Cerita Bunda, Untitled

Sebelum Mengeluh, Lihatlah Sekitar Kita

Saat masuk usia 19 tahun dulu, saat mulai lepas dari pacaran, keinginan saya untuk menikah begitu menggebu sekali. Dan entah bagaimana caranya, Allah justru menunjukkan saya begitu banyak hal. Mulai dari dorongan untuk melepaskan diri dari jerat pacaran, membeli buku-buku tentang larangan pacaran, sampai buku pernikahan dan rumah tangga. Lalu mengikuti seminar pernikahan, sampai mengikuti seminar parenting. Percaya atau tidak, itu semua berjalan beriringan. Jadi fasenya, baca buku tentang mengapa pacaran tidak diperbolehkan, lalu buku tentang pernikahan dan rumah tangga, ikut seminar pernikahan, kemudian mulai banyak hadiah buku parenting, sampai tawaran ikut seminar parenting yang menggoda. Masya Allah, begitu takjubnya. Dan itu baru terpikir beberapa hari menjelang pernikahan. Melihat fase yang seolah urut begitu, saya jadi bersyukur. Barangkali memang begitulah cara Allah menunjukkan pada saya. Bahwa saya harus lepas dari pacaran, dan jika saya ingin menikah, maka setidaknya saya harus menyiapkan bekal terlebih dulu.
https://pixabay.com/id/buku-tua-awan-awan-pohon-burung-863418/
Bekal pun tidak sampai sebatas teori dari buku atau seminar itu, melainkan juga kehidupan nyata tentang buruknya pacaran, kehidupan dan permasalahan rumah tangga, sampai kehidupan dan permasalahan menjadi orang tua. Benar-benar rasanya Allah sayang pada saya. Mungkin Allah ingin sebelum menikah, agar saya memahami dulu seluk beluk kehidupan setelah pernikahan nanti dan bagaimana setelah punya anak. Saat Allah merasa saya sudah siap, maka dikirimkanlah sang pangeran *uhuk.

Karena belajar bisa dari mana saja

Sekarang saya sadari ternyata belajar bisa dari mana saja. Bahan belajar pun rupanya tidak hanya buku-buku ataupun teori, melainkan praktek-praktek masalah secara langsung. Sampai saat ini, setelah menikah, saya ditunjukkan masalah-masalah yang lebih berat lagi. Yang akhirnya masalah-masalah itu justru membuat saya harusnya bersyukur. Karena seberat apapun masalah saya, ada yang lebih berat daripada saya. Dan barangkali jika saya mengalaminya, saya tidak cukup mampu. Ah, tapi Allah memang Maha Penyayang kok. Ia kan selalu melihat batas kemampuan hamba-Nya.

โ€œAllah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maโ€™afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.โ€ (Al Baqarah : 287)

Seharusnya saya bersyukur

Di saat saya sempat cemburu pada mertua, ada cerita seorang teman yang mertuanya sangat ikut campur dalam urusan rumah tangganya dan urusan anak sampai-sampai membuat teman saya begitu stres dan tidak suka dengan mertuanya. Sedangkan mertua saya? Tidak pernah bersikap terlalu. Menasihati tetap, tapi dengan cara halus yang sama sekali tidak pernah menyakiti saya.
Di saat saya ada masalah dengan suami, ada cerita teman lain yang masalah dengan suaminya cukup pelik. Yang suami sibuk sendiri dengan hobinya sampai lupa dengan keluarga, suaminya lebih mementingkan orang tua atau teman-temannya, sampai suami yang tega selingkuh dari istrinya padahal sudah punya anak. Sedangkan masalah saya? Lebih banyak karena masalah-masalah sepele yang sebenarnya hanya karena keegoisan sendiri. Yang penyelesaiannya tidak berat dengan hanya mau mengaku salah dan meminta maaf.
Di saat saya kesal dengan Emir yang rewel, cerita datang dari seorang teman yang anak temannya meninggal padahal baru beberapa bulan. Ada lagi cerita tentang seorang ibu yang tega menyiksa anaknya kandungnya sendiri sampai sang anak terluka bahkan meninggal. Sedangkan saya? Harusnya saya bersyukur Emir masih sehat. Di luar rewelnya, dia yang lucu yang harusnya saya syukuri. Rewel hanyalah masalah kecil yang sebenarnya hanya butuh kesabaran.

Bersyukurlah sebelum mengeluh

Ya, pada akhirnya kita memang bisa belajar dari mana saja. Kehidupan-kehidupan di sekitar kita adalah contoh nyata dari masalah-masalah yang mungkin jauh lebih berat daripada masalah kita. Masalah-masalah di sekitarlah yang seharusnya bisa jadi pelajaran nyata untuk membuat kita bersyukur. Begitu banyak orang di luar sana yang mungkin menginginkan kehidupan kita. Dan itu semua jika kita mau belajar peka. Belajar menyadari bahwa setiap keluhan manusia, pasti selalu ada solusinya.
Ya, semoga kita bisa menyadarinya. Untuk selanjutnya kita selalu mensyukuri apapun keadaan kita saat ini. Karena di atas kesulitan pasti ada kemudahan.

10 thoughts on “Sebelum Mengeluh, Lihatlah Sekitar Kita

  1. Suami saya, anak yang patuh sekali dengan ibunya. Apa pun yang dikatakan ibunya, pasti langsung dilakukan. Dulu waktu ngenalin saya ke ibunya, beliau bilang "ini ada calon saya, yang mirip sekali dengan ibu", alhamdulillah hubungan saya dan mertua klop banget, selalu sama sepemikiran. Memang, harus banyak bersyukur kita ya, Allah sudah kasih banyak nikmat, tinggal disyukuri dan dijalani.

  2. Mbak… Saya sudah menikah 13 tahun, perasaan seperti itu juga pernah mendera saya, merasa paling susah, paling sengsara dan paling2 lainnya… Namun setelah melihat ke sekitar ternyata saya lebih baik dari apa yang saya lihat… Memang kita harus bersyukur dalam setiap kehidupan yang kita jalani, agar tidak menyesal atau menggerutu… Yang penting ikhlas dan niatkan sebagai ibadah insyaAllah berkah

  3. Iya mbak, bersyukur itu kunci kehidupan. Walaupun g munafik juga masih suka ngeluh, cuman kalau ngeliat ke bawah kayak langsung ditampar, Ya Allah, aku kurang bersyukur, sampai lupa kalau masih banyak orang yang hidupnya lebih tidak beruntung dibandingkan aku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *