Untitled

Menghargai Pilihan Setiap Ibu

Apa jadinya jika saya menulis status seperti ini? “Ibu rumah tangga itu lebih baik dari ibu bekerja.” Saya yakin, dari satu kalimat itu saja seketika akan langsung dapat banyak sekali respon. Apalagi jika saya tambahkan “Ibu rumah tangga itu lebih baik dari ibu bekerja, karena ibu rumah tangga bisa full mengurus anak, suami, dan rumah tangganya. Sementara ibu bekerja lebih banyak fokus di luar, apa iya rumah tangga bisa terurus dengan baik?” Oh, saya harus siap-siap status saya menjadi viral dan saya akan dibully oleh banyak orang terutama para ibu hehe.

Baca: Alasan Saya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ya, seperti itulah. Media sosial bagai lidah yang tak bertulang. Bisa menghujam hati orang, jika tidak digunakan secara bijak. Tapi sebenarnya kita bisa mengendalikan lidah untuk diam. Seperti itu pula media sosial. Ia bisa dikendalikan mana kala kita mau berpikir sebelum memosting segala sesuatunya.
Dalam kasus di atas tadi contohnya. Saling merasa diri baik, dengan menjatuhkan orang lain. Merasa telah menjadi ibu yang sempurna, dengan tidak menyaring kata-kata yang menyakiti orang lain. Rupanya tidak sekali dua kali saya masih menemukan yang seperti ini. Apakah perang antara ibu memang tidak bisa selesai? Bisa! Jika kita mau mulai dari diri sendiri 🙂

Semua adalah pilihan

https://pixabay.com/id/harga-tag-pilihan-seleksi-hadiah-374397/
Ada hal yang terkadang memang menjadi pilihan. Menjadi ibu bekerja, itu pilihan. Menjadi ibu rumah tangga itu juga pilihan. Lahiran normal, itu pilihan, lahiran sesar, itu pilihan. Memberi ASI itu pilihan, memberi susu formula, itu juga pilihan. Semuanya pilihan setiap ibu.
Setiap manusia tentu saja memiliki pilihannya masing-masing. Kita tidak bisa memaksakan pilihan kita pada orang lain, jika orang itu memang ingin berbeda pilihan. Kita tidak bisa meninggikan pilihan kita dengan cara menjatuhkan orang lain. Sama halnya seperti kita yang tidak ingin dipaksa oleh orang lain.

Alasan-alasan yang tidak kita tahu

Malah terkadang, ada alasan-alasan yang tidak kita ketahui. Ibu bekerja, barangkali memang ingin ingin membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ibu rumah tangga, barangkali penghasilan suaminya sudah tercukupi. Ibu yang menyusui karena bisa memberi ASI. Ibu yang memberi anaknya susu formula, barangkali karena terpaksa sebab ASInya tidak kunjung keluar meski ia sudah berusaha sekeras mungkin. Sama halnya dengan ibu melahirkan yang mengambil jalan operasi. Barangkali situasi memang mengharuskannya untuk mengambil jalan operasi karena melahirkan normal hanya akan beresiko besar pada ibu dan bayinya. Ya, ada hal-hal yang tidak kita tahu.

Baca: Kiat-kiat Melahirkan Secara Normal

Mari kita hargai pilihan masing-masing. Menasihati boleh, tapi jangan sampai kita jadi memaksakan kehendak kita. Apalagi dengan membanding-bandingkan atau menjatuhkannya. Sungguh, jika kita saja tidak mau diperlakukan seperti itu, maka begitu pula orang lain. Sebab pula, kondisi setiap orang tidaklah sama 🙂

4 thoughts on “Menghargai Pilihan Setiap Ibu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *