Keluarga, Review

Keluarga Cemara: Untuk Kamu yang Punya Keluarga, Wajib Nonton Filmnya!

Keluarga Cemara

Saya kaget waktu suami tiba-tiba mengiyakan begitu saya ajak nonton film Keluarga Cemara. Pasalnya, dia selalu khawatir dengan anak-anak yang bakal rewel. Tapi Alhamdulillah, finally rencana nonton itu benar-benar terlaksana Sabtu kemarin 😍 Dan beruntungnya Emir Elis juga anteng. Awal-awal mereka nonton, terus tidur, dan baru bangun menjelang film habis 😁

Saya memang pengen banget nonton film ini. Bukan saja karena review bagus dari orang-orang. Tapi serial Keluarga Cemara rasanya sudah melekat di banyak orang yang hidup tahun 90an termasuk saya. Serial keluarga yang sederhana dan tidak menawarkan hal-hal yang muluk. Ditambah nilai-nilai yang ditanam juga memang bagus banget untuk keluarga.

So, bagaimana kesan saya dengan filmnya? Saya akan kasih rating 4 dari 5 bintang. Masih ada kekurangan, tapi so far, saya puas sekali bisa nonton film Keluarga Cemara. Meskipun tentu saja filmnya sudah dikondisikan dengan situasi zaman sekarang dimana sudah adanya smartphone dan ojek online. Tapi film ini tetap menghadirkan ke-khasan Keluarga Cemara dengan keeratan keluarganya.

Belum lagi dengan hiasan-hiasan komedi yang turut mewarnai film. Jadi ya bisa dibilang nonton film ini ketawa-sedih-ketawa lagi-sedih lagi haha.

via GIPHY

Sinopsis singkat film

Abah bangkrut dari perusahaannya. Akibat ulah iparnya, rumah Abah yang besar pun harus dijual. Akhirnya mereka harus pindah ke daerah terpencil di perkampungan, di rumah peninggalan orang tua Abah.

Bagi keluarga yang terbiasa hidup enak, perjalanan setelah pindah menjadi tidak mudah. Termasuk Emak, Euis, dan Ara yang mau tak mau juga ikut terkena imbasnya. Abah menjadi sedikit sensitif karena merasa bersalah pada keluarganya. Euis yang rindu pada kota dan teman-temannya. Dan Emak yang harus memutar otak demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Pada akhirnya, mereka harus bisa menerima kondisi dan bahu-membahu.

Film yang benar-benar sarat kekeluargaan. Bagaimana Abah tetap mampu bertanggung jawab atas kesalahannya. Emak yang mampu menjadi istri dan ibu yang menguatkan hati suami dan anak-anaknya. Dan anak-anak yang sedari kecil sudah bisa dididik untuk menerima keadaan. Hiks, saya banyak nangis di film ini. Apalagi ketika scene Abah marah-marah karena dia menyalahkan dirinya sendiri atas kebangkrutan perusahaannya yang berdampak pada keluarganya yang ‘jatuh miskin’.

via GIPHY

Saya juga banyak belajar dari film Keluarga Cemara

“Tidak semua yang kita cinta harus kita dapatkan” – Abah

Ketika kondisi sulit, bagaimana keluarga bisa tetap bersatu?

Segalanya mudah bagi kita ketika kondisi nyaman. Tapi ketika dihadapkan pada situasi sulit, sanggupkah kita mampu mempertahankan keharmonisan? Keluarga Cemara adalah potret kesetiaan tiada tara. Tak ada yang menyalahkan Abah ketika ia merasa bersalah atas kesulitan keluarganya. Bahkan Emak sebagai istri tetap berada di samping Abah dan mendukungnya dengan memutar otak demi perekonomian keluarga. Dan mereka masih bisa mendidik anak-anak mereka untuk bisa menerima keadaan.

Menjadi anak pertama itu tidak mudah

Di film ini saya makin sadar bahwa menjadi anak pertama itu benar-benar tidak mudah. Euis yang berkali-kali harus dimarahi Abah karena dialah anak pertama yang seharusnya bisa memberi contoh pada adiknya. Bukan menyesalkan kenapa ia harus pindah rumah ke daerah dan jauh dari teman-temannya. Di sini barangkali kita bisa belajar, sekalipun anak pertama dilahirkan lebih dulu, dia tetaplah seorang anak. Yang punya hati dan keinginan. Dia juga tetaplah seorang anak yang layak didengarkan. Bukan semata harus memberi contoh pada adik-adiknya sementara kita tidak pernah menerima keluhannya.

Peran orang tua besar untuk menjadi teladan anak-anak

Abah dan Emak juga merupakan potret bagaimana mereka bisa menjadi orang tua yang membuat anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik. Anak yang bisa menerima keadaan dan masih membantu orang tuanya ketika keadaan sedang sulit. Ya, siapa lagi yang pertama dicontoh anak-anak selain orang tuanya.

Kelebihan dan kekurangan film

Yap, yang jelas film ini benar-benar cocok untuk keluarga. Ada nilai-nilai yang bisa dijadikan teladan. Dan pas untuk mengisi liburan keluarga.

Pemandangannya juga bagus banget. Rumah sederhana dengan halaman yang super luas dan bisa jadi tempat bermain anak-anak 😍

Ringgo Agus sebagai Abah bisa pas meranin Abah. Nirina juga hm, walaupun jujur saya lebih suka peran asli Emak zaman dulu 🙈 Tapi aktingnya tetap oke. Zara Jkt48 juga nggak kaku sebagai Euis. Widuri Puteri sebagai Ara juga lucu, meskipun aktingnya masih sedikit kaku. Pemeran-pemeran pendukungnya pun oke. Ketawa bangetlah pas bagian humornya. Meskipun beberapa aktingnya masih ada yang terasa kaku. Dan make up saat ipar Abah dipukuli itu terasa agak janggal karena kentara sekali warna ungunya. Jadi kurang terasa efek lebamnya 🙈 Dan masih ada miss-miss lainnya. But, secara keseluruhan filmnya tetap bagus karena mengandung nilai-nilai yang sudah saya sebutkan tadi.

Keluarga Cemara

So, untuk kamu yang lahir 90an dan kangen dengan esensi serial Keluarga Cemara, wajib sekali nonton film ini. Saya nggak diendorse, tapi film ini beneran bagus untuk ditonton keluarga! Sekali-kali kita perlu melihat ke bawah. Belajar sederhana. Dan bagaimana caranya untuk tetap erat dan harmonis dengan keluarga di tengah kesulitan 😊

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Keluarga Cemara: Untuk Kamu yang Punya Keluarga, Wajib Nonton Filmnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.