ODOP ISB, Pernikahan

Ilmu Membuat Saya Lebih Paham Berumah Tangga

Saat umur 20 tahun timbul keinginan menikah, saya mulai membaca banyak buku tentang jodoh dan pernikahan. Dari mulai masa-masa memantaskan diri agar mendapat jodoh yang baik, bagaimana cara menempuh pernikahan dengan jalan yang diberkahi Allah, sampai masuk ke kehidupan pernikahan. Bukannya takut setelah membaca lika-liku rumah tangga, keinginan menikah muda itu justru menguat.

Tekad untuk menuntut ilmu tentang pernikahan menguat

Bahkan tahun 2014, saya memberanikan diri untuk ikut sebuah seminar jodoh yang cukup mahal bagi saya kala itu. Tapi niat untuk memantaskan diri memang kuat, jadi saya tekadkan untuk ikut. Saya yakin di seminar itu akan dapat masukkan banyak hal tentang pernikahan.

Benar saja, 9 pengisi acara, membuat saya terkagum-kagum dan tercerahkan. Saya pernah menulis hasil seminarnya di blog Sohibunnisa di postingan Share Seminar @JodohImpian.

Hal yang paling terasa dari seminar itu adalah, saya tidak lagi tergesa-gesa untuk menikah. Sebab menikah memang butuh persiapan. Jika semuanya sudah kita ketahui saat masih single, niscaya kita akan lebih siap. Misalnya, saya itu orangnya bagaimana sih? Saya mau menikah dengan pasangan yang bagaimana? Apa niat dan tujuan pernikahan saya? Ilmu apa saja yang sudah saya ketahui untuk berumah tangga? Kalau ini semua sudah kita pelajari, insya Allah kita lebih siap menikah.

Dan tahun 2015, bulan Juli, Allah benar-benar menjawab niat saya. Suami tiba-tiba datang dan berniat melamar saya, akhirnya tanggal 22 Juli 2015, kami resmi menikah. Semua bekal yang sudah saya baca dan seminar-seminar jodoh yang saya ikuti, benar-benar saya rasakan manfaatnya setelah menikah.

Saat sudah tahu ilmunya, lebih bisa menghadapi masalah

Saya tahu bahwa bahasa cinta itu ada 5. Sehingga saya bisa membaca apa bahasa cinta suami, dan bagaimana cara saya menyesuaikan. Saya tahu apa yang boleh dan tidak dilakukan saat berumah tangga. Sampai saya tahu bahwa pernikahan itu adalah fase hidup yang paling sakral dan tidak main-main. Karenanya, niat mempertahankan rumah tangga itu sangat kuat. Sehingga saya lebih kuat menghadapi masalah apapun.

Itulah pentingnya menuntut ilmu. Kalau dulu keinginan menikah tidak dibarengi ilmu, mungkin akan banyak hal yang membuat saya terkejut. Bisa-bisa saya juga tidak tahu bahwa pernikahan itu selalu memiliki masalah. Untungnya karena saya sudah dapat gambaran dari buku-buku dan seminar, saya tahu bahwa rumah tangga itu tidak akan selalu bahagia. Pasang surut dalam rumah tangga itu hal yang wajar. Saya juga jadi tahu bagaimana cara menghadapi masalah-masalah yang ada. Lagi-lagi semua karena ilmu-ilmu yang pernah pelajari.

Dalam pernikahan misalnya, saya dan suami akan belajar mengalah. Bila saya emosi, suami mengalah. Bila suami emosi, saya yang mengalah.

Semakin lama menikah, kami juga semakin tahu bahasa cinta masing-masing. Bahasa cinta saya quality time, jadi saya suka sekali menghabiskan waktu bersama suami. Sedangkan suami bahasa cintanya sentuhan, maka beliau suka sekali dipeluk, dipijit.

Saya dan suami juga terus mengupgrade diri demi menyenangkan pasangan. Kami sama-sama mau berubah ke arah yang lebih baik dalam hal apapun. Saya yang mau belajar lebih sabar, suami yang mau belajar lebih mendengarkan. Bahkan hingga urusan ranjang pun kami komunikasikan agar rumah tangga menjadi lebih sejuk.

Ilmu membuat saya paham bahwa rumah tangga itu penuh lika-liku

Jadi saya yakin, ilmu itu akan selalu kekal dalam kehidupan. Apa yang pernah saya baca, dengarkan, dan saya catat, ternyata memang berguna di masa saya sudah betul-betul berumah tangga. Saya tidak lagi terkejut, sebab apa-apa yang saya alami, memang hal yang lumrah terjadi di rumah tangga. Gesekan-gesekan dengan pasangan, keluarga, itu memang sudah sunnatullahnya menjadi lika-liku rumah tangga.

Yang sangat saya syukuri adalah, semua ilmu itu membuat saya tidak mudah menyerah. Sebab saya tahu, selama saya dan pasangan masih kompak, maka pernikahan akan terus bertahan. Dan kekompakan itu harus terus dijalin dengan kata saling. Saling mau berbenah, saling menghargai, saling menghormati, dan saling berpikir positif. Sebab seperti kata buku Menikah untuk Bahagia, bahwa pernikahan itu its take to two tango. Dan ujungnya, harapan saya dan suami dengan saling ini, kami bisa berkumpul lagi sekeluarga di jannah-Nya kelak. Aamiiin 🙂

So, jangan berhenti untuk terus mengupgrade diri. Ilmu itu akan selalu terpakai selama kita hidup. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti 🙂

Tagged , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.