Pernikahan

Tugas Rumah Tangga Bukanlah Tugas Istri Semata

Dari kata-kata, cinta menjelma jadi tumpukan cucian sampai ke jemuran. Dari kata-kata, cinta menjelma jadi sayur dan lauk yang terhidang di meja makan.
Inilah saat cinta bukan lagi berbentuk rayuan-rayuan pemanis hubungan.
Tapi…
Saat kau dan isterimu sama-sama bekerja, kau tidak bisa ongkang-ongkang kaki hanya karena dirimu seorang pria. Kau bisa bangun siang dan langsung sarapan sementara wanitamu harus bangun pagi dan menyelesaikan banyak pekerjaan.
Jika kalian berdua sama-sama mencari uang, mengapa melimpahkan semua tanggung jawab pada wanita saja?
Sebelum kalian berdua berangkat bekerja, bagilah pekerjaan rumah untuk berdua.
Pemikiran macam apa yang masyarakat pelihara? Bahwa mencuci pakaian seisi rumah adalah pekerjaan wanita, bahwa membersihkan rumah tidak selayaknya dilakukan oleh pria.
Jika kau laki-laki, kau akan dimaklumi walaupun tidak mengurus rumah membantu isteri.
Jika kau wanita, kau harus tetap mengerjakan semuanya meski kau dan dia sama-sama bekerja.
Cinta adalah menyadari bahwa mencuci, memasak, dan menjaga anak itu melelahkan. Cinta menyadari bahwa kau tidak bisa seenaknya sendiri hanya karena kau seorang lelaki.
Sayang, cuci piring makanku.
Cuci bajuku.
Setrika semuanya.
Pel lantai sampai mengkilat.
Bereskan rumah.
Tenangkan bayi kita saat menangis tengah malam.
Antar kakak ke sekolah.
Masak seenak mungkin dengan biaya seminim mungkin.
Setelah semuanya, kau harus belajar cari uang agar wanita juga bisa mandiri seperti prinsipmu selama ini. Sehingga finansial keluarga bukan hanya dariku, tapi semua pekerjaan rumah sah-sah saja kulimpahkan padamu.
Aku mencintaimu, isteriku ~
Tulisan di atas adalah tulisan dari salah satu remaja yang selalu saya suka tulisannya. Ya, dia bernama Afi Nihaya Faradisa. Tapi saya tidak akan membahas soal Afi, karena sudah pernah saya ceritakan di sini. Yang ingin saya bahas saat ini adalah terkait tulisannya yang cukup menarik. Tugas rumah tangga, apakah hanya tugas seorang istri?
(Menurut saya) NAY! Tapi mungkin iya, bagi suami yang bertipe sangat tega. Yang dia hanya merasa memiliki kewajiban untuk mencari nafkah tanpa mau direpotkan dengan urusan rumah tangga. Itu sebabnya saya pernah mengatakan juga di postingan 5 Kriteria yang Bisa Dipertimbangkan dalam Mencari Jodoh. Carilah laki-laki yang memahami agama, sayang orang tua, mandiri, juga mampu berpikir bijaksana. Kenapa? Sebab dengan empat karakter yang saya tulis itu saja, saya yakin sudah mampu memberikan bekal yang cukup baik bagi kehidupan pernikahan kelak. 
http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/kenapa-suami-harus-lebih-sabar-kepada-istri_55fe17bacf9273911d2940bd

Kalau dijabarkan begini:

Pertama, memahami agama. Laki-laki yang memahami agamanya akan tahu bagaimana akhlak yang seharusnya dia terapkan dalam kehidupan rumah tangga. Laki-laki yang memahami agamanya juga tahu bagaimana cara dia membahagiakan istrinya. Sekali lagi, ini jika seorang laki-laki benar-benar paham. Berbeda dengan yang hanya sekedar mengetahui ajaran-ajaran dalam agama tanpa memahaminya ya. 
Kedua, sayang orang tua. Laki-laki yang sayang dengan orang tuanya otomatis dia sering membantu orang tuanya. Terutama ibunya. Jadi kalau ada laki-laki yang mengaku sayang ibunya, tapi pas disuruh masih nanti-nanti ya masih diragukan kata-kata sayangnya. Nah ini akan berkaitan ketika dia sudah jadi suami. Dia yang terbiasa saat masih sendiri membantu orang tuanya, tidak akan segan-segan membantu istrinya bahkan tanpa diminta 🙂
Ketiga, mandiri. Sama saja seperti poin nomor dua. Laki-laki yang sejak masih sendiri terbiasa mandiri, setelah menikah pun dia akan tetap mandiri. Artinya dia mau melakukan sendiri sesederhana mencuci piring sehabis makan misalnya. Dengan kata lain dia tidak mau merepotkan istrinya. 

Keempat, bijaksana. Bijaksana ini terkait kepekaan. Melihat istrinya kerepotan, tanpa diminta dia pasti akan membantu. Melihat anaknya rewel sementara istrinya sedang di dapur, ya dia pasti akan menemani anaknya.

Tidak mutlak tugas istri

So, tugas rumah tangga bukan hanya tugas istri. Bagi suami yang memiliki kepekaan, dia akan tahu kapan istrinya kerepotan, kapan saat harus membantu istrinya.
Maka benarlah kata Afi. Cinta itu tidak hanya sekedar pemanis. Tidak sekedar bersenang-senang atau mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi cinta akan berusaha membahagiakan pasangan dengan cara yang bisa disukai pasangannya sesederhana membantu istri dalam urusan rumah tangga. Bahkan hal ini tercermin pada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW (semoga hadits ini shahih).

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Jadi para suami… urusan rumah tangga memang pada dasarnya tugas seorang istri. Tapi itu tidak mutlak, dengan kata lain tidak boleh membantu istri atau membiarkan istrinya sangat kerepotan tanpa mau membantu sama sekali.

Istri tidak perlu khawatir

Kita para istri pun tidak perlu khawatir dengan banyaknya tugas rumah tangga. Karena pahala yang akan Allah berikan untuk mengerjakan urusan rumah tangga itu tidak ternilai.

Nabi Muhammad SAW bersabda: Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, Allah SWT menghapus dosa-dosanya. dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan. Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Well, pada akhirnya antara suami dan istri tetap dibutuhkan kerja sama. Mau saling menghargai, dengan saling membantu satu sama lain.

Semoga kita dan pasangan semakin kompak ya ^_^

8 thoughts on “Tugas Rumah Tangga Bukanlah Tugas Istri Semata

  1. laki-laki mandiri dan biasa pegang tugas rumah akan nyaman saat dia harus keluar dan merantau. biasa atuh lah kalo cuman cuci baju. lha kalo ga pernah? pasti langsung nyari laundry.

  2. Kenapa menikah kalau kita harus kerja kan kodrat suami menjadi tulang punggung keluarga? Kalau misalkan istri merasa lelah karena harus kerja dan ngurus rumah tangga, ya gak usah nikah dong, kan ujung-ujungnya gak Ikhlas. Seperti hadis di atas "Nabi Muhammad SAW bersabda: Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, Allah SWT menghapus dosa-dosanya. dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan. Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat." di sana tercantum jelas kata Ikhlas.

    Menurut saya si harus pinter-pinternya kita saat jadi istri dan ingin bekerja. Carilah pekerjaan yang ringan dan tidak menyita waktu, biar sama2 enak. Istri punya penghasilan tambahan, suami dan anak bisa keurus. Kalau ada uang lebih bisa sewa pembantu untuk bersihin rumah. Itung-itung menyediakan lapangan pekerjaan. Kalau penghasilan gak cukup, ya sabarin aja, itu resiko yang harus ditanggung. Bahkan, sesibuk apapun suami pasti akan bantu istrinya dengan sukarela. Seperti jagain anak. Kalau suami gak mau bantu sama sekali, istri harus pahami dulu pekerjaan suami sangat melelahkan hingga menguras tenaga dan pikiran atau bagaimana. Kalau kerjaan suami santai menurut saya istri tinggal minta tolong dengan lembut "Mas bisa minta tolong bentar gak jagain dede?", jangan kasar seperti ini "Mas jagain si dede dong!"

    Begitulah Mba Ade menurut pandanganku. 🙂

  3. Hihihi. Iya Mbak, kalau si istri mengeluh terus sih juga tidak baik. Poin tulisan saya sebenernya untuk para suami, supaya – ya punya hatilah sedikit untuk membantu istrinya. Tidak tega membiarkan istrinya terus kerepotan. Perkara apakah suami lelah atau tidak, dikembalikan lagi pada pasangan masing-masing. Ya intinya saling aja kali ya. Saling membantu, saling memahami. Thanks Mbak sharingnya 🙂

  4. hihih iya betul bizanget… aku sendiri mengalaminya….
    alhamdulillah suami bersedia berbagi tugas… syaratnya cuma satu yang penting aku ngomongnya alus dan santun pasti suami laksanakan… ahhh itu mah kecil… hehheee

    sepertinya dia trauma melihat istri-istri yang selalu teriak teriak pada suaminya heheheh

  5. Aku suka ngerjain pekerjaan rumah, apalagi masak 😀

    Tapi pasti ada capeknya sih (boong banget kalo gak capek), dan pasti ada pekerjaan rumah yang memakan waktu kayak nyetrika. Aku tipikal terbuka ke suami dan alhamdulillah dia mau dengerin. Dari awal nikah aku udah mengeleminasi kerjaan rumah apa yang makan waktu, biar diasistenin org lain. Dan sebentar lagi makin banyak kerjaan rumah yang mau diasistenin org menjelang HPL. Heuheuheu….. Biar bisa fokus pegang anak + suami sama kerjaan yg lain.Aku suka ngerjain pekerjaan rumah, apalagi masak 😀

    Tapi pasti ada capeknya sih (boong banget kalo gak capek), dan pasti ada pekerjaan rumah yang memakan waktu kayak nyetrika. Aku tipikal terbuka ke suami dan alhamdulillah dia mau dengerin. Dari awal nikah aku udah mengeleminasi kerjaan rumah apa yang makan waktu, biar diasistenin org lain. Dan sebentar lagi makin banyak kerjaan rumah yang mau diasistenin org menjelang HPL. Heuheuheu….. Biar bisa fokus pegang anak + suami sama kerjaan yg lain.

    Pengennya sih semua bisa dikerjain sendiri. Apa daya tangannya cuma dua, otaknya cuma satu, raganya terikat ruang waktu 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *