#ModyarHood, Cerita Bunda, Cerita Elis, Cerita Emir, Kids

#ModyarHood: Montessori dan Realitas yang Terjadi *halah

#ModyarHood datang lagi. Saya senang sekali. Yeay! Soalnya waktu temanya sepupu tempo hari saya nggak bisa ikutan. Karena entahlah nggak ada ide sama sekali haha. Tapi kali ini ngebahas tentang mainan anak. Saya semangat nih. Yuhhu. Boleh deh main ke blognya Mbak Puty dan MamaLilo tentang mainan anak mereka.

Kalau saya sih punya cerita yang agak miris banget sebetulnya huhu. Jadi begini, sekarang saya lagi ikutan kelas Islamic Montessori. Sebelumnya just info, saya memang penasaran banget dengan metode Montessori. Metode yang katanya bisa memberi pelajaran pada anak dengan metode yang fun karena dilakukan sambil bermain. Yakni, dengan cara merasakan, mendengar, dan melihat secara langsung. Metode montesori juga bisa mengajarkan anak untuk lebih disiplin dan kemandirian sejak dini. Wow ini kan bagus bangeeeet. Jelas saya tertarik buat ikut(-ikut)an.

Tugas montessori setiap minggu

Nah sejak itu saya banyak baca tentang montessori di media sosial. Dan melihat contoh yang diunggah orang tua-orang tua lain yang diterapkan pada anak mereka. Awalnya sih saya pikir montessori itu tidak susah. Hanya memanfaatkan apa yang ada di rumah saja. Maka tanpa pikir panjang saya pun langsung tertarik untuk ikut kelas online montessori lewat grup WhatsApp.

Singkat cerita, di kelas ini setiap minggunya ternyata ada tugas yang harus dilaksanakan oleh orang tua. Jeng jeng… saya pikir kita-kita orang cuma dikasih kuliah online kayak biasanya kulwap aja. Ternyata ada tugas toh πŸ™ˆ

Task 1 & 2, failed!

Tugas pertama mengajarkan anak untuk punya alas kerja. Jadi dalam metode montessori, anak dianjurkan untuk bermain di atas alas kerja. Tujuannya supaya tidak berantakan kemana-mana gitu deh. Dan kalau punya anak lebih dari satu, ini juga akan mengajarkan anak untuk mempunyai area kerjanya sendiri. Misal punya dua anak, ya harus ada dua alas kerja. Jadi kakak dan adik tidak saling ganggu. Kalau mau ke adik, si kakak harus izin dulu boleh tidak dia gabung dengan adiknya. Begitu pun sebaliknya. Kira-kira begitu ya.

Saya merasa sudah failed banget di tugas pertama. Karena saya memang tidak punya alas yang bisa dipakai. Selama ini Emir Elis kalau main, ya main aja dimana-mana. Nggak mesti di areanya sendiri. Walaupun ada tenda-tendaan, tetap aja mereka nggak bisa diam di satu tempat πŸ˜‘ Selama ini saya juga nggak mempermasalahkan sih. Karena saya pikir ya biarin aja mereka bereksplor dengan caranya sendiri.

Saya coba pakai puzzle mat, yang ada angka-angkanya malah dicopotin sama Emir 😩 *whuaaa gagal pakai alas.

ini nyoba gulung perlak πŸ˜€

Kalau harus beli alas baru? Saya masih merasa keberatan hiks. Entahlah ya, buat saya main di alas bagi anak seusia 1-2 tahun kok ya kayak ngeberatin. Semacam membatasi anak gituΒ πŸ™ˆ Makanya, di tugas kedua, ketika ada tugas untuk menggulung alas kerja, saya pakai perlak aja πŸ™ˆ Tapi Emir excited lho dikasih tugas gulung begitu haha.

Task 3, passed!

Di tugas ketiga, ada yang namanya memindahkan benda pakai tangan untuk anak 2 tahun ke bawah. Dan pakai sendok untuk anak 2 tahun ke atas. Tugas ini dengan mudah bisa saya lewati. Elis sangat bisa diajak kerja sama untuk memindahkan mainan kecil-kecil dari satu mangkuk ke mangkuk lain. Pun dengan Emir yang semangat banget memindahkan beras dan kacang pakai sendok. So, task passed!

Elis memindahkan mainan kecil pakai tangan

Task printable, di luar ekspektasi πŸ˜’

Tugas keempat. Mulailah dengan tugas printable warna. Olala, saya mulai merasa keberatan lagi. Karena saya kurang suka ngeprint mainan-mainan printable gituΒ πŸ™ˆ Pertama, saya nggak punya mesin print nya huhu. Kedua, itu artinya saya harus keluar rumah. Yang mana tidak bisa dilakukan tanpa suami karena saya nggak bisa ngendarain motor hiks. Apalagi kalau mau ngeprint emang harus jalan agak jauh. Jadi nggak mungkin jalan kaki 😞

Tapi ya udah, Alhamdulillah suami mau nganter. Nah, saya kira hanya print, laminating, selesai. Tapi lihat ibu-ibu lain pada semangat banget ber-DIY dengan cara dimacem-macemin cetakkannya. Yaks, saya pun jadi iri. Misalnya ada yang dikasih tangkai es krim di pinggirannya. Atau dilapisi impra board supaya bisa kaku dan tahan lama.

Akhirnya saya pun ikut-ikutan. Belilah impra board di toko buku. Eeh awal-awal aja semangat ngerjainnya. Ke sininya malah malas banget mau lanjutin ya Allah 😩

mainan yang mangkrak dan sampai sekarang belum dilanjutkan hiks

Ditambah hasil yang udah rapi, sama Emir dibongkar-bongkar lagi. Cetakan warna yang sudah saya rekatkan pake double tip dilepas lagi sama dia 😩 Terlalu kreatif memang anaknya. Sampai salah fokus. Awal-awal bener sih, dia bisa diajak kerja sama belajar warna. Tapi lama kelamaan, dia lebih tertarik untuk ngebongkarin mainannya 😞 Alhasil tambah malaslah saya mau lanjutin hiks 😞

jadi berantakan nggak karuan hiks

Aku tak bakat DIY huhu

Hasil yang saya bikin pun nggak memuaskan. Karena kenapaaaa nggak serapi punya ibu-ibu lain? 😩 Apa saya memang tidak bakat ber-DIY ya 😞 Dari zaman sekolah memang kalau ngerjain kerajinan tangan gitu, hasil saya nggak pernah rapi sih huhu.

Saya juga mikir, ya ngapain ribet-ribet bikin. Toh saya kan udah beliin flash card buat Emir. Yang mana flash card nya udah lengkap. Ada warna, huruf, nama dan gambar binatang, dan lain-lain 😁 Ya walaupun kalau bikin sebetulnya orang tua bisa lebih puas karena hasilnya sendiri. Cuma saya merasa belum bisa fokus di sini. Saya masih tertarik untuk mengerjakan hal lain ajah πŸ™ˆ

So, apakah saya akan melanjutkan montessori? Masih sih. Saya masih ingin belajar kok. Mana saya juga belum beli buku-buku tentang montessori heuheu. Tapi perkara DIY ini lihat nanti ajalah haha.

Apapun bisa jadi mainan bagi anak.

Sekarang, Emir Elis masih main kayak biasanya aja. Pakai mainan-mainan yang sudah ada. Mobil dijejerin sampai Emir bilang itu kereta. Binatang juga gitu dibaris ke samping. Terus mainan yang lain dia susun ke atas dan bilang “Tinggi Bunda, tinggi.” Haha. Atau kalau bosen dengan mainan yang udah ada, yauwis mainin peralatan Bundanya deh. Entah itu mangkuk, sendok, baskom, atau capitan buat masak. Ah, anak-anak memang selalu ada aja ide mainnya. Nggak perlu juga sebetulnya kita mikirin mainan susah-susah. Karena bagi anak, apapun bisa jadi mainan πŸ˜†

Secara sensori mereka juga tidak jijik terhadap apapun. Karena memang dari kecil, saya sudah membiarkan mereka untuk menyentuh apa saja yang ada di sekitarnya. Ya tepung, beras, air, dan lain-lain. Apalagi dari motorik yang mereka memang sudah jadi anak yang sangat aktif.

Tentang disiplin dan mandiri, Alhamdulillah mereka sudah mengerti caranya merapikan mainan, membuang sampah, menolong orang, berterima kasih, dan meminta maaf.

Kalau Ayah Bunda gimana, biasanya apa aja nih mainan anaknya? Suka berDIY nggak? Atau ikut kelas montessori juga? Sharing yuk 😊

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

11 thoughts on “#ModyarHood: Montessori dan Realitas yang Terjadi *halah

  1. Wah, saya juga sama sekali ga bakat DIY, jadi memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah untuk mainan Arin yang sekarang usianya 18 bulan. Tentang Montessori, sejak lama saya penasaran dengan metode ini. Tapi berhenti di rasa penasaran aja hehehe…

  2. Saya juga ga pandai DIY. Jadi, ya paling memanfaatkan benda-benda di rumah untuk bermain sambil belajar Arinah yang sekarang usianya 18 bulan. Sejak kakaknya yang sulung masih balita, sekarang sdh kls 8, saya tertarik Montessori, tapi yaa baru sebatas tertarik.hehehe…

  3. Sejak montessori hits, saya cuma sampai tahap baca-baca apa dan bagaimana, tapi ga pernah coba hehe. Menurut saya koq ribet ya, menurut saya lho, setiap ibu kan pasti punya pendapat yang beda πŸ™

    Saya sih main yang beli jadi aja asal mengasah kreatifitas, kaya puzzle, block susun, lego atau sekalian saya belikan buku mewarnai dan crayon.

  4. Ah memang betul kalo setiap keluarga punya pola pengasuhan sendiri. Mungkin metode montessori ini tidak cocok.. buat emaknya πŸ˜† hehe. Toh alhamdulillah kalo anak sudah tumbuh dan berkembang sesuai ekspektasi tanpa melalui montessori. Setiap emak punya caranya sendiri 😘

  5. Emang entah kenapa ya bun, sering kita niat banget bikin mainan DIY atau printable tapi anaknya nggak terlalu antusias. Tapi kalau main benda-benda sekitar kayak main dorong galon, main keran air, main di tanah, bongkar bongkar rak baju, wah semangat bener dia. πŸ˜€

  6. aku tu kadang suka merasa bersalah sama Faza, karna jaraaaang banget beliin dia mainan. Dia seringnya main apapun yang sudah ada aja. Botol minuman bekas misalnya. Haha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.