Pernikahan

Takut Menikah Boleh. Tapi Sebelum Itu…

takut menikah

Jadi ceritanya lagi ketrigger dengan omongan seorang teman yang “takut menikah”. Kemudian saya juga ingat kalau ada teman lain yang juga pernah mengutarakan hal yang sama. Saya nggak tahu permasalahan mereka sebetulnya. Tapi itu nggak penting bagi saya. Cuma saya selalu bilang ke mereka bahwa, “Menikah tidak semenakutkan itu.”

Saya jadi ngerasa nggak fair juga karena selama ini, di blog ini, saya nulis tentang pernikahan yang kayaknya “lebih banyak ujiannya.” Jadi terasa ‘menakutkan’. Padahal enggak. Pernikahan itu layaknya hidup. Ada duka, ada bahagia. Ada ujian, ada juga kenikmatan. Jadi nggak melulu menderita meskipun juga nggak happily ever after.

Takut menikah boleh, tapi…

Saya mengerti bahwa memang ada yang rasanya mengalami ujian terus-menerus dalam hidup. Demikian pernikahan. Entah dia ‘jatuh’ di pasangan yang salah, entah ekonomi terasa begitu menghimpit, ketika pasangan tak lagi setia, atau ketika setiap hari ada saja bahan masalah besar yang membuat ribut hingga rasanya rumah tak lagi damai.

via GIPHY

Ditambah jika semua pengalaman tak mengenakkan itu terjadi di lingkungan dekat, bahkan orang tua kita sendiri. Semua jadi ‘terasa wajar’ jika kita takut.

Tapi tolong pahami juga, bahwa tidak semua cerita berjalan sama seperti itu. Mereka yang Allah uji dalam pernikahannya, mungkin karena Allah tahu bahwa mereka kuat menghadapinya. Atau bahkan bisa jadi Allah uji di dunia, ganjarannya kelak surga. Wallahua’lam.

Yang saya ingin sampaikan hanyalah, ketika kita belum menikah, kita BISA MEMILIH dengan siapa kita akan menikah. Terlebih tidak ada paksaan dari mana pun, maka lebih-lebih tak ada yang perlu ditakutkan.

Tinggal kita berusaha untuk ‘mendapatkan’ apa yang kita inginkan. Inginkan yang sholeh, maka jadilah sholehah. Ingin yang baik, maka baikkan diri. Intinya bersikap sebagaimana kita ingin calon kita nanti bersikap.

“Lho, De, buktinya ada yang udah sholehah, tapi suaminya begitu. Ada yang suaminya sholeh, istrinya begitu?”

Itu sudah ranah Allah. Hanya Allah yang mengerti tujuannya. Tapi apapun itu, pasti akan ada hikmahnya.

Banyak pernikahan yang baik-baik saja

Intinya, selama belum terjadi, tidak ada yang perlu kita pikirkan lebih jauh apalagi kita takuti. Banyak pernikahan yang ‘normal’. Suami istri yang saling sayang bahkan sampai punya beberapa anak. Suami istri yang saling paham fitrahnya hingga rumah terasa damai. Jika pun ada masalah, suami istri ini mampu berangkulan dan bersikap saling.

via GIPHY

Saya tidak setuju jika dibilang “pernikahan itu selalu bahagia. Dan tidak pernah bermasalah.” Tapi saya lebih tidak setuju jika dibilang “pernikahan itu menakutkan.” Karena faktanya, dalam pernikahan ada banyak kenikmatan yang juga tak terkira. Yang mungkin bisa dibilang “tidak akan ada jika kita tidak menikah.”

Salah satu misalnya, apa yang saya ceritakan di postingan Menjelang Empat Tahun Pernikahan. Mungkin saya nggak akan berubah seperti sekarang jika belum menikah. Mungkin tidak akan ada Ade yang lebih baik dibanding dulu jika dia tak menikah. Mungkin wajah saya tidak akan seceria sekarang kalau tak menikah.

Karena memang di pernikahan ini saya merasa sebenar-benar belajar ujian kehidupan. Sekaligus belajar caranya mensyukuri nikmat-nikmat yang tak terkira. Pasangan dan anak-anak salah satunya.

Lagi, ketika menikah dan masalah menerpa, kita tak lagi sendirian. Tapi ada orang di samping yang selalu merangkul dan membuat kita kuat.

Menikah anjuran Allah dan Rasulullah

Postingan ini bukan sedang mempromosikan nikah. Hanya saja sedang memberi sudut pandang bahwa pernikahan tidak semenakutkan apa yang dipikirkan orang di luar sana.

via GIPHY

Menikah juga anjuran Allah, anjuran Rasulullah. Dia yang Kuasanya tak ada yang menandingi, tak mungkin menganjurkan umat-Nya untuk masuk ke dalam jurang keburukan. Semua pasti sudah disiapkan hikmahnya.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…” [An-Nuur/24: 32].

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”

Segala yang belum terjadi, memang tak perlu ditakuti secara berlebihan. Karena selama kita yakin bahwa Allah-lah Sang Maha Pemilik Segala, maka Dia pula yang akan memudahkan jalan kita menghadapi ujian-Nya.

Akan ada banyak ujian dalam pernikahan. Tapi tak sedikit juga kenikmatan yang akan kita rasakan. Bukankah demikian pula hidup? Jika pun kita sendiri, kita akan tetap diuji, dan merasakan kenikmatan yang diberikan Allah.

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

6 thoughts on “Takut Menikah Boleh. Tapi Sebelum Itu…

  1. dulu, sebelum menikah saya juga punya banyak kekhawatiran tersendiri. takut kalau punya suami yang begini begitu. di sisi lain, saya juga pingin nikah. hahahha…

    tapi justru ketakutan ini yang membuat saya jauh lebih selektif dalam memilih pasangan hidup. saya akan melihat jauh lebih dalam tentang dirinya. gagal dalam proses ta’aruf pernah, lamaran terus nggak jadi nikah juga pernah. sampai dikatain pemilih. biar aja. kan kita nikah emang harus milih. nggak semua laki-laki yang datang bosa kita pilih untuk jadi suami kita kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.