Cerita Bunda, Kehamilan, Kontes

Suamiku Sabar, Suamiku Sayang

Jika Ramadhan lalu saya masih menjalani puasa sendiri, Alhamdulillah sekarang sudah bertiga hehe. Ada suami dan anak. Jadi itu artinya, perjalanan pernikahan saya dan suami akan menjelang satu tahun. Apa yang sudah dialami tentu saja cukup banyak, meskipun dalam usia pernikahan, satu tahun belumlah seberapa. Masih seumur jagung kalau kata orang.
Allah bukan saja Maha Baik memberi saya jodoh begitu cepat. Tapi juga kehadiran anak yang tidak disangka langsung diberi-Nya. Ya, meskipun kata orang kami jadi tidak bisa berpacaran lama-lama. Toh, siapa juga yang bisa membaca rencana-Nya. Apalagi sesungguhnya kami beruntung, sebab kehadiran anak menjadi dambaan setiap pasangan yang sudah menikah.

Bicara anak, saya jadi teringat saat awal-awal hamil Emir dulu. Saya mengalami masa-masa ngidam yang luar biasa. Mual tidak ketulungan. Sampai-sampai saya nyaris tidak bisa bangun dari tempat tidur. Belum lagi setiap mual saya tidak nafsu makan sama sekali dan hanya mau minum air putih. Jadilah semakin sakit karena asam lambung turut naik.
Saat itu siapa lagi yang sabar melayani saya kalau bukan suami. Bahkan kalaupun saya bisa bangun dan memasak, saya hanya bisa menyiangi sayuran. Selebihnya suami yang meneruskan memasak dan saya langsung masuk kamar. Karena tidak tahan dengan bau bumbu-bumbunya. 
Saya ingat sekali, suatu waktu saat saya sedang sakit dan tidur, saya terkejut saat bangun mendapati suami sudah depan laptopnya di kamar. Ya, suami bekerja di kamar. Saat saya tanya kenapa, “Kan nemenin Ade, biar Ade nggak sendiri.” Nyeesss. Hati saya langsung luluh. Padahal kalaupun tidak di kamar, saya bisa memanggil dia kapan saja. Karena memang suami bekerja di rumah. Tapi mendengar alasannya dan melihat dia sampai merelakan dirinya bekerja di kamar, hati wanita mana yang tak tersentuh T_T.
Tidak hanya itu, suami juga yang seringkali menjadi pengingat bahwa saya akan menjadi seorang ibu. Tidak bisa lagi egois memikirkan diri sendiri. Karena dalam perut ada janin yang butuh diberi asupan agar tetap hidup dengan baik. 
Jadi, selama masa-masa mual itu, suamilah yang mengurus semuanya. Yang dengan sabar mengurus istrinya setiap kali tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sampai-sampai mau menyuapi, agar saya mau makan. Belum lagi, suami juga yang setiap siang mondar-mandir ke rumah sakit untuk mengambil nomor, agar saat malam kami konsultasi kandungan, sudah tidak antri lagi. 
Maka berdosalah saya jika tidak bersyukur saat ini. Allah sudah memberikan suami yang begitu sabarnya mau melayani dan menuntun saya. Kelak, saat Emir sudah besar, akan saya ceritakan kejadian ini. Agar ia tahu, bahwa dirinya dikandung oleh ibu yang memiliki suami yang begitu sabar.

Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga 

28 thoughts on “Suamiku Sabar, Suamiku Sayang

  1. Kalo saya, karena jauh dari orang tua, mau nggak mau yang direpotin suami. Alhamdulillah maa suami juga sabar. Semoga kita senantiasa jadi istri2 yang bersyukur ya.. 🙂

  2. Semoga kalian senantiasa bahagia ya…. bersyukur dikaruniai suami demikian. Karena tidak sedikit juga suami yg cuek. Aku sendiri sangat bersyukur, kanjeng bojoku perhatian banget. Semua keperluan pasca bersalin yg ngurus suami. Bahkan urusan ngobatin luka bekas episiotomi sampe nyuapin mamam juga beliau 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *