Cerita Bunda, Kehamilan, Kolaborasi

#BincangKeluarga: Periksa Hamil ke Dokter Kandungan Laki-laki, Yay or Nay?

Periksa hamil ke dokter kandungan laki-laki, yay or nay? Bagi saya NAY! Hehe. Sejak awal hamil saya sudah bilang ke suami kalau saya nggak mau periksa dan lahiran di dokter kandungan laki-laki. Awalnya sih saya maunya periksa di bidan aja sudah cukup. Tapi suami bilang, USG itu ada pentingnya juga, apalagi kalau baru trimester pertama dan untuk pertama kalinya hamil. Maka jadilah sampai sekarang hamil kedua, saya selalu periksa di dokter kandungan dan pasti perempuan dong hehe. Bahkan waktu lahiran Emir juga sama dokter kandungan perempuan. Alhamdulillah.

Ah ya, tema ini sekaligus jadi pembuka kolaborasi saya bersama Mbak Rosalina Susanti dalam #BincangKeluarga. Setiap hari Kamis, kami berdua akan menulis segala hal yang berhubungan dengan per-ibuan, rumah tangga, anak, juga keluarga. Jadi, tema marriage yang biasanya ada di Celoteh Bunda bergeser jadi hari Selasa atau Sabtu ya ?

Baca punya Mbak Rosa:

Kenapa nggak mau dokter kandungan laki-laki?
Malu karena bukan muhrim
Alasan standar banget ya. Memang sih dalam Islam dibolehkan kok kalau untuk urusan darurat diperiksa oleh dokter laki-laki. Tapi prinsip saya, selama masih ada dokter kandungan wanita kenapa tidak? Lagi pula saya malu kalau sampai harus dilihat atau dipegang-pegang *maaf* bagian dalam tubuh saya oleh dokter. Apalagi USG kan otomatis harus di bagian perut huhu.

Lebih nyaman dengan dokter wanita
Jelaslah karena memang sama-sama perempuan jadi merasanya lebih nyaman dan nggak ada kecanggungan apa-apa. Mau nanya-nanya soal kewanitaan pun lebih enak ngomongnya dibanding dokter laki-laki.

Jadi, apa saya sama sekali nggak pernah periksa ke dokter kandungan laki-laki? Pernah! Waktu hamil Emir 10 minggu sebenarnya saya mau ke dokter perempuan, tapi entah bagaimana ceritanya tiba-tiba dokter perempuan berhalangan hadir dan digantikan oleh dokter laki-laki. Karena sudah kadung terlanjur datang ke rumah sakit, ya sudah terpaksa saya mau -_-

Yang kedua waktu hamil 7 bulan pas USG 4 dimensi. Udah berusaha nyari dokter perempuan, tapi nggak ada yang bagus rekomendasinya. Akhirnya jatuhlah pilihan ke seorang dokter laki-laki di sebuah rumah sakit yang terkenal bagus.

Agak risih sih waktu awal mau diperiksa sama mereka, deg-degan banget. Mikir gimana nanti kalau dipegang-pegang atau segala macam pikiran buruklah hehe. Tapi ternyata mereka biasa aja kok. Nggak yang gimana-gimana. Bahkan mereka sama sekali tidak melihat bagian tubuh saya. Jadi hanya memeriksa perut saya dengan alat USGnya saja.

Balik lagi, kesimpulannya kalau ditanya mau periksa ke dokter kandungan laki-laki yay or nay? Jawaban saya tetep NAY. Saya tetap periksa rutin ke dokter kandungan perempuan. Kecuali untuk urusan darurat seperti dua kejadian di atas. Misalnya dokternya tiba-tiba berhalangan hadir. Dan sepertinya nanti pas 6 atau 7 bulan, saya juga akan tetap USG 4 dimensi di dokter laki-laki tadi -_-

So, Bunda sendiri yay or nay periksa ke dokter kandungan laki-laki?

19 thoughts on “#BincangKeluarga: Periksa Hamil ke Dokter Kandungan Laki-laki, Yay or Nay?

  1. Sama, hamil dua kali nggak pernah periksa ke dokter kandungan laki-laki, yang anak kedua malah ke bidan aja.
    Tapiii qadarullah dua-duanya lahir lewat operasi cesar, yang pasti ada dokter anestesi dan perawat laki-laki juga. Malu banget, apalagi pas lahiran anak pertama. Tapi gimana, memang harus begitu kan :D.

  2. Tfs Bun, saya periksa lebih nyaman ke Bidan bisa lama n curhat cantik tapi pas USG belum nemu obgyn wanita jadi sama obgyn laki-laki, Alhamdulillah selalu dapet dokter yang bagus, to the point, ga banyak larangan hehe jadi kitanya makin tenang n pede.

  3. Mbaaaak, ketemu lg disini selain di bbi. Hehe.

    Saya periksa kandungan selalu ke bidan, tapi waktu usg anak pertama sempet di dokter laki-laki. Tp karena ada suami yang dampingi jadi gak terlalu berpikir macam-macam. Hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.