Pernikahan

Song Joong Ki, Song Hye Kyo dan Tentang Perpisahan

song joong ki

Dunia *eh nggak tahu ding di dunia atau cuma di Indonesia aja* sedang digemparkan dengan kabar Song Joong Ki dan Song Hye Kyo cerai alias berpisah. Padahal konon mereka baru menikah 2017 lalu.

Hm, sejujurnya saya bukan pencinta drama Korea atau artis-artis Korea sih. Cuma ya tetap aja namanya media sosial luas, ya berita kayak gini-gini tuh nyampe aja di timeline saya.

“Katanya” sih, banyak yang kecewa. Karena mungkin disayangkan aja. Kesannya “baru menikah kok udah pisah aja.” Tapi ya who knows masalah mereka di belakang kita kan.

Yang menarik, pas temen saya bilang, “Tak seindah di drama Korea.” Oh ya jelas, saya langsung nyeletuk, “Karena pernikahan di dunia nyata juga tak selalu mulus layaknya drama Korea.” 😆

Pernikahan tanpa masalah its IMPOSSIBLE

TIDAK ADA pernikahan TANPA MASALAH. Semua pasti bermasalah. Bukan bermasalah terus. Tapi PASTI ada-lah kalanya rumah tangga itu ya punya masalah.

Nah, perkara cerai ini mungkin orang ngeliatnya cuma sebatas apa yang nampak aja.

“Duh kok bisa sih cerai?”

“Duh kenapa sih harus pisah?”

“Kenapa kalian nggak rukun romantis kayak di drama?” *eh.

via GIPHY

Yah, again-again orang cuma bisa nilai dari luar. Kita-kita emang tahu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo punya masalah apa sebenarnya? Even mereka public figure, mereka adalah manusia yang ingin punya PRIVASI. Even dikorek-korek sama media, kalau yang bersangkutan tak ingin membuka masalahnya, ya kita nggak akan tahu masalah sebenarnya.

Niat bertahan yang tak mudah

Sebetulnya sih poinnya, masalah-masalah dalam pernikahan itu PASTI ADA. Yang jadi perkara adalah apakah kita si pemeran utama yang menjalani rumah tangga ini mau sejauh mana BERTAHAN untuk mempertahankan pernikahan.

Nggak mudah lho!

Masalah dalam pernikahan itu dari yang berat sampai ke hal-hal paling remeh kayak salah naruh handuk aja itu sangat bisa menjadi masalah besar. Makanya, semua tergantung pemeran utamanya. Gimana cara dia memandang masalah. Gimana cara dia menghadapi masalah. Dan bagaimana cara dia untuk “bersikap saling” dengan pasangannya. Saling memaklumi kalau pasangannya juga punya kekurangan. Saling menghormati. Saling menghargai. Intinya, its take two to tango. Butuh dua orang.

via GIPHY

Kita nggak bisa serta merta menilai dari luar bahwa “yang pisah” ini disayangkan. Karena siapa tahu di belakang mereka memang sudah sama-sama berusaha untuk memperbaiki. Siapa tahu di belakang ada hal-hal yang mereka rasa “sudah tidak bisa diperbaiki lagi”. Atau karena memang mereka “sudah merasa tak perlu untuk bertahan.”

Jangankan kita, mungkin mereka sendiri sangat “menyayangkan” perpisahan ini.

Begitulah pernikahan. Dengan segala naik turun bak roller coaster. Kalau kita nggak punya niat kuat untuk berkomitmen, maka buyarlah sudah sejak awal.

Kehidupan kita pun sudah tertulis skenarionya.

Apa yang tertampil di drama semua sudah ditulis skenarionya. Semua terserah sutradara dan penulis skenario cerita akan berjalan ke mana dan berakhir seperti apa. Barangkali begitu juga dengan kehidupan pernikahan kita. Semua sudah ada skenarionya.

Yang menakjubkan adalah, tidak selayaknya drama. Kita nggak pernah tahu cerita akan membawa kita ke mana. Terlebih akan berakhir seperti apa, kita pun tidak tahu. Bahkan jika datang ke peramal sekalipun, bila Allah tidak izinkan membukanya, kita nggak pernah tahu.

via GIPHY

Itu sebabnya, yang bisa kita lakukan cuma berusaha. Sekaligus terus membawa nama Allah dalam doa. Doa supaya kita selalu dikuatkan. Begitu juga dengan pasangan kita yang juga sama-sama selalu berusaha untuk mempertahankan biduk rumah tangga. Karena hanya Dialah satu-satunya Dzat yang mampu membolak-balikkan hati manusia 😊

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Song Joong Ki, Song Hye Kyo dan Tentang Perpisahan

  1. Ih udah nulis ini aja.

    😄

    Gara-gara baca koran saya jadi update berita ini.

    Iya betul, yang kelihatan buat kita memang luarnya saja. Kita ga tahu gimana dalam-dalamnya kehidupan rumah tangga orang lain.

    Jadi ingat tulisan mbak Liza (kl ga salah), bahwa pernikahan itu bisa dipertahankan saat masing-masing punya niat dan usaha utk menjaga ‘tirai’nya. Saat sudah ga mau menjaganya, ya sudah, semuanya bubar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.