Cerita Bunda, Parenting, Pernikahan, Untitled

Orang Tua juga Butuh Waktu untuk Sendiri dan Bersama Pasangan

Semakin ke sini semakin saya paham kenapa setiap orang tua diharuskan untuk bahagia. Sebab ketika kita bahagia, mengurus anak pun jadi lebih ringan. Mau bagaimana pun tingkah dan perilaku anak, ya kita kayak maklum aja gitu. Mau pup di celana, tinggal bersihin. Mau mainan berantakan, masih bisa gembira. Mau makan berceceran, masih bisa ketawa-tawa. Ya seperti itulah.

Belajar menerima mengakui bahwa kita bermasalah

Tapi faktanya bahagia itu terkadang tidak mudah. Walaupun bahagia itu sederhana, tapi pikiran ada kalanya juga tidak bisa diajak kerja sama. Semua terasa hambar. Terlebih saat kita ada masalah. Rasanya ruwet aja. Akhirnya, menghadapi anak semacam jadi beban.

Makanya, saya pun mulai paham kenapa bisa ada orang tua yang memarahi atau menyiksa anaknya. Bahkan tidak peduli di tempat umum sekalipun. Kita yang melihatnya mungkin sedih, geram. Tapi seringkali kita tidak tahu kondisi kejiwaan orang tuanya. Dari luar bisa jadi mereka terlihat baik-baik saja. Tapi dalamnya orang, siapa tahu?

Barangkali mereka memendam stres karena masalah. Barangkali mereka memendam kesedihan yang dalam. Barangkali mereka marah dan kecewa pada seseorang. Sayangnya mereka tidak tahu cara melampiaskan itu semua, alhasil anaklah yang jadi korban. Hiks.

Dari situ, mungkin sebelum bahagia, ada baiknya kita belajar tentang penerimaan. Menerima bahwa kita sedang bermasalah dengan diri sendiri. Mengakui bahwa kita tidak sedang baik-baik saja. Bahkan mengakui kalau memang mungkin kita belum siap menghadapi anak.

Pacaran berdua itu perlu

Dan saya, mencari jalan lain. Di saat menghadapi anak mulai terasa hilang kesabaran, suami ngajak saya untuk jalan berdua Sabtu kemarin. Anak-anak kemana? Dititipkan ke daycare hehe. Maklum, kami jauh dari orang tua dan keluarga. Lagi pula kalaupun dekat rasanya nggak begitu enak nitipin lama-lama. Kalau daycare kan kita bayar, lembaganya pun sudah punya jam titip yang sesuai.

maap maap numpang lewat hehe

Jalan kami standar gaya pacaran biasa. Cuma ke mall. Makan, nonton, sekalian beli peralatan kantor suami. Setelah jam 3, pulang deh jemput anak-anak.

Ini pertama kalinya kami nitipin anak-anak. Pertama kalinya juga kami jalan keluar tanpa anak-anak. Rasanya hmm, agak aneh sih hehe. Maklum biasa keluar satu paket.

Jadi bayangin aja setelah menikah, saya langsung hamil. Lalu disundul hamil lagi yang kedua. Praktislah setelah 2 tahun menikah kami nggak pernah pacaran keluar lagi. Ya gimana wong anak-anak masih kecil. Tapi untunglah kemarin itu kami berani untuk memulai.

Walaupun nggak begitu lama, tapi rasanya cukup untuk mencharge diri agar emosi mereda dan jiwa kembali tenang. Benar, setelah kencan kemarin saya ngerasain banget kalau menghadapi anak jadi lebih ringan.

Rasa syukur berjalan beriringan dengan kebahagiaan

Memang benar kalau hal-hal seperti ini diperlukan. Kita butuh waktu untuk sendiri tanpa anak-anak. Sekali-kali juga perlu jalan berdua dengan pasangan untuk mengingat rasanya pacaran dan jatuh cinta seperti saat awal-awal menikah.

Baca: Bahagiakan Juga Pasangan, Bukan (Sekedar) Diri Sendiri

Anak-anak memang bukan beban. Tapi akui saja bahwa kita juga perlu kebahagiaan untuk diri sendiri. Dengan cara apa, hanya diri kita yang bisa menjawab.

Maka dari itu, alasan kebahagiaan setiap orang pun tidak bisa disamaratakan. Ada yang bahagia saat bermain dengan anak, tapi ada juga yang lebih senang saat dia punya waktu sendiri. Ada yang bahagia dengan membuat mainan anak sendiri, tapi ada pula yang bahagia saat menjalankan hobinya. Semua punya jalannya masing-masing.

Pada intinya, kebahagiaan itu penting dalam hidup. Tapi jauh daripada itu, yang lebih utama barangkali adalah tentang rasa bersyukur. Sebab ketika kita bisa bersyukur, maka kebahagiaan akan datang beriringan dengan rasa syukur itu 😊

Tagged , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Orang Tua juga Butuh Waktu untuk Sendiri dan Bersama Pasangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.