Pernikahan, Tips

Relationship Goals dan Ekspektasi

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus pasangan ABG yang dijuluki ‘fans’nya #relationshipgoals. Saya agak terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin hubungan yang baru sekedar pacaran bisa disebut relationship goals -_- Bukankah goals berarti telah mencapai tujuan? Tujuan apa yang dimaksud para fans ini? Hubungan yang bisa peluk-pelukkan, cium-ciuman, mesra-mesraan di media sosial? Oke fine, jika pasangan yang dimaksud adalah pasangan yang sudah menikah berpuluh tahunan. Tapi ini lho masih pacaran! Apa karena si fans ini ingin seperti pasangan ABG itu? Yang bisa bebas melakukan semua itu di media terbuka? Mbuhlah -_-
Jika relationship adalah hubungan dan goals adalah tujuan. Maka seperti yang saya katakan, hubungan yang mencapai tujuan adalah hubungan mereka yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun. Tapi ini pun belum bisa disebut goals. Ya dengan kata lain goals adalah ketika dua pasangan setia dan bersama hingga benar-benar akhir hayat. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena mereka yang bertahan lama dalam pernikahan pasti sudah memakan asam garam (pengalaman.red) kesabaran dalam suka duka kehidupan pernikahan. Dan bukan hal baru lagi, kalau pacaran belum tentu akan berujung pada pernikahan. Contohnya pasangan ABG tadi. Saat pacarannya sudah berjalan 5 bulan , mereka justru putus ckck.

Jangan Memasang Ekspektasi Baik 100% Sebelum Menikah

Masa remaja memang masa pencarian jati diri. Itu sebabnya seringkali remaja butuh role model untuk dijadikan contoh. Tapi yang membuat miris adalah ketika contoh yang diambil itu tidak baik. Dan ini bisa saja berdampak di masa depannya. Kembali lagi, jika dihubungkan dengan kasus pasangan ABG tadi, yang ditakutkan adalah para fans yang masih remaja ini akan memandang bahwa pacaran itu sangat keren. Memandang bahwa pacar-pacar mereka adalah pasangan yang akan bertahan selamanya. Pasangan yang paling ideal seterusnya. Padahaaal… memasang ekspektasi atau harapan sebelum menikah itu akan menumbuhkan rasa kecewa yang besar kalau katakanlah hubungan mereka memang sampai di pernikahan.
Pernikahan itu tidak hanya sehari dua hari. Satu bulan, dua bulan. Tapi seterusnya. Memang itu kan harapan kita? Pernikahan yang bisa berjalan sekali hingga akhir hayat. So, pasangan kita kelak, pasti akan ada saja celahnya. Abaikan pacar-pacar kalian yang masih manis-manis. Selalu baik di hadapan kalian. Karena semua itu akan berubah usai menikah :)) Jangankan menunggu bertahun-tahun, manisnya pernikahan itu hanya bertahan 1 sampai 3 bulan. Seterusnya, kita akan melihat bahwa pasangan kita tidak sesempurna yang kita pikirkan :)) 
http://suhardicamp.blogspot.co.id/2016/02/cara-menghindari-kekecewaan-dengan.html
Saya tidak berkata bahwa pasangan kita memiliki celah 100%. Tapi kalau kita memasang ekspektasi kebaikan yang 100% sebelum menikah, maka hanya rasa kecewa yang kita dapatkan. Pacar yang dulunya selalu memberi bunga setiap hari, usai menikah jangankan memberi bunga, menaruh letak handuk yang benar saja kita sudah senang. Pacar yang dulunya menanyakan kabar setiap detik, usai menikah jangankan memberi kabar, dia tidak cuek saja kita sudah bahagia. Dan banyak lainnya. Intinya pacar yang dulunya begini, begini, begini, tidak akan sama 100% usai menikah. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap manusia punya sisi kekurangan dan selalu mengalami perubahan. Pacaran yang sering dilarang-larang ini bukan tanpa sebab. Bukan saja lantaran hubungan antar wanita dan laki-laki telah diatur dengan baik. Karena seringkali pacaran juga hanya menunjukkan sisi manisnya saja. Kekurangannya belum kelihatan. Karena belum satu rumah. 
Karena belum satu rumah ini kita belum tahu kebiasaan-kebiasaan pacar yang bisa jadi berbeda 100% dengan kita. Kita terbiasa bersih, di rumahnya pacar malah tergolong cuek, jadi walaupun kotor cuek-cuek saja. Kita terbiasa melakukan segala sesuatunya runtut dan teratur, pacar justru easy going alias super santai. Intinya, kebiasaan kita dengan pacar seringkali berbeda. Karena memang dibentuk di rumah dan orang tua yang berbeda. Maka itu yang dibilang menanamkan ekspektasi kebaikan 100% sebelum menikah akan menimbulkan rasa kecewa.

Sebenarnya, saya bisa menulis ini karena memang sudah mengalami sendiri. Walaupun saya dan suami tidak pacaran, tapi kami sudah saling mengenal sejak lama. Mengenal sejak lama saja belum tentu selalu sesuai dengan yang dilihat. Dalam artian, setelah satu tahun menikah banyak hal dari suami yang membuat saya cukup terkejut. Oh ternyata dia begitu. Sama halnya dari pihak suami. Barangkali dia terkejut melihat saya yang kenyataannya seperti ini hehe. Dan mungkin selanjut-selanjutnya akan ada kejutan-kejutan baru lagi :v

Pernikahan adalah Perkenalan Seumur Hidup

Ini sebabnya, mengapa ta’aruf sebelum menikah lebih dianjurkan. Karena dalam ta’aruf, perkenalan sebelum menikah benar-benar harus terbuka. Tidak ada yang disembunyikan. Gunanya untuk mengetahui calon pasangan dengan sebenar-benarnya. Di ta’aruf, kedua calon ini juga diharuskan membawa keluarga masing-masing. Jadi, kalau mau tahu lebih detailnya pasangan, bisa tanya ke keluarganya. Bukan diam-diam berhubungan dengan pasangan ta’aruf :))
Finally, intinya sebelum menikah kita tetap harus menyediakan ruang dalam hati untuk menerima segala kekurangan pasangan kelak. Menerima bahwa tidak ada satu pun manusia sempurna dan selalu sesuai dengan keinginan kita di muka bumi ini. Dan apa yang dinamakan relationship goals? Kalau bisa saya simpulkan, goals adalah ketika kita sudah menikah dan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Karena sesungguhnya pernikahan adalah perkenalan seumur hidup. Juga yang mampu bertahan sampai maut memisahkan 🙂

6 thoughts on “Relationship Goals dan Ekspektasi

  1. kalau menurut saya, jika sudah cukup umur dan sudah memiliki penghasilan tetap segerakanlah utk menikah, karena menikah adalah bagian dari sunnah, lebih baik menikah daripada pacaran yang mendekatkan diri dengan perbuatan maksiat 🙂

  2. Bener2, yg nikah aja msh bisa cerai apalagi yg blm jd apa2.
    Gagal paham sama muda mudi jaman skrng, msh pacaran aja udah manggil "mami papi".
    bener2 pelajaran buat ortu kyk kita spy jaga dan didik anak baik2 ya mbak…
    TFS 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *