Pernikahan, Untitled

Kita Tidak Sempurna, Maka Pasangan Kita juga Tidak Sempurna

“Jangan menyakiti hati seorang penulis. Atau kamu akan abadi dalam tulisan-tulisannya.” Mungkin ada yang familiar dengan kalimat itu? Saya tidak tahu siapa pencetusnya. Tapi barangkali kutipan itu ada benarnya. Bagi seorang penulis, apapun dan siapapun bisa menjadi bahan tulisan. Apalagi orang-orang terdekatnya. Sudah barang tentu jadi hal yang pasti ditulis.

Sebetulnya saya memang lagi mau ngomongin terkait penulis. Jadi saya lagi merasa agak miris dengan fenomena seorang penulis pria yang selalu menulis dengan gaya mendayu-dayu nan romantis untuk istrinya. Sebetulnya tidak ada yang salah. Hak dia mau menulis untuk istrinya maupun memujinya dimanapun. Tapi sayangnya malah banyak yang salah kaprah. Tidak sedikit komentar dari para perempuan yang mengaku iri pada istri si penulis. Alasannya ya karena iri dengan keromantisan si penulis pada istrinya. Bahkan yang lebih miris lagi, ada yang mengaku ia tidak pernah diromantisi suaminya dan berandai-andai ia menjadi istri dari si penulis. Whuaa sedih lihatnya 😭

Media sosial hanyalah tampak indahnya saja

Yakinkah bahwa si penulis ‘sesempurna’ apa yang ditulisnya? Yakinkah bahwa si penulis tidak memiliki celah apapun dan selalu menjadi suami yang siaga selama dua puluh empat jam? Yakinkah kalau si penulis benar-benar laki-laki yang sangat diidam-idamkan? Yakinkah kalau si penulis ‘seromantis’ apa yang ditulis dalam kehidupan nyatanya?

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa menjamin. Apalagi kalau kita hanya melihat dari media sosial. Ya, kita lupa bahwa apa-apa yang tampil di media sosial hanyalah tampak indahnya saja. Jarang sekali orang mau mengumbar masalahnya. Buat apa? Tidak ada orang yang peduli juga. Tidak selamanya yang terlihat hijau di dunia maya adalah kejadian sesungguhnya.

Kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Setiap manusia punya ujiannya masing-masing. Dan tidak perlu semua tahu tentang ujian itu. Media sosial hanyalah media. Media untuk menampakkan yang bahagia-bahagia saja. Bukan dalam rangka pamer semata, tapi juga berusaha menularkan kebahagiaan positif. Sejatinya itu.

Kembali ke dunia nyata dan bersyukur

Maka saat rasa iri itu hadir, mungkin kita harus sejenak menutup media sosial dan kembali ke dunia nyata. Kembali berhadapan dengan pasangan kita. Menatap matanya lekat-lekat, dan berbincang dengan penuh sukacita.

Saat ia tidur, kita bisa melihat guratan di wajah, tangan, dan kakinya yang mengerut karena masih berjuang menafkahi keluarga. Pulas tidurnya menggambarkan bahwa ia mungkin sangat lelah seharian bekerja.

Ia mungkin tidak seromantis penulis-penulis di luar yang mampu menciptakan kata-kata indah dengan tingkat tinggi. Ia mungkin bukan orang yang selalu pamer kebahagiaannya di media sosial. Tapi bisa jadi memang bukan itu cara dia. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan-tindakan. Yang mungkin terluput dari penglihatan kita. Bisa jadi ia terlalu malu menampakkan diri di media sosial. Tapi diam-diam ia selalu mensyukuri istrinya yang setia di sampingnya. Mengurus rumah dan menjaga harta dan anak-anaknya.

Kita tidak mungkin sempurna

Ya, setiap kita punya cara masing-masing mengungkapkan cinta. Ada lima bahasa cinta. Dengan kata-kata, dengan waktu, dengan memberi hadiah, dengan melayani, atau dengan sentuhan. Mungkin ia tidak termasuk dengan kata-kata. Sehingga tidak pandai merangkai kata. Tapi bisa jadi ia dengan salah satu dari keempat bahasa lainnya. Mungkin dengan menyediakan waktu untuk kita, dengan memberi hadiah setiap saat, dengan selalu membantu kita di rumah, atau dengan memeluk dan mencium kita diam-diam.

Baca: Sahabat Terbaik adalah Pasangan Sendiri

Jadi sesungguhnya yang kita perlukan adalah bersyukur. Ketika dulu kita memilihnya, maka seharusnya kita sudah bisa ikhlas menerima segala yang ada di dalam dirinya termasuk kekurangannya. Jika ia saja bisa menerima kita, seharusnya kita pun bersikap sama. Karena kalau kita saja tidak sempurna, bagaimana mungkin menuntut pasangan untuk sempurna? 😊

Tagged , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

6 thoughts on “Kita Tidak Sempurna, Maka Pasangan Kita juga Tidak Sempurna

  1. Kalau saya sih mikirnya, hidup kita masing2 fokus aja ama kehidupan sendiri.
    Rumput tetangga boleh lebih hijau, mana tau dia pake rumput sintetis sedangkan rumput kita asli eaaaaaa

  2. Kalau ngomongin soal pasangan, aku tuh agak sensitif sih mbak. Mungkin karena single (maksa). Tapi ya, emang rumput tetangga lebih seger. Dan yg kita liat di sosmed itu belum tentu seperti kenyataan nya >.<

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.