Cerita Bunda, Parenting, Untitled

#IloveMyImperfections, Karena Semua Ibu adalah yang Terbaik

Punya anak usia dua dan satu tahun bikin saya makin percaya bahwa saya bukan orang tua yang sempurna. Mungkin memang tidak ada orang tua sempurna itu. Toh semua manusia memang punya kekurangan, kan? Ketika waktu berjalan dan kondisi berbicara, rasanya saya harus bisa berdamai dengan ekspektasi-ekspektasi yang tak sejalan dengan teori-teori parenting.

Tidak, saya sama sekali tidak sedang menyalahkan teori parenting. Karena toh semua teori itu sama bagusnya. Sama baiknya. Tapi untuk bisa sempurna menjadi apa yang tertulis dalam teori rasanya impossible.

Pakar, psikolog, atau orang tua yang suka berbagi cara pengasuhannya mungkin bisa berbicara apa yang mereka ketahui. Tapi pada akhirnya kita jualah yang mengalami kondisi secara nyatanya. Kita yang tahu mana yang pas untuk dipraktekkan, dan mana yang harus ditunda karena kita tidak bisa memaksakan anak untuk selalu menjadi apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan kita yang tidak sempurna saat menjadi orang tua.

Berhenti menjadi sempurna

Itu sebabnya saya sudah lelah untuk memasang harapan kelewat tinggi. Karena kenyataan sering tak sejalan dengan harapan. Saya lelah berdebat dengan orang terdekat hanya karena mereka menentang teori yang sudah saya baca. Saya juga lelah melihat orang tua lain selalu berbagi perkembangan dan aktivitas anak-anaknya yang menurut saya ‘sempurna’.

Karena sekali lagi, hanya saya yang paham kondisi anak-anak saya. Hanya saya yang paham bagaimana kondisi psikologis saya. Dan hanya saya yang paham kondisi di rumah saya. Ya, semuanya berbeda dengan yang ada di luar sana.

So, saya memutuskan untuk berhenti menjadi sempurna. Bukan karena saya sudah tidak lagi percaya pada teori dan penampilan-penampilan indah di sana. Tapi karena saya harus menjadi diri saya sendiri. Biar bagaimana pun orang pertama yang harus saya ‘selamatkan’ adalah diri sendiri. Sayalah yang harus mampu membahagiakan diri sendiri. Kalau saya saja tidak bahagia, bagaimana saya bisa menjadi ibu bagi anak-anak saya?

#5MenitAja untuk hening dan mengadu

Saya punya banyak cara untuk menyelamatkan dan membahagiakan diri ini. Dalam #5MenitAja saya hanya butuh diam. Tidak melakukan apapun. Mengistirahatkan pikiran barang sejenak. Merasakan keluar masuknya nafas secara sadar. Saya hanya butuh tenang.

Biasanya waktu sholat juga bisa menenangkan hati saya. Mengistirahatkan diri dari aktivitas anak dan rumah tangga. Setelahnya saya bisa mengadu puas pada Yang Maha Kuasa.

Atau saya cukup meminta suami untuk sejenak mendengarkan keluh kesah saya. Tanpa solusi. Karena seringkali saya hanya butuh didengarkan.

Buku menyembuhkan saya dari kejenuhan

Saat ini saya juga makin gandrung dengan baca buku. Rasanya kalau nggak baca buku sehari aja kayak ada yang kurang. Selain memang suka buku dari dulu, saya juga merasa buku itu obat paling ampuh buat ngatasin kejenuhan.

Tentu saja bukan melulu buku-buku parenting atau buku anak. Saya bisa baca segala genre buku. Novel fiksi, non fiksi, bahkan tabloid, majalah ,Β dan novel-novel remaja pun bisa aja saya baca. Buku itu tanpa batasan. Kita bisa pilih buku apa aja yang kita inginkan. Selera tentu berbicara. Walaupun kita pasti punya buku yang kita butuhkan, tetap saja kita butuh baca buku yang semata bisa jadi hiburan.

Terlebih sebagai ibu rumah tangga yang dunianya hanya rumah dan anak saja. Jelas buku yang beragam bikin pikiran saya lebih berkembang dan nggak stuck di situ-situ aja. Buku ngasih saya insight yang banyak tentang dunia. Sekalipun itu novel, tapi suka ada beberapa pesan tersirat di dalamnya. Dan yang pasti sih bikin kosakata dan pengetahuan saya nambah πŸ™‚

Jadi dalam #5MenitAja saya bisa isi dengan baca buku yang saya suka. Biasanya setelah itu jadi agak lebih fresh. Apalagi kalau yang dibaca novel hehe. Sejenak dibawa ke dunia lain dalam cerita πŸ™‚

#IloveMyImperfections. Kita semua adalah ibu yang terbaik

Well, saya ini tetap seorang ibu biasa. Tapi #IloveMyImperfections. Saya cinta pada ketidaksempurnaan diri saya. Saya bahagia bisa menjadi orang tua dari anak-anak saya. Bahagia bukan karena saya sempurna, tapi karena saya bisa bersyukur. Juga bukan bahagia karena anak-anak saya sudah tumbuh secara ideal seperti anak lain. Tapi karena mereka bisa bertumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri. Ya, mereka punya keistimewaannya sendiri.

Saya yakin, setiap ibu, setiap orang tua, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tapi bagaimana kita bisa mencintai ketidak sempurnaan kita dengan cara bersyukur, itulah yang menjadi tugas besar kita. Karena sejatinya, setiap anak dilahirkan dari seorang ibu yang terbaik. Tentu saja terbaik di mata Sang Maka Pencipta πŸ™‚

Kalau Bunda, bagaimana cara Bunda mencintai ketidak sempurnaan Bunda? Dan apa yang biasa dilakukan dalam waktu #5MenitAja? Sharing yuk. Siapa tahu cara Bunda juga bisa menjadi inspirasi bagi Bunda-bunda yang lain πŸ™‚

Tagged , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

6 thoughts on “#IloveMyImperfections, Karena Semua Ibu adalah yang Terbaik

  1. Hallo mbak, makasih sharingnya, cukup menyuarakan hati saya. Jadi ibu membuat saya bisa berdamai dengan diri sendiri, lebih bisa mengelola emosi, dan lebih banyak mendengarkan. Sudah enggak jadi orang yang egois kayak waktu masih gadis, hehehe. Rasanya benar, baik orang tua dan anak, bisa sama-sama saling belajar. πŸ™‚

  2. Aku sudah meninggalkan banyak teori2 parenting sejak anak pertamaku umur 2 tahun mba. Nggak mau ketinggian ekspektasi. Buatku yang penting anak2 bahagia tapi tetap punya rasa tanggung jawab πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.