Cerita Bunda

Ekspektasi Berbeda dengan Realita? Santai Aja Deh!

Saya sering bersyukur bisa hidup di era sekarang, di mana era teknologi sudah lebih maju, ilmu juga jauh lebih berkembang. Tapi kadang jadi pusing juga. Percaya atau tidak (setidaknya bagi saya pribadi), kebanyakan ilmu itu sering membuat kita jadi merasa salah tingkah. Sering merasa ditekan, harusnya begini lho. Eh tidak boleh begini nanti jadi begitu. Harusnya seperti ini, biar ina ini ina ini ina ini. Whuaaaaa, streslah jadinya :v :v
Sederhananya dalam hal pengasuhan anak atau parenting misalnya. Sudah berapa banyak ilmu parenting yang beredar. Dari mulai awal (menjaga) kehamilan sampai pengasuhan anak dari mulai anak-anak kecil sampai dewasa. Semua sudah terangkum dalam tulisan di berbagai buku dan internet. Hasilnya, membuat para ibu muda seperti saya lebih dimudahkan, namun juga jadi memiliki idealisme sendiri karena ilmu yang dibacanya *ini blunder banget ya ngomongnya. Gini gini, simpelnya kita jadi merasa tidak ingin melanggar ilmu-ilmu yang sudah kita baca. Alias dengan kata lain, kita ingin menjadi ibu yang sempurna. Yap, this point! Perfect mom!

https://pixabay.com/id/tidak-ada-manusia-yang-sempurna-688370/

Situasi dan kondisi yang berbeda

Sayangnya, terkadang kenyataannya berbeda. Belum lagi dengan teori-teori yang dipatahkan oleh orang tua kita sendiri, yang hidup sebelum era digital merebak. Beberapa contoh misalnya, saat hamil kita tidak boleh makan ini itu. Padahal menurut ilmiah saat ini, hal tersebut tidak berpengaruh. Anak baru lahir, ASI belum keluar, orang tua menyuruh bayi kita diberikan susu formula saja. Padahal ASI belum keluar itu hal yang wajar. Dan seterusnya, yang masih banyak lagi jika dijabarkan.
Hasilnya, kita ingin menerapkan ilmu-ilmu yang sudah kita baca pada anak. Tapi karena ada orang tua, alhasil datanglah berbagai campur tangan berupa nasihat-nasihat. Apalagi jika sudah ada kalimat, “ibu anaknya 8, tuh sehat-sehat aja semuanya.” “Anak ibu semua makan pas umur 3 bulan, jadinya sehat-sehat aja kan sampai sekarang.” Maka buyarlah semua yang sudah kita baca -_- Kita sebagai anak sering dituntut untuk mengikuti. Kalau tidak, maka bisa bisa dianggap tidak nurut dan keras kepala. Padahal sudah jelas kondisi zaman dulu dan sekarang berbeda. #curcoldetected :v
Belum lagi dengan situasi dan kondisi pada kenyataan sering berbeda. Pengennya sih, anak tidak sering dipakaikan diapers, tapi apa daya cucian malah jadi banyak, dan bisa stres dibuatnya karena pekerjaan rumah sudah terlampau banyak yang harus diselesaikan. Pengennya sih MPASI home made, tapi kok ya lama-lama mati ide, mati gaya, bingung mau menu apalagi, akhirnya beli ajalah yang instan-instan. Dan sebagainya, yang masih banyak lagi. Yap, akhirnya terkikislah ilmu parentingnya.

Idealis?

Apa artinya? Mungkin memang kita, ibu muda yang terlalu idealis. Ingin menerapkan semua ilmu yang sudah dibaca. Hasilnya, kita jadi merasa ingin menjadi ibu yang sempurna. Sebab ilmu-ilmu yang terlihat sangat ideal jika diterapkan. 
Ya memang sih, sepertinya kalau semua diterapkan, anak kita akan tumbuh dengan sangat sehat, sangat baik, sangat terpuji, dan sangat-sangat sempurna. Tapi kembali lagi, bagaimana jika sikon di kenyataannya berbeda? Diuji dengan berbagai hal yang benar-benar menguras tenaga, pikiran dan kesabaran. Mulai dari keadaan diri sendiri, nasihat orang tua, tuntutan lingkungan, sampai perbedaan pola asuh dengan suami sendiri. Akhirnya, saya bisa bilang, bahwa rasanya kita tidak mungkin menjadi ibu dan orang tua yang sangat amat sempurna, hiks. 

Berhenti berpikir untuk menjadi sempurna

Mungkin benar apa yang sering dikatakan ibu-ibu kebanyakan. Ilmu parenting buyar saat sudah ada anak dan mengalami sendiri saat sudah menjadi ibu. Karena ya itu tadi, ternyata ilmu dengan kenyataan bisa jadi tidak sejalan. Tidak jarang kita akan menemukan berbagai rintangan untuk menerapkannya. Sampai sini, mungkin jalan satu-satunya adalah berhenti berpikir untuk menjadi ibu yang sempurna. 
Saya tidak bilang bahwa kalau gitu ya nggak usah baca ilmu-ilmu parenting. Tidak. Karena membaca dan mempelajari ilmu tidak ada yang percuma. Dan sesulit apapun, ilmu tetap perlu menjadi pijakan. Setidaknya sebagai pegangan. Namun – melainkan, barangkali kita tidak perlu menjadi ibu yang terlalu idealis. Sebab pada kenyataannya kondisi setiap orang berbeda. Bukan tidak mungkin pula kan, sang penulis ilmu parenting pun sebenarnya mengalami banyak kendala untuk menerapkan apa yang ditulisnya. 
Well, yeaaah, ini curhatan pribadi aja sih hehe. Intinya sebagai ibu kita harus lebih santai kali ya. Tidak perlu menanggapi serius – jika tidak sesuai dengan ilmu parenting, berarti kita bukan ibu yang ideal. Toh seorang ibu pun tidak ada yang sempurna. 
Selama anak kita bertumbuh dan dirawat hingga berkembang dengan dan akhlaknya baik, setiap ibu sudah menjadi seorang ibu yang baik. Begitu pula dengan sang ayah. Selama ayah memelihara kedekatan pada anaknya, ya berarti sudah menjadi ayah yang baik 🙂 Karena sebenarnya, pelajaran sesungguhnya adalah saat kita mendidik anak secara langsung 🙂 Yap, anaklah yang mengajarkan kita untuk menjadi orang tua yang bijak 🙂

13 thoughts on “Ekspektasi Berbeda dengan Realita? Santai Aja Deh!

  1. sifatnya kondisional kali mbak. sebagian bisa diterapkan, sebagian lagi ngga. sing sabar yoo, saya ngga pernah jadi ibu, dan belum punya istri, ga kebayang juga rasanya kayak apa.

  2. he eh nih, dengan reverensi dari buku gitu, nggak cuma parenting sih, banyak buku motivasi juga, membuat diri jadi menunduk yg artinya merasa banyak kekurangan karena kita punya idealisme yg tinggi hasil dari pemahaman buku yang kita baca. Tapi nggak ada salahnya juga sih, biar gimanapun kita jadi punya gambaran untuk melakukan sesuatu. Ibaratnya ingin ke cina baru sampai jakarta, ya lumayan dah bisa berlibur dijakarta, hihi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *