Menyusui, Parenting, Pillow Talk

#PillowTalk: Value dan Informasi; Ngajak Diskusi atau Debat?

Seri pillow talk kali ini, saya dan suami ngomongin tentang Value dan Informasi. Walaupun sebenarnya udah agak lama sih ngobrolinnya hehe. Tapi bahasan ini selalu berulang-ulang karena hmm mungkin kekeras kepalaan saya 🙈

Well, value dan Informasi di sini berkaitan dengan anak. Yang mana sekarang kan banyak ya teori bertebaran. Khususon tentang teori parenting dan anak. Nah sebagai ibu rumah tangga yang pengen maju, tentu aja saya nggak mau ketinggalan. Apalagi hobi saya emang online. Jadilah setiap saya buka media sosial, saya menemukan beragam artikel parenting dan anak.

 

Value dan informasi, ngajak diskusi atau debat?

via Pixabay

Yang jadi permasalahan adalah, setiap kali saya habis baca artikel-artikel itu, saya langsung diskusi dengan suami. Niatnya sih emang diskusi yaa. Tapi menurut suami, saya lebih seperti ngajak debat. Karena bukannya menyampaikan informasi, tapi justru saya memasukkan value lebih dulu. 

Gini gini, mudahnya saya kasih contoh misal masalah penyapihan yang baru-baru ini kami bahas. Saya sempat ikut kulwap tentang menyapih anak dengan cinta atau bahasa kerennya Weaning With Love (WWL). Nah di kulwap itu dijelaskan kalau WWL harus disounding dari jauh-jauh hari supaya si anak tidak kaget. Lalu saya sampaikanlah ke suami begini, “Ade mau nyapih Emir ah. Ade mau sounding dari sekarang. Apalagi dia kan udah mau 1,5 tahun.”

So, jawaban suami panjang kali lebar. Yang intinya, “kamu nggak bisa se’grasa-grusu’ itu untuk nyapih Emir. Apalagi baru 1,5 tahun kok. Masih lama lah.  Lagi pula yang lebih perlu kita lakukan sekarang adalah menenangkan dua bayi. Itu yang terpenting. Jadi kalau Emir masih mau nyusu, ya udah susui.” Begitu.

Baca: ASI Beserta Manfaatnya Bagi Perkembangan Otak Anak dan Kecerdasannya

Nah balik lagi ke Value dan Informasi. Yang jadi masalah di persoalan atas adalah, cara penyampaian saya itu yang salah. Seharusnya kalau memang saya mau menyampaikan informasi, bisa lah dengan kalimat begini, “Menurut Kakak, gimana kalau Ade nyapih Emir?” Dengan kalimat pertanyaan, maka diskusi bisa berjalan.

Tapi kalau menyampaikan dengan kalimat pernyataan seperti yang saya sampaikan di awal tadi, itu namanya bukan diskusi. Tapi saya ngajak debat.

Jadi dari situ, akhirnya kami mulai berbenah. Kenapa sih setiap kali saya mau diskusi, tapi jadinya malah debat. Itu karena sudah ada ego dalam diri saya. Saya tidak menyampaikan informasi, melainkan saya menyampaikan value. Kalau value sudah masuk, maka diskusi tidak akan berjalan karena sudah ada semacam ego yang diasupi. Apalagi biasanya saya keras kepala ngeyel, “lho tapi kan begini. Tapi kan begitu.” Jadi wajar kalau akhirnya terjadi perdebatan sengit.

Maka untuk selanjutnya, ketika ada teori yang baru saya baca, yang perlu saya lakukan adalah bertanya dahulu. Apakah teori tersebut bisa kita aplikasikan atau tidak. Singkirkan sementara keinginan-keinginan saya untuk menerapkan teori-teori itu. Maka diskusi akan lebih santai tanpa saling ngotot-ngototan.

 

Tidak semua teori bisa diterapkan saay…

Duh, saya akui sih. Sebagai ibu baru, rasa ingin menjadi idealis itu masih ada. Baca teori ini itu, maunya langsung terapin. Padahal nggak semua teori-teori itu sesuai dengan keadaan di dalam keluarga kita. Ini juga nih yang saya garis bawahi dan selalu diulang-ulang suami, lihat dulu kondisi keluarga kita. Baru kita bisa mempertimbangkan teori dari luar. Bukan sebaliknya. Melihat teori di luar dulu, baru melihat kondisi di dalam. Itu salah. 

So, the point is tidak semua teori parenting dan anak cocok untuk kita. Teori itu memang bagus. Tapi kita juga harus bisa melihat kondisi keluarga kita. Kita bisa menilai mana yang bisa diterapkan dan mana yang belum atau tidak bisa diterapkan. Dan cara untuk menyampaikan informasi dengan pasangan lebih baik dengan kalimat pertanyaan, BUKAN pernyataan. 

Begitu kira-kira, Ayah Bunda.

Nah sudahkah kalian diskusi? 😁

4 thoughts on “#PillowTalk: Value dan Informasi; Ngajak Diskusi atau Debat?

  1. Kalau saya pillow talk sering ditinggal tidur… 😀 saya masih asyik ngomong, yang diajak ngomong udah di alam mimpi.
    Saya lebih suka parenting dengan cara sendiri, lihat kondisi anak, kondisi di rumah. Soalnya rumah saya dengan rumah orang beda.. 😀

  2. Rasanya aku diskusi sama suami itu tiap hari mbak. Sama kok, kebanyakan ngobrolin parenting. Awalnya sih sering debat, ujung2nya jadi tidur saling membelakangi. Hihihi.
    Sekarang udah nemu jalan tengah dan solusi sih. Jadi sama-sama kudu banyak baca dan mengenal anak lebih dalam. Karena bener mbak, ngga bisa teori doank. Prakteknya ya orang tuanya sendiri yang paham.

    Eh maaf mbak, malah jadi kepanjangan.
    Btw, salam kenal ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *