Pernikahan, Tips

Nasihat Pernikahan untuk Laki-laki yang Ingin Berumah Tangga

Kapan hari saya bikin status di story, nanya kira-kira pengen saya nulis apa. Di antara sekian jawaban, saya tertarik dengan jawaban seorang laki-laki yang bilang “nasihat untuk laki-laki yang ingin berkeluarga.” Saya memang bukan laki-laki. Tapi dari sudut pandang perempuan, boleh dong kalau saya juga punya pandangan tentang nasihat pernikahan. Saya juga sudah tanya ke suami apa saja sekiranya yang harus dilakukan oleh laki-laki sebelum benar-benar memutuskan untuk berumah tangga.

Sebelumnya, boleh kalau mau baca tulisan saya di blog Sohibunnisa tentang 5 Kriteria yang Bisa Dipertimbangkan dalam Mencari Jodoh. Tulisan ini mirip-mirip dengan yang akan saya tulis kali ini. Ya bedanya, ini fokus ke nasihat untuk laki-laki ya.

Nasihat Pernikahan untuk laki-laki

1. Tetapkan tujuan menikah

Patut di garis bawahi bahwa menikah bukan sekedar menghalalkan yang haram. Menikah bukan sekedar sah. Tidur bareng. Ngapa-ngapain bareng, tidak. Masalah dalam pernikahan jauh lebih kompleks. Menyatukan dua kepala itu amat tidak mudah.

via GIPHY

Maka dari itu, menikah butuh komitmen tinggi. Tidak bisa kita jadikan pernikahan ajang permainan layaknya pacaran yang saat tidak suka, lantas bubar. Jangan begitu. Kita harus punya tujuan dalam pernikahan itu sendiri. Menikah tuh untuk apa sih? Kenapa saya harus menikah? Siap tidak saya menghadapi ujian jika rumah tangga nanti mulai bermasalah? Siap nggak kalau istri saya banyak kekurangan? Banyak yang harus dipertanyakan ke diri sendiri sebelum benar-benar menikah.

Ini gunanya ada sesi membuat biodata dalam ta’aruf. Di biodata ini akan semakin memperjelas kita untuk mengenal diri sendiri. Jika pun tidak ta’aruf, langsung dijodohkan misalnya, tetap saja kita harus mengenal diri sendiri. Saya mau perempuan yang bagaimana untuk jadi istri saya? Sifat saya begini, maka saya mau sifat yang bagaimana yang harus ada di istri saya? Kalau saya lagi marah, istri harus seperti apa? Kalau istri marah, saya harus bersikap bagaimana? Semua harus diperjelas. Tujuannya agar saat menikah, kita tidak terlalu bermasalah dengan pasangan.

Walaupun memang pernikahan itu juga perkenalan seumur hidup. Tapi jika kita sudah jelas tujuan sebelum menikah, itu akan lebih memudahkan. Dan kita tinggal menghadapi ‘sisa masalah lainnya’ saja.

2. Perdalam ilmu agama

Apalagi laki-laki akan jadi pemimpin dalam rumah tangga. Bukan cuma berkewajiban memberi nafkah lahir. Tapi juga batin. Batin ini nggak cuma sekedar masalah berhubungan badan. Tapi rohani dan adab-adab lainnya juga. Bisa ngajak istri sholat nggak? Bisa mengimami keluarga nggak? Bisa ngajarin istri dan anak-anak ngaji nggak nanti? Kalau istri nanya masalah agama, bisa jawab nggak? Tahu nggak adab sebelum berhubungan itu apa saja? Tahu nggak setelah berhubungan harus ngapain? Tahu nggak adab ke istri dan anak-anak itu seperti apa?

Semuanya dibutuhkan ilmu. Kita menikah dengan membawa nama agama. Maka mengisinya dengan cara beradab adalah suatu keharusan. Jangan sampai menikah seperti binatang yang ‘asal kawin’ aja tapi tidak tahu apa-apa. Pernikahan akan hambar. Konflik makin rumit karena kita tidak pernah dekat dengan Allah. Alhasil nggak punya pegangan. Naudzubillah.

Yes, percayalah, kalau sudah memahami agama, segalanya akan terasa lebih mudah untuk dijalani. Allah langsung yang akan turun tangan menolong kita dalam setiap kesulitan.

3. Tanggung jawab

Setelah agama, laki-laki juga harus belajar tanggung jawab sebelum menikah. Ingat, tanggung jawab bukan sekedar cari nafkah. Tapi juga bertanggung jawab untuk jadi pemimpin. Serta menanggung dosa istri dan anak-anak.

nasihat pernikahan

Iya, berat banget jadi laki-laki. Itulah sebabnya perempuan sebagai istri harus nurut suami. Bukan asal nurut, tapi nurut dalam kebaikan. Gunanya untuk memudahkan urusan suami.

Tugas suami sudah banyak. Di luar dia harus mengabdi untuk pekerjaan terlebih kalau punya usaha, maka jadi pemimpin perusahaan. Di rumah dia harus memimpin keluarganya. Mendidik istri dan anak-anaknya. Bahkan juga harus tetap turun tangan untuk meringankan pekerjaan istrinya. Sebab laki-laki yang baik adalah yang paling baik dengan keluarganya.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

4. Kerja keras

Berhubungan dengan mencari nafkah. Its ok, sebelum nikah laki-laki mungkin masih harus berjuang. Tapi pastikan sudah punya sifat pekerja keras. Lagi-lagi harus diingat, laki-laki adalah pemimpin. Maka dialah yang bertanggung jawab untuk menyejahterakan keluarganya.

via GIPHY

Selagi badan sehat, jangan sampai laki-laki sebagai suami menyusahkan istrinya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Istri bekerja boleh saja. Itu juga dari ridho suami. Tapi suami yang baik, tak akan berpangku tangan untuk menghidupi keluarganya. Maka pastikan bahwa istri dan anak-anak kita tidak kekurangan. Setidaknya jangan membuat mereka susah.

5. Belajar ilmu keibuan, pengasuhan, dan urusan rumah tangga

Laki-laki tak sekedar memimpin untuk memerintah. Ia juga harus mau turun tangan untuk memudahkan pekerjaan istrinya. Laki-laki yang baik, akan dengan ringan tangan membantu istrinya dalam keadaan apapun. Menikah itu butuh dua orang. Maka menjalaninya juga harus dibutuhkan kerja sama agar rumah tangga terasa lebih damai.

Sedari single, tak ada salahnya belajar tentang masalah keibuan dan parenting. Harus bagaimana ketika istri hamil. Harus ngapain saat istri melahirkan. Harus berbuat apa setelah istri melahirkan. Sampai caranya mengurus anak dari mulai bayi dan mendidiknya hingga dewasa.

nasihat pernikahan

Belajar mengurus rumah juga bisa. Karena urusan domestik rumah tangga bukan hanya urusan istri. Pagi-pagi suami nyapu, istri nyuci. Saat istri masak, suami bisa bantuin cuci peralatannya. Atau ketika pulang kerja, melihat istri sudah kelelahan mengurus anak, bisa bantu ngepel rumah. Yakinlah suami yang mau turun tangan membantu urusan rumah tangga itu TIDAK menurunkan derajat laki-laki sebagai suami. Justru dia akan dipandang sebagai suami yang hebat karena mau ringan tangan membantu istrinya.

6. Sayang pada orang tua

Poin ini akan menjadi dasar bagaimana kita nanti akan bersikap pada istri dan anak-anak kita kelak. Jika sejak sendiri kita sudah sayang dengan orang tua. Menurut tanpa membantah, maka biasanya akan otomatis kita tahu harus bersikap seperti apa pada keluarga kita.

Tapi tetap saja, sayang sesuai porsinya. Jangan manja. Jangan sampai kelak kita berat sebelah. Biar bagaimana pun istri butuh laki-laki sebagai pemimpin. Maka seorang laki-laki harus punya prinsip dan tujuan sendiri. Tidak disetir oleh orang lain. Sebab tidak bisa ada dua nakhkoda dalam satu kapal aka rumah tangga.

7. Mandiri

Ini maksud saya, laki-laki harus mandiri. Jangan bergantung pada orang tua atau orang lain. Laki-laki harus punya tujuan hidup. Dia akan jadi pemimpin. Maka harus belajar untuk bisa mengambil keputusan sendiri. Mandiri dalam sikap juga secara finansial.

nasihat pernikahan

8. Bijaksana

Laki-laki jangan melakukan kekerasan. Sebab itu bukan sifat pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik justru mampu bersikap bijaksana. Dia tahu kapan saatnya diam untuk berpikir. Dia tahu kapan saatnya harus ambil sikap. Dan dia tahu kapan saatnya harus tegas tapi secara lembut.

Bijaksana juga membuat laki-laki bisa menjadi seorang yang penyayang pada keluarganya. Misalnya melihat istrinya kerepotan, dia mau bantu. Lihat anaknya kesulitan, sebagai ayah dia akan menolong.

9. Berhenti merokok

Maaf, kalau saya harus memasukkan poin ini. Tapi saya merasa memang harus. Mumpung belum menikah, berhentilah merokok jika Anda seorang perokok. Saya tidak akan membahas apa buruknya rokok. Toh kita semua sudah tahu.

nasihat pernikahan

Sayangnya rokok bukan hanya menyakiti diri sendiri. Tapi juga orang-orang di sekitar kita. Apalagi jika kelak kita ingin punya anak atau istri sedang hamil. Kasihanilah keluarga kita untuk membiarkan mereka menghirup nafas dengan bebas. Biarkan anak-anak kita tumbuh menjadi sehat tanpa terpapar asap rokok.

Mumpung belum menikah, belum terlambat untuk berhenti. Di dunia ini tidak ada yang sulit selama kita punya niat yang kuat.

Whuaa jadi panjang banget ya. Sudah nyaris 1250 kata. Sebelum semakin panjang, saya rasa 9 poin dulu sudah cukup. Menurut saya pribadi 9 poin di atas sudah cukup mencakup semuanya. Sisanya tinggal dimodifikasi sesuai kemampuan masing-masing.

Yang terpenting adalah, paham dengan posisi sebagai laki-laki. Dan paham bahwa rumah tangga yang kita bangun harus dalam jangka waktu yang panjang. Karena saya yakin, pada dasarnya semua orang ingin memiliki keluarga yang utuh dan berakhir di Jannah-Nya 🙂

Tagged , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.