Cerita Bunda, Parenting

Siapa yang Tahu Parameter “Kapan Kita Siap Punya Anak Lagi?”

siap punya anak

Sedari kemarin saya bertanya-tanya sendiri, “Sebetulnya, apa sih parameter siap punya anak?” Apakah ketika anak kita sudah berumur sekian sekian? Apakah ketika kita sendiri memang merasa sudah mampu?

Tapi yang akhirnya saya pahami justru tidak ada satu pun dari kita yang barangkali benar-benar memahami parameter kapan kita siap punya anak. Kenapa? Karena sesungguhnya, anak itu hak prerogatif Allah. Manusia boleh berencana, tapi Allah juga yang menentukan.

Kapan kita siap punya anak lagi?

Pikiran ini muncul dari ingatan ketika saya pernah mengikuti thread salah seorang blogger parenting yang membicarakan usia anak ideal untuk punya adik lagi. Di situ dia bilang,”Kata psikolog, ketika anak umur 4 tahun maka dia sudah siap punya adik.”

So, apakah itu benar? Apalagi ketika saya tahu salah seorang teman yang anaknya sudah SD bilang, bahwa ia belum siap punya anak lagi. Karena merasa takut perhatian pada anak pertama dan keduanya menjadi berkurang jika dia harus mengurus bayi lagi.

Di sisi lain, ada saya sendiri. Apakah ketika hamil untuk kedua kalinya saya siap? Sayangnya tidak. Apakah Emir sudah siap punya adik saat itu? Jelas saja saya merasa belum. Karena toh umurnya saja masih 6 bulan.

Sementara, di belahan dunia lain, ada seorang ibu tiga anak yang mengaku sedang program hamil lagi untuk anaknya yang keempat. Padahal ketiga anak sebelumnya masih kecil-kecil. Masya Allah.

Dari ke semua cerita itu, kembali lagi perkataan psikolog tadi. Apakah benar ketika anak berumur 4 tahun kita siap punya anak lagi?

via GIPHY

Allah lebih tahu daripada manusia

Nah dari sinilah akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa sebetulnya tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apa parameter kapan kita siap punya anak.

Its okay, mungkin kita berencana untuk menunda. Mungkin kita ingin sekali punya anak banyak sekalipun anak-anak kita masih kecil. Tapi siapa yang lebih tahu apa yang kita butuhkan? Yap, Allah lah Sang Maha Mengetahui.

Jangan sampai ketika seorang pakar atau psikolog bilang “harusnya punya anak saat kakak sudah 4 tahun”, lantas kita jadi menghitung-hitung diri belum siap. Atau ketika kita dengan sengaja menunda karena merasa diri belum siap padahal anak sudah besar.

Yang bahaya adalah ketika terjadi secara ‘tiba-tiba’ Allah menitipkan janinnya pada kita, kita malah menolak. Dan berimbas pada kesehatan janin bahkan diri kita. Tsumma naudzubillah.

Belajar untuk pasrah

Akhirnya saya sendiri belajar bahwa kepasrahan adalah sebenar-benar perbuatan. Awalnya saya pun sempat merasa diri tidak siap untuk punya anak lagi saat ini. Tapi saat ibu yang sedang program hamil tadi berkata, “Apa sih yang ditakutkan selama kita punya Allah? Kalau Allah memberi tandanya kita mampu. Tapi kalau belum, Allah memang tahu bahwa kita belum membutuhkannya.”

Ya, tingkat kepasrahan inilah yang barangkali, sebenarnya harus kita perdalam.

Keluarga Berencana, memakai pengaman saat berhubungan, atau langkah apapun untuk ‘menunda’ punya anak bahkan steril sekalipun, tidak bisa 100% menjamin bahwa kita tidak akan hamil lagi.

via GIPHY

Kenapa sih harus pasrah? Saya belajar dari pengalaman dulu. Saya belum siap sekali saat itu. Tapi saya tahu janin ini sudah ada dalam rahim saya. Kalau saya menolak terus-terusan, saya takut janin jadi bermasalah. Atau kehamilan, hingga anak saya lahir nanti akan dapat banyak masalah. Naudzubillah. Akhirnya pelan-pelan saya belajar menerima. Pasrah pada ketentuan Allah. Apa yang sudah diberikan-Nya, ya lebih baik terima saja.

Apakah itu mudah? Tentu saja tidak. Saya butuh dukungan dari orang-orang sekitar. Itu sebabnya saya bilang bahwa kita lebih butuh untuk belajar pasrah.

Taruh Allah di paling atas hidup kita

Apakah untuk saat ini saya sudah siap punya anak lagi? Awalnya saya akan bilang belum. Sampai saat ini saya juga pakai KB. Tapi sekarang, saya justru lebih memilih pasrah pada ketentuan Allah saja. Kapan pun Allah berikan, saya yakin itulah yang terbaik.

Saya tidak menampikkan kita manusia perlu usaha untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Kita boleh saja berprogram Keluarga Berencana. Kita boleh saja pakai pengaman. Boleh saja percaya kemampuan diri dan ilmu pengetahuan. Tapi tetap saja, kita harus menaruh Allah di bagian paling atas, bagian tertinggi hidup kita.

Jangan sampai kita terlalu ‘mengagung-agungkan’ ilmu manusia dan merasa diri kita paling tahu. Termasuk persoalan apakah kita siap punya anak. Karena sesungguhnya pandangan manusia amat terbatas. Allah lah Yang Maha Tahu kapan kita siap, dan kapan kita butuh 🙂

via GIPHY

Kita juga tidak tahu apa yang baik bagi kita. Karena lagi-lagi Allah satu-satunya Sang Maha Mengetahui.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Tagged , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.