#ODOPISB, Keluarga, Parenting

Orang Tua Bukan Menjadi Beban, Tapi Karena Kita Mau Menghargai Orang Tua

Kamis malam saya dengerin Podcast yang temanya bagus banget. Tentang orang tua kita. Kalau teman-teman mau dengerin bisa cek gambar di bawah ini ya. Coba cari aja Curhatan Rumah Tangga. Ini judul dan linknya: Dear Mama, Dear Papa.

Seharusnya kita menghargai orang tua

Saya agak terharu sih ada yang mengangkat tema ini, karena di tengah berseliwernya kata-kata “Sandwich Generation”, Mas Andhika Arya justru mengangkat hal yang berbeda. Tentang bagaimana seharusnya kita menghargai orang tua.

Saya sendiri sudah lama kurang setuju dengan kata-kata Sandwich Generation. Sebab kita seolah-olah “direpotkan oleh orang tua”. Sekalipun kita tidak minta dilahirkan, tapi jasa orang tua pada kita tetap saja tidak bisa diabaikan.

Ibu sudah susah melahirkan kita. Menyusui sampai dua tahun. Merawat kita. Ayah kita juga bekerja keras membanting tulang demi memberi nafkah keluarga. Mendidik kita menjadi orang yang lebih kuat. Hingga kita bisa berhasil sampai sekarang. Kalau Mas Andhika bilang ekstremnya, orang tua mau kepala jadi kaki, kaki jadi kepala demi anak-anaknya.

Hidup jangan egois

Jadi menurut saya, kalaupun saat ini kita harus bekerja keras untuk membiayai orang tua, itu seharusnya bukan jadi beban, tapi karena kita menjalani bakti kepada orang tua. Meskipun bakti itu sampai kapanpun tidak bisa membalas jasa-jasa orang tua pada kita.

Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.  (QS. An-Nisa’:36)

Seperti kata Mas Andhika dalam Podcastnya, kita hidup jangan egois. Kita harus bekerja untuk semua orang yang kita sayangi. Pasangan, anak, dan tentu saja termasuk orang tua kita. Sebab rasa sayang itu memang harus diperjuangkan.

Dulunya mungkin orang tua kita belum mengerti banyak hal. Belum mengerti apa itu investasi, apa itu mempersiapkan hari tua. Maka tugas kita sebagai anaklah sekarang untuk membantunya. Sudah bukan saatnya lagi kita menyalahkan orang tua, sebab waktu tidak bisa diputar ulang. Lebih baik kita fokus pada saat ini.

Mungkin kita merasa kurang nyaman, ketika kita seharusnya hanya membiayai pasangan dan anak. Tapi ‘ternyata’ kita juga harus membiayai orang tua dan mungkin saudara kandung lainnya. Tapi kalau ‘ujian’ itu datang pada kita, itu artinya Dia Maha Tahu bahwa kita mampu.

Kita adalah anak yang MAU menghargai orang tua kita

Ini bisa juga menjadi pelajaran bagi kita sekarang yang masih muda dan punya waktu. Sungguh jangan disia-siakan. Sebab kita tidak bisa bermain dengan waktu. Waktu yang sudah lewat, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sebisa mungkin saat ini kita mulai perhatian pada masalah keuangan. Mulai menabung dan selalu menyiapkan dana darurat. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang kelak terjadi.

Terakhir, ada kutipan yang bagus dari Mas Andhika, kita memberi orang tua yang terbaik, bukan karena menganggap orang tua adalah beban. Bukan karena kita sudah berhutang budi. Tapi karena kita adalah seorang anak yang mau menghargai orang tua kita. Orang tua kita layak untuk diperjuangkan kapanpun jua.

Semoga siapapun yang saat ini masih diberikan ‘ujian’ untuk membiayai orang tua dan keluarga, selalu diberi kelimpahan rezeki yang halal lagi berkah. Karena siapa tahu, dari situlah ridho orang tua mengalir untuk kita. Yang membuat jalan hidup kita selalu lancar :’)

Tagged , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.