Parenting

Kesabaran dan Pengingat Diri

Beberapa waktu lalu tersiar kabar tentang seorang ibu yang melempar bayinya dari lantai 3 sebuah mall di Bekasi. Tidak tahu apa alasan pastinya, yang jelas saya tidak habis pikir mengapa hingga saat ini masih ada saja kejadian seperti itu. Ya, ini bukan sekali dua kali tentang pembunuhan bayi atau anak kandung oleh ibunya sendiri. Yang menarik perhatian saya adalah saat melihat salah satu komentar di berita tersebut, “Kok tega sih? Ibunya lupa kali ya sakitnya saat-saat hamil sampai melahirkan.” See? Iya, apa si ibu lupa?

Semenjak Allah memberi kesempatan pada saya untuk hamil lebih cepat, saya justru selalu merasa berdosa jika saya tidak bersyukur saat ini. Itu sebabnya, saya sering mengingatkan diri sendiri, bahwa kelak ketika Emir sudah besar lalu dengan segala tingkahnya menguji kesabaran saya, saya harus ingat saat-saat hamil dulu. Saat Allah mempercayakan saya untuk memegang amanah besar, amanah yang diharapkan banyak orang, yang barangkali tidak semua orang dapat merasakannnya, saya harus ingat bahwa saat pertama hamil dulu saya begitu bahagia. Begitu terharu. Begitu mengharapkan kehadirannya.

Jujur saja, setelah saya sendiri merasakan hamil, saya jadi tidak habis pikir dengan orang tua yang tega memarahi anaknya, bahkan menyiksanya. Apakah ibu itu lupa ketika hamil dulu ia begitu ceria bersama suaminya? Saat bayinya dulu begitu dijaga? Tapi… ah sudahlah.

Maka yang harus disadari mungkin dua hal di bawah ini:
1. Kita dipercaya untuk diberi amanah berupa anak. Amanah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.
2. Saat hamil hingga melahirkan, tentulah kita begitu dalam kepayahan. Merasakan mual. Juga tanda-tanda hamil lainnya. Juga dalam kepayahan yang luar biasa saat melahirkan. Maka apa kita tega menyakiti diri sendiri dengan melupakan segala rasa sakit itu dengan menyiksa anak sendiri?

Barangkali kesabaran memang sebuah kata yang sulit pada kenyataannya, tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Seperti seorang ibu, ketika tingkah anak mulai menguji kesabaran, maka ingatlah saat pertama hamil. Saat sewaktu bayi, anak kita begitu dijaga, disayang dan dimanja. Dan yang terpenting, ingatlah saat Allah memberi kepercayaan-Nya pada kita untuk memegang amanah yang diharapkan banyak orang. 

4 thoughts on “Kesabaran dan Pengingat Diri

  1. Setuju bunda, karena pada hakikatnya anak memanglah sebuah ujian untuk setiap orang tuanya. Sejak ia dalam proses pembuatan, kehamilan, hingga pengasuhan, ataupun saat telah dewasa kelak. Jika seorang ibu bisa tega kepada anaknya, tanda ia memang sudah tidak memiliki keimanan pada Tuhan nya. Nauzubillah mindzaliq :'(

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *