Pernikahan

Mari Kita Pahami Batasan Setelah Menikah

batasan setelah menikah

Menarik waktu baca Insta Story Mas Kurniawan Gunadi tentang Batasan. Ceritanya sih beliau cerita kalau ada seorang wanita yang kirim Direct Message dan curhat gitu. Singkatnya, Mas Gun merasa terganggu. Istilahnya, kenapa harus curhat ke dia? Si perempuan tahu nggak kalau dia punya kehidupan sendiri. Sudah jadi suami orang dan juga seorang ayah. Nah di situlah Mas Gun bilang tentang pentingnya kita tahu batasan. Saya jadi tertarik untuk ngomongin hal ini juga. Terutama batasan setelah menikah.

Saya ingat, pernah ada seorang laki-laki yang tiba-tiba kirim email ke saya. Tanpa panjang kalam, dia langsung bilang, “Istri saya selingkuh wajibkan kita pertahankan rumah tangga demi anak2”

Tidak ada titik, tidak ada tanda tanya. Tapi mungkin maksudnya memang bertanya. Dalam hati saya langsung, Waduh, kenapa harus bilang ke gue? Mang gue tahu jawabannya? Ya saya jawab aja dengan singkat, “Mohon maaf, saya tidak berkompeten di bidang ini.”

Jangan menganggap saya penyelesai masalah

Lah iya dong. Saya bukan pakar pernikahan kok. Saya juga bukan psikolog atau konselor yang bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain. Kalau misalnya dia bilang, “Oh karena saya sering baca blog Mbak yang sering nulis tentang pernikahan.” Lantas, apa hanya karena saya menulis, lantas saya bisa menjadi expert di bidang pernikahan?

Di sinilah seringkali orang lupa tentang batasan. Pertama, dua orang yang curhat ke Mas Gun dan saya tadi adalah dua orang yang lupa bahwa background kami ‘HANYALAH’ seorang penulis. Saya pribadi lebih tepatnya, tidak pernah sekolah psikologi. Untuk menjadikan saya teman curhat, ya tidak sepenuhnya benar. Jangan hanya karena saya sering menulis tentang pernikahan, berbagi pengalaman, dan wawasan pernikahan (yang saya tahu), lantas bisa langsung menganggap saya adalah seseorang yang bijak. Yang sepertinya mampu menyelesaikan masalah orang lain.

Berbagi itu ada batasannya. Sepanjang saya memang tahu jawabannya, pasti akan saya jawab. Tapi untuk urusan rumah tangga, sorry to say, saya bukan penyelesai masalah. Itu masalah Anda kasarannya. Saya tidak tahu bagaimana keseharian Anda. Saya tidak tahu bagaimana karakter Anda dan istri. Maka saya tidak bisa menyelesaikan masalah Anda.

Urusan rumah tangga adalah urusan kita dan pasangan

Lagi kenapa sih, urusan rumah tangga kok malah curhat ke orang lain yang bahkan saudara atau teman pun bukan? Padahal, urusan rumah tangga itu, semestinya HANYA menjadi urusan kita dan pasangan. Sebab kita sendirilah yang sama-sama tahu permasalahan dan karakter pasangan. Kalaupun memang kita butuh bantuan, maka datanglah ke orang-orang yang lebih expert, lebih ahli, lebih bijak di bidangnya. Psikolog, konselor pernikahan, atau siapapun yang sekiranya memang berkompeten bijaksana dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.

Sedih kalau ada orang yang suka lupa batasan. Ada masalah, bukannya diselesaikan berdua pasangan, tapi justru lari ke orang lain yang tidak mengerti sesungguhnya sebuah permasalahan. Jangankan pada yang bukan siapa-siapa, curhat pada teman pun kita tidak bisa sembarangan. Saya pernah nulis soal batasan pertemanan ini. Salah-salah, kita akan menemukan kenyamanan baru di luar, yang justru menambah masalah baru dalam rumah tangga kita. Naudzubillahimindzalik.

Pahamilah bahwa setelah menikah, kita terikat

So, ketika kita sudah berumah tangga, pahamilah bahwa sekarang kita terikat. Bukan saja terikat secara sah dengan pasangan. Tapi kita juga terikat dengan batasan-batasan yang harus kita tahu. Kita harus sadar bahwa setelah menikah, kehidupan kita sudah pasti berbeda. Kita tidak akan lagi sebebas saat single. Kita tidak akan lagi bisa curhat ke sembarang orang lain. Kita harus paham bahwa ada pasangan yang harus kita jaga. Perasaannya yang jangan sampai kita abaikan.

Baca: Apakah Menikah Bikin Kita Jadi Terbatas?

Masalah-masalah yang terjadi, maka seyogyanya dibicarakanlah baik-baik dengan pasangan. Karena sesungguhnya kita dan pasanganlah yang tahu karakter masing-masing. Jika memang sulit mencari jalan keluar, datanglah pada orang-orang bijak yang bisa mengerti permasalahan rumah tangga. Jangan sekali-kali kita datang pada teman atau saudara perempuan atau laki-laki yang sudah berumah tangga. Mereka punya kehidupannya sendiri. Tidak patut untuk diganggu dengan permasalahan kita. One again, kita dan pasanganlah yang seharusnya menyelesaikan masalah sendiri.

Mari kita pahami batasan. Bahwa tidak semua hal bisa kita lakukan. Kita harus tahu hidup kita sendiri. Kita harus tahu konsekuensi apa saja ketika kita sudah memilih sesuatu. Keep wise 😊

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.