Pernikahan

Pernikahan Bukan Hanya Sekedar Sah

Apa yang membuat saya bisa menulis postingan tentang jangan mengumbar keburukan pasangan adalah karena kekhawatiran saya sendiri. Karena pada kenyataannya sampai saat ini pun masih ada saja yang mengumbar masalahnya dengan pasangannya. Apalagi di media sosial yang semua orang bisa melihatnya. Naudzubillah.
Sama seperti cerita suami lalu tentang seorang temannya yang curhat di media sosial tentang hubungan pernikahan dengan pasangan yang sedang tidak hangat. Bahkan di ambang perceraian. Yang menarik, pembahasan justru mengarah kepada banyaknya orang yang dengan bangga sudah menikah dan melepaskan masa single-nya. Lantas, apa yang salah?
Ya. Siapapun ingin melepas masa sendirinya dengan menikah. Mempunyai seorang pasangan yang dimpi-impikan. Bisa menjalani sisa hidup berdua hingga akhir hayat. Namun, sudahkah kita memikirkan bahwa pernikahan ternyata tidak sesederhana itu? Bukan. Bukan berarti saya menakut-nakuti. Hanya saja, sebaiknya kita yang sudah atau bahkan baru menikah, tidak perlu terlalu membanggakan diri dengan status yang sudah tidak sendiri. Karena seringkali rasa bangga yang berlebihan, menjadi bentuk kesombongan. Dan kita tahu, selamanya kesombongan tidak pernah dibenarkan, sebab hanya membawa petaka bagi diri kita sendiri. Tsumma naudzubillah. 
http://www.shutterstock.com/id/pic.mhtml?id=340594079&pl=44814-43068&utm_medium=Affiliate&utm_campaign=Pixabay&utm_source=44814&irgwc=1

Pernikahan adalah Tanggung Jawab Besar

Ketika akad terucap. Ketika seorang lelaki telah menyatakan, “saya terima nikahnya….” maka saat itu pula tanggung jawab baru dimulai. Tanggung jawab untuk menanggung istri dari mulai nafkah batin hingga lahir. Tanggung jawab untuk mendidik istri yang menjadi amanah besar. Serta tanggung jawab untuk memikul dosanya. Ya, itu semua tanggung jawab suami. Begitu pula dengan wanita. Ketika akad terucap, maka saat itu pula tanggungan kehidupannya berpindah pada lelaki yang sudah menjadi suaminya. Segala hal yang ia lakukan, haruslah seizin ridho suami. Karena tugas orang tuanya telah usai saat ia dinikahi. 
Maka, lupakan masa-masa sendiri dulu yang bisa berlaku sesukanya. Sebebas-bebasnya. Karena kini, usai menikah, kita punya tanggung jawab besar untuk memenuhi segala hak pasangan dan kewajiban diri. Terlebih saat sudah dikaruniai anak, maka ada amanah baru lagi yang harus kita tunaikan. Mengasuhnya, mendidiknya hingga menjadikannya anak yang berakhlak baik.

Pernikahan Tidak Melulu Indah dan Bahagia

Sama halnya kehidupan. Selalu ada siang dan malam, pagi dan sore. Selalu ada sedih dan bahagia. Selalu ada suka dan duka. Semua berpasangan. Maka, jangan bayangkan usai menikah, kehidupan akan selalu lebih indah. Ya, masalah-masalah dengan pasangan dan rumah tangga akan terus ada. Bahkan dari hal yang paling sepele sekalipun bisa jadi masalah. Parahnya, malah membuat kita rindu saat masih sendiri dulu.
Itu sebabnya, komunikasi dan kesabaran menjadi hal yang utama di setiap nasihat pernikahan. Sebab, tanpa adanya komunikasi yang baik dengan pasangan, maka tidak akan ada kata bertahan. Kita akan dituntut untuk belajar mengalah. Belajar untuk mau berubah menjadi lebih baik demi pasangan. Juga belajar untuk tidak mengutamakan ego pribadi. Hingga belajar bagaimana mencoba bersabar dan berpikir jernih dalam menghadapi masalah. Sebab kemarahan sesaat akan menjadi penyesalan yang panjang.

Pernikahan Bukan Sekedar Sah

doc. pribadi
Itu sebabnya, pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan pasangan laki-laki dan wanita dalam akad, lalu sah. Untuk selanjutnya kita menjadi milik orang lain dan bahagia selamanya. Sebab dengan menikah, kita justru memikul amanah baru. Tanggung jawab baru. Maka dari itu, dalam setiap pernikahan selalu ada kalimat, “selamat menempuh hidup baru.” Ya, karena memang kita akan menjalani kehidupan yang baru. Yang berbeda dari sebelumnya. Yang tidak bisa dibilang main-main jika kita memang serius melakukannya.
Pada akhirnya, pernikahan adalah sebuah pembelajaran untuk memasuki kehidupan yang baru. Yang kita jalani bersama orang lain dalam satu fase bernama rumah tangga. Yang di dalamnya penuh dengan pernak-pernik dan serba-serbi yang menarik. Yang sesungguhnya tidak hanya berisi kebahagiaan, namun juga masalah-masalah yang akan mendewasakan diri kita jika kita mau terus belajar 🙂

6 thoughts on “Pernikahan Bukan Hanya Sekedar Sah

  1. setuju banget mbak..memang harus siap mental dulu sebelum menikah..memang mbak tanggung jawabnya besar banget…sy juga merasakannya sejak awal menikah, apalagi kalau sudah punya krucil. jadi merasakan gmn ortu kita membesarkan kita ya mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *