ikut suami?

Oke, balik lagi ke pertanyaan awal. Bagaimana cara saya tetap nyaman untuk ikut suami?

Bisa saja kan saya lebih memilih di Bekasi bersama orang tua. Toh saya sudah hidup di sana sejak lahir. Pun dengan adanya orang tua, pasti saya tidak merasa kesepian. Apalagi adik, kakak-kakak, dan teman-teman saya semuanya ada di Bekasi. Tapi apa yang akhirnya membuat saya tetap memilih ikut suami ke Surabaya? ‘Terlempar jauh’ ke tempat yang belum pernah saya singgahi sebelumnya?

Pertama, sejak awal diajak nikah suami, saya paham konsekuensinya bahwa saya PASTI akan dibawa ke Surabaya. Sebab beliau memang kerja di sini. Jadi awal nikah pun saya sama sekali tidak merasa berat. Malah bisa dibilang senang karena belum pernah ke Surabaya wkwk.

Kedua, sejak single saya bertekad ingin ikut suami kemana pun pergi. Jadi even dulu saya dapat suami yang berpindah-pindah kerja, saya lebih memilih ikut kemana pun suami ditempatkan. Buat saya rasanya lebih tenang aja. Dan saya selalu merasa bahwa tidak ada satu hal pun yang mengalahkan sentuhan langsung. Telepon, chat, video call, rasanya tidak ada yang mampu menggantikan sentuhan secara langsung.

Ketiga, bohong kalau saya tidak pernah sedih karena jauh dari orang tua dan keluarga di Bekasi hehe. Saya sudah pernah cerita waktu itu, Sedih dan Hikmahnya Menjadi Perantau Setelah Menikah. Tapi apa yang membuat saya tetap kuat memilih ikut suami? Ya karena suami saya itu sendirilah jawabannya.

Karena saya menjadi lebih baik di samping suami

Saya tidak akan kuat kalau bukan suami orangnya. Saya tidak akan kuat kalau suami sama lemahnya seperti saya. Saya tidak akan kuat kalau suami mengabaikan saya. Dan faktanya, beliau adalah seorang suami yang mampu menjadikan saya sebagai Ade yang lebih baik. Maka dari itulah, kenyamanan itu tercipta.

Sejak awal nikah, orang tua saya percaya untuk ‘menjatuhkan’ saya di tangan suami. Dan memang benar adanya. Di Surabaya, saya justru menjadi manusia yang lebih terdidik. Dengan segala ajaran suami, sikap ‘tegaan’ suami dalam mendidik saya, tegasnya beliau saat mengajarkan saya, sabarnya beliau dengan sifat keras kepala saya, justru mampu membuat saya perlahan berubah ke arah yang lebih baik.

Kalau saya di Bekasi, saya tidak yakin saya akan jadi sama baiknya seperti sekarang. Bisa jadi sifat-sifat buruk saya tidak hilang. Kalau kata suami, bisa-bisa malah tambah parah haha.

Power dan visi hidup dari suami sebagai pemimpin rumah tangga

Jadi poinnya apa? Kenyamanan itu tidak instan tercipta begitu saja. Saya merasa di sini justru POWER suamilah yang terpenting. Suami yang tahu arah tujuan hidupnya, akan lebih mudah membawa istri dan anak-anaknya ke arah yang lebih baik. Dengan tahu visi hidup, suami jadi tahu apa yang harus dia lakukan untuk mencapai visi tersebut. Tentu saja di sini juga dibutuhkan kesadaran bahwa visinya harus cocok dalam lingkup keluarganya. Bukan hanya sekadar pribadinya.

Dengan tahu visi hidup, dia tahu keluarganya akan dibawa ke mana. Istrinya harus bagaimana. Anak-anaknya akan menjadi apa. Maksudnya bukan dalam rangka mengubah apalagi memaksa, tapi justru membawa istri dan anak-anaknya ke tujuan yang lebih besar dan lebih baik.

Kalau suami tahu visinya, dia juga tahu harus bersikap seperti apa. Misalnya saya dan suami di sini contohnya. Suami tahu visinya ingin membangun peradaban dengan cara mendirikan pondok untuk pendidikan di negeri ini yang lebih baik. Maka beliau tidak mungkin menyakiti istri dan anak-anaknya. Kalau istri dan anak-anaknya tersakiti, dirinya yang akan malu pada banyak orang. Tujuannya tidak akan tercapai sebab dia sedang ‘menghancurkan’ visinya sendiri dengan sikapnya yang buruk.

Ya, dengan kata lain, suami juga harus sadar bahwa dia harus menjadi orang yang lebih baik dari istrinya.

Suami peran utama, istrilah pendukungnya

Selain visi, juga butuh ketegasan dari suami. Seberapa kuat suami ingin mencapai visi hidupnya. Apakah visi itu hanya sebatas angan belaka, atau memang ditunjukkan dengan sikap yang nyata. Kalau sedari awal tidak ada ketegasan atau dilakukan setengah-setengah, ya tujuannya tidak akan tercapai. Bisa-bisa malah hanya jadi omong kosong. Bisa jadi, apapun yang dikatakan dan dilakukan istri dan anak-anaknya, tidak dia pedulikan.

Maka berbeda jika suami punya ketegasan. Dia tahu sikap dan sifat apa yang perlu dipertahankan, dan mana yang perlu diubah dari dirinya dan keluarganya.

Yes, kesimpulannya, di sini suami punya peran utama. Sebab dialah pemimpin rumah tangga. Yang seharusnya berhak mengatur dan mengarahkan ke mana kapal rumah tangga akan dibawa.

Baru selanjutnya dibutuhkan peran istri. Seberapa besar dukungan istri untuk bersama mewujudkan visi suami dan keluarga. Ya salah satunya dengan tetap mendampingi suami dan menurut sepanjang apa yang dikatakan suami itu mengandung kebaikan. Karena yakinlah, setelah menikah, ridho suami itu menjadi kunci ketenangan hidup istri.

Memang tidak mudah untuk nurut suami secara saklek. Satu dua kali istri pasti akan berbeda pendapat dengan suami. Tapi yang terpenting, selama suami dan istri sama-sama ingat visi keluarga, perbedaan pendapat itu tidak akan jadi halangan besar. Dan bisa dimaklumi. Karena suami istri paham bahwa keduanya harus saling membantu dan berubah menjadi lebih baik.

Karena ada yang percaya bahwa saya bisa menjadi lebih baik

So, apa yang membuat saya nyaman untuk tinggal dengan suami? Karena akhirnya saya belajar arti hidup itu apa. Hidup ini harus bagaimana. Mana sikap-sikap yang seharusnya saya pertahankan dan perlu saya ubah.

Yang ke dua, adalah kenyamanan dekat dengan suami itu sendiri. Selama masa pencarian hidup, dengan adanya pendamping, justru lebih memudahkan saya. Karena ada suami yang mendukung saya.

Dan yang paling utama adalah, ada yang percaya bahwa saya ini bisa menjadi seorang Ade yang akan jadi lebih baik 😊 Ya, kita pasti akan jadi merasa lebih hidup manakala kita masih punya motivasi. Dan motivasi dari orang terdekat itulah yang terpenting 😊

Tagged , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Apa yang Membuat Saya Nyaman untuk Ikut Suami?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.