Parenting

Teori Parenting itu Tidak Mutlak. So, Ayah Bunda Santai Saja!

teori parenting

Saya pernah kesal dengan seorang praktisi dan penulis teori parenting yang bicara pentingnya menjaga jarak anak. Sebetulnya bahasan ini sih bukan bahasan baru. Karena toh sudah dari dulu memang sudah dicanangkan Keluarga Berencana. Tapi yang jadi permasalahan dan saya tidak suka adalah dia menulis seperti tidak punya adab. “Makanya punya anak tuh dijaga jaraknya. Anak pertama dan kedua saya aja jaraknya segini (saya lupa tepatnya berapa. Yang jelas menurut dia itu sudah ideal)”.

Saya heran. Kok bisa-bisanya ngomong dengan bahasa yang menyalahkan kayak gitu. Seolah-olah dia yang paling ideal. Seolah-olah orang yang nggak bisa jaga jarak anak itu salah. Helloooo, rasanya saya pengen ngomong, “Dikira anak itu bisa disusun kayak lego kali ya. Sebentar bisa langsung jadi. Dikira anak itu seperti robot yang kita ingin kapan dia dilahirkan.”

Anak itu hak prerogatif Allah, Bu. Kita juga bukan tidak berusaha menjaga jarak. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, kita mau apa?

Apa semua teori parenting ada jaminan? Belum tentu!

Kita sendiri juga kaget lho, kita yang baru belajar jadi orang tua, lagi senang-senangnya sama anak pertama yang masih lucu, tiba-tiba harus dihadapkan pada kenyataan bahwa kita hamil lagi. Situ pikir kita nggak shock? Menangis sepanjang malam. Merasa diri bersalah. Tapi siapa yang mau disalahkan? Dia Yang Maha yang menghadirkan janin itu? Naudzubillahimindzalik. Kita masih punya iman. Kita tahu kalau Allah sudah berkehendak maka segalanya menjadi mungkin.

Jangankan yang tidak KB. Yang pakai KB pun belum tentu ada jaminan tidak hamil lagi 🙁 Duh Astagfirullah. Kalau ingat kalimat ibu itu, selalu ada rasa sakit di hati. Semoga Allah beri keberkahan hidupnya. Aamiin.

Memang ada orang-orang yang seperti ini. Merasa diri sudah ahli akhirnya bisa berbicara hanya berdasar apa yang dia tahu. Dia sudah merasa dirinya paling benar. Dia lupa bahwa tidak semua teori bisa dipaksakan karena kondisi setiap orang berbeda dan ada hal-hal yang terkadang terjadi di luar kendali kita.

Tidak menyekolahkan anak di usia dini. Teori parentingnya mungkin begitu. Tapi kalau orang tua harus kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup? Kalau ternyata ibunya lebih bahagia dengan dia punya banyak waktu mengerjakan hal lain, dan dia bisa bahagia melihat anaknya? Apa kita pantas menyalahkan? Tidak. Setiap orang tua sudah PASTI punya prinsip-prinsip, pertimbangan-pertimbangan yang akan dia lakukan untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Apa karena pernah ada orang tua yang menyekolahkan anaknya lantas anaknya tidak baik, jadi bisa digeneralkan bahwa sekolah itu tidak baik? Apa karena teori A B C lantas sudah pasti akan terjadi pada setiap anak? BELUM TENTU. Jawabannya lagi-lagi kembali pada kondisi setiap orang. Jalan apapun yang kita pilih, itu sudah pasti memiliki konsekuensi, memiliki resiko. Yang menjalankan dan merasakan siapa? Ya orang tua itu sendiri.

Tidak ada teori parenting yang mutlak

Maka benarlah bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang namanya keharusan. Hanya firman Allah dan perkataan Nabilah yang pasti. Sisanya, tidak ada yang mengharuskan sama sekali.

Saya nggak meragukan bahwa teori-teori parenting itu salah. Teorinya memang benar kok. Apalagi jika sudah disertai penelitian. Tapi KITA HARUS PAHAM KONDISI KITA sendiri. Tak hanya kondisi fisik, kondisi ekonomi yang kelihatan. Tapi juga kondisi emosional, kondisi kejiwaan kita, kondisi kesanggupan diri. Itu semua harus dipahami dulu dalam-dalam. Gunanya adalah ketika kita sudah paham, maka kita akan lebih mudah untuk memilah teori parenting mana yang bisa kita praktekkan, dan mana yang mungkin perlu diimprovisasi.

Maka, enggak ada teori parenting yang paling benar. Yang ada hanyalah informasi yang cocok dengan kebutuhan anaknya. Dari orangtua yang mau memberdayakan diri dengan belajar dan berpikiran terbuka, pengasuhan pasti akan terasa jauh lebih ringan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Parenting Itu Mudah”, https://lifestyle.kompas.com/read/2018/10/19/142938320/parenting-itu-mudah.

Kita boleh saja bicara teori parenting apapun. Tapi kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang berbeda dengan teori parenting yang kita anut. Sebab kita tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya orang tua dan anak tersebut. Bisa jadi apa yang kita anggap keliru, ternyata justru itu yang paling baik buat orang lain. Sebab dalam teori manusia, apapun itu, tidak ada kebenaran mutlak. Semua sudah mengalami perkembangan terus-menerus dan akan seterusnya berkembang sepanjang manusia hidup. Jadi tidak ada yang bisa memastikan teori hari ini masih berlaku pada masa depan atau tidak.

Satu-satunya cara adalah menghargai setiap pilihan orang lain. Pilihan para orang tua. Anak itu sejatinya diamanahkan pada orang tuanya. Maka yang tahu dan berhak memilih jalannya ialah orang tua itu sendiri. Kita boleh saja mengingatkan. Tapi tidak sekali-kali kita patut menyalahkan atas pilihan orang lain. Sepanjang itu tidak kelewat batas, tidak ada hak kita untuk turut campur pada setiap teori parenting yang dianut orang lain 🙂

Tagged , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.