Cerita Bunda, Untitled

Grup Ibu-ibu, Selow Aja Lah :D

Di era media sosial seperti sekarang, sebagian besar kita pasti tidak terlepas dari yang namanya grup atau komunitas. Termasuk di kalangan ibu-ibu. Ah, apalagi ibu-ibu ya yang biasanya memiliki lebih banyak grup. Grup tentang hamil, menyusui, anak, kelompok bermain atau sekolah anak, grup tentang kesamaan passion yang isinya ibu-ibu sampai grup antar tetangga yang juga ibu-ibu. 
https://pixabay.com/id/chatting-klik-wanita-bicara-1299301/
Tapi kadang grup ibu-ibu ini suka bikin kita – ah jangan kita, saya aja deh – bikin baper. Entah karena perasaan perempuan, atau memang sayanya yang sangat sensitif :v

Baper (bawa perasaan.red)

Melihat ibu-ibu lain bekerja, yang pagi-pagi sudah rapi, wangi, bersih. Sementara kita di rumah memandang foto ibu bekerja itu dalam keadaan kucel, belum mandi, masih repot ngurus anak dan bersih-bersih rumah, eh baper. Kepingin rasanya pagi-pagi udah rapi begitu, lalu berangkat kerja dan menikmati kemacetan semilir angin sembari me time di jalan menuju kantor.

Melihat ibu-ibu yang bercerita aktif menulis, aktif berkumpul dengan komunitas, baper juga. Karena kita cuma bisa haha hihi aja di grup, sambil menyusui anak kita dan meratap bahwa anak kita belum bisa ditinggal. 
Melihat ibu-ibu yang bercerita sedang hamil, cerita-cerita tentang kehamilannya, sementara kita belum dikasih-kasih.

Melihat ibu-ibu yang bercerita anaknya sudah bisa ini itu, sementara anak kita masih segitu-gitu aja. Belum nambah perkembangannya. Padahal, perkembangan setiap anak memang berbeda.
dikutip dari buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 tahun
Melihat ibu-ibu yang bercerita tentang liburannya bersama keluarga, kita di sini hanya bisa menatap nanar karena suami lembur terus.
Huhu, serba salah ya. Maunya dengan grup kita bisa relaksasi dengan ibu-ibu lain. Tapi nggak jarang, kita malah jadi baper karena cerita ibu-ibu juga. Duh perempuan :v
Tapi jangan sampai, karena baper kita jadi mencak-mencak sendiri. “Ih sombong, baru hamil aja udah begitu.” “Ih sombong, anaknya udah bisa begitu aja dipamerin.” “Ih sombong baru liburan gitu aja, udah kowar-kowar.” Daan sebagainya. Bla bla bla, bla bla bla. Apalagi sampai ngomong, “jangan gitu dong, hargain gue kek.” Waduh, jangan deh!
Makanya, saat baper itu muncul biasanya saya suka ngomong sendiri. “Kalo emang bikin gue kesel, ngapain juga gue masih mantengin grup? Mending beberes yang lain” “Kalo gue masih mau terus di grup, ya harusnya paham dong, sah-sah aja orang cerita.”
Yap, karena pada kenyataannya, saya tidak bisa yang namanya menahan mereka untuk mengikuti mau saya. Istilah kasarnya, “memang siapa sih gue, yang sampai bikin orang harus menjaga banget perasaan gue?” Bisa saja kan keadaannya berbalik, suatu waktu, ada cerita saya juga bikin ibu-ibu lain diam-diam baper. Dan saya nggak sadar saking keasyikan cerita!

Nikmat yang berbeda

Well, intinya, kalau sudah masuk media sosial, termasuk grup, maka kitalah yang harus berlapang dada. Jika di dunia kenyataan saja kita mendapati begitu banyak perbedaan, maka di media sosial pun sama. Memang, di medsos perbedaan itu lebih jelas terlihat. Tapi tetap kitalah yang harus siap menerima perbedaan tersebut jika ingin masuk ke dalamnya. 
Pada akhirnya, ya kembali lagi. Bersyukur saja. Karena setiap manusia memang diberi kenikmatan yang berbeda. Barangkali ibu-ibu lain kenikmatannya itu, kita di sini kenikmatannya yang lain. Karena bisa jadi juga, apa yang menurut orang lain itu nikmat, belum tentu buat kita. Ya namanya rumput tetangga memang kadang terlihat lebih hijau kan.

Lagi pula sebenarnya berguna juga masuk grup ibu-ibu. Bisa saling berbagi macam-macam. Mulai dari resep masakan, tips-tips kehamilan, tentang anak dan perkembangan bahkan cara penyembuhan sakit pada anak, tentang berhubungan suami istri pun dibahas *upz, maksudnya tentang tips dan cara menghangatkan hubungan suami istri ya :)) Sampai bisa saling curhat permasalahan ibu-ibu :v 

So, kalau sudah di ranah grup ibu-ibu ya dibawa selow aja lah biar perasaan tidak terbuang sia-sia. Ye nggak, ye nggak? 😀

4 thoughts on “Grup Ibu-ibu, Selow Aja Lah :D

  1. halo mbak, kadang saya ngerasa agak intimidated kalo udah join grup ibu-ibu (terutama di facebook atau whatsapp) karena kadang ada-ada yang judgemental pake banget.
    kemaren baby sitter nya kakak ipar saya baru aja ngadu ke saya, katanya kaka ipar saya diomongin sama ibu-ibu yang suka nungguin anak-anaknya di TK karena yang sering jemput si ponakan adalah saya. Ya dibilang sok sibuk lah, ga peduli anak lah, ga menikmati jadi ibu lah. Padahal si kaka ipar juga ada bisnis sampingan yang lumayan banget buat tambah-tambah dan ngisi waktu. hih, geram.

  2. Saya malah gak punya group ibu2. Yang ada juga group kepenulisan atau group teman sekolah dulu jadi kayaknya gak ada deh yang baper2an. Eh, ada sih satu orang tapi kayaknya dia keluar sendiri dari group gara2 gak ada menggubris kebaperannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *