Parenting

Inner Child dan Memaafkan Orang Tua

inner child

Saya terharu banget sama tulisan Nahla tentang Orang Tua Kita Nggak Sempurna. Saya nggak bisa untuk tidak setuju lebih banyak. Tulisan Nahla benar-benar ngambil perspektif yang beda dari kasus motherhood dan inner child yang selama ini selalu digaung-gaungkan. “Kita boleh menjadi ibu yang tidak sempurna. Kita memang tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna.” Tapi untuk membalikkannya lagi pada orang tua, alias pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita pun TIDAK sempurna?

Isu inner child memang lagi gencar sekali. Tidak salah karena memang kesehatan mental itu penting. Membersihkan hal-hal yang negatif di masa lalu demi memperbaiki masa kini memang niscaya untuk dilakukan. Tapi jika kita hanya terus berusaha mengorek kesalahan orang tua di masa lalu, dan berdalih bahwa sulit memaafkan mereka, maka sudah adilkah diri kita?

via GIPHY

Menyadari inner child dengan merasakan “susahnya” menjadi orang tua

Sekarang kita jadi orang tua. Sudah merasakan sendiri bagaimana ‘susahnya’ jadi orang tua. Jam-jam istirahat kita terkuras karena ada bayi mungil di samping kita. Jam-jam santai kita menjadi berkurang karena segala tenaga rasanya dihabiskan untuk anak. Jam-jam belajar kita berkurang karena ada anak yang perlu dididik.

Dalam perjalanannya, bisa jadi emosi bergejolak tak menentu. “Ah kasih video ajalah biar diam. Ah belikan mainan aja biar aku bisa santai. Ah kerasin dikit nggak apa, habis anaknya susah makan. Ah mukul sekali nggak apa kan, anaknya nggak mau dibilangin.”

via GIPHY

Bisa jadi, begitulah yang terjadi pada orang tua kita dulu. Mereka tidak tahu atau mereka terpaksa “bersikap di luar batas” karena mereka sebetulnya lelah. Ditambah tidak adanya pelajaran menjadi orang tua, membuat orang tua kita “sebenar-benarnya berdiri sendiri”. Mereka tidak tahu bahwa menjadi orang tua harus A. Mereka tidak tahu bahwa orang tua seharusnya tidak melakukan B. Mereka belum bisa memilah mana yang baik untuk dilakukan dan tidak.

Itulah yang menjadikan diri kita sekarang. Dengan sebutan inner child, kita merasa orang tua keliru. Kita merasa marah karena kenapa orang tua melakukan itu. Kenapa orang tua tidak memperhatikan kita.

Itu semua terjadi karena ketidak tahuan orang tua kita. Jika pun mereka tahu, bisa jadi mereka ‘terpaksa’ melakukan itu karena sebetulnya mereka juga lelah dan memendam luka inner childnya di masa lalu. Ya, turun temurun ibarat rantai setan.

Segala teori saat ini seharusnya memudahkan kita

Kita bersyukur, di era sekarang segala informasi sudah berlimpah ruah. Bala bantuan kesehatan mental sudah mulai menjamur. Kita disuguhi dengan banyak sekali teori kesehatan fisik dan mental. Kita diberi banyak petunjuk bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.

Maka yang seharusnya kita lakukan, bukan lagi fokus pada masa lalu. Jika kita menyadari bahwa ‘luka’ saat ini disebabkan orang tua dulu, satu-satunya jalan adalah menemui orang tua kita sendiri. Pandang wajah tua mereka. Mereka salah di masa lalu, tapi mereka juga tidak berdaya kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahannya.

Kita di sini yang sudah ‘lebih pintar’, lebih punya daya untuk memperbaiki semuanya. Satu-satunya jalan adalah memaafkan. Tidak mudah. Tapi kita juga tidak bisa mengendalikan orang lain dan mengembalikan waktu. Jika kita merasa butuh bantuan, datanglah ke profesional. Dan selesaikan masalah yang mengganjal dalam diri kita.

via GIPHY

Sekarang yang kita punya hanya saat ini. Di samping kita ada anak. Dia masih suci, bersih. Segala warna yang melekat padanya adalah tanggung jawab kita sekarang. Apakah kita akan mengukir kebaikan dan memutus rantai setan masa lalu? Dan maukah kita memaafkan orang tua demi diri kita sendiri? Ya, bukan demi orang tua, bukan demi anak, tapi demi diri kita sendiri agar beban yang terasa berat di pundak menjadi hilang.

Tagged , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Inner Child dan Memaafkan Orang Tua

  1. Memaafkan orangtua saya rasakan membuat saya mudah menerima diri saya sendiri. Betul, tidak ada orangtua yang sempurna. Dan anak-anak umumnya pemaaf. Tulisan yang cakep, Mbak Ade. Thanks for sharing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.