Kids, Tips, Untitled

Stop Body Shaming! Karena Bagi Seorang Ibu Anak adalah Anugerahnya

Baru-baru ini ada kabar tidak enak dari salah seorang artis yang mengalami serangan cacian dari netizen. Memang bukan sang artisnya, melainkan anaknya yang dihina. Kalau mau diperkarakan, bisa saja artis tersebut melapor ke pihak yang berwajib. Toh sekarang sudah ada Undang-undang ITE tentang Body Shaming. Tapi sepertinya tidak diperpanjang. Malas juga kali ya meladeni orang-orang yang kita nggak kenal kayak gitu. Tahu apa netizen tentang kehidupan kita.

Pernah juga kasus yang sama menimpa artis lain. Saat mengunggah foto, netizen malah mencaci fisik anaknya. Tapi lagi-lagi Masya Allah, bukan dibalas dengan kasar, si artis justru bikin komentar yang bikin saya jadi belajar.

Di dunia sosial seperti sekarang, orang memang bebas mengunggah apa saja. Tapi bukan berarti juga bebas untuk mengomentari unggahan orang lain apalagi kalau itu tidak sopan. Sungguh tidak patut apalagi jika itu dilakukan di ruang publik, oleh orang dewasa yang seharusnya sudah mengerti mana yang baik dan buruk. So, kalau masih menghina, berarti…

Mari stop body shaming!

Bagi seorang ibu anak adalah anugerah

Intinya adalah tentang rasa syukur. Bagi seorang ibu terutama, punya anak itu sudah anugerah tak terkira. Ditambah anak yang dilahirkan fisiknya sehat dan perkembangannya sempurna. Itu sudah luar biasa. Seorang ibu tidak akan berharap apa-apa selain kedua hal itu. Mana lagi yang lebih disyukuri ketika anak-anaknya bertumbuh dengan sempurna?

Memang benar, sebagai seorang ibu mau seperti apa dan bagaimana pun fisik anaknya, anak tetaplah anak. Darah daging yang melekat pada dirinya. Saya belajar sekali dari buku Sentuhan Ibu. Tentang ibu-ibu yang memiliki anak yang spesial. Mungkin mereka pernah mengeluh. Tapi tidak ada dari mereka yang tidak menerima anaknya. Mereka bahkan menjadi orang terdepan yang selalu mendukung anaknya. Masya Allah.

Dimulai dari orang tua

Memang benar, semua bermula dari rumah. Rumah berarti bicara didikan orang tua. Kitalah sebagai orang tua yang punya peranan penting bagi anak. Anak bisa menjadi apa, selama orang tua mau membentuknya. Anak akan jadi apa, juga karena orang tua yang membentuknya. Maka sejak dini harus diajarkan untuk memiliki sopan santun pada orang lain dan menjaga tutur kata yang baik. Dalam hal ini tentu saja tidak sembarang komentar tentang fisik orang lain.

Mereka yang sudah terlanjur dewasa dan melakukan body shaming, barangkali harus belajar untuk sadar diri bahwa apa yang dilakukannya salah. Maka pantas jika UU ITE tentang body shaming disahkan. Sebab perilaku body shaming memang sungguh bisa merusak manusia. Menghilangkan rasa kepercayaan diri. Ketika sudah hilang rasa percaya, maka tidak ada lagi semangat dalam diri manusia. Tsumma Naudzubillahimindzalik.

Kita semua sama-sama manusia

Maka dari itu, rasanya kita nggak pantas untuk menghina makhluk lain ciptaan Tuhan. Kita semua, bahkan diri sendiri, tidak pernah bisa meminta untuk dilahirkan seperti apa. Dimana, oleh siapa saja kita tidak pernah tahu. Kita semua sama-sama manusia. Yang membedakan derajat kita bukanlah fisik, melainkan hati dan ketakwaan diri kita pada Tuhan. So, stop body shaming!

Berhenti untuk mengomentari fisik orang lain apapun bentuknya. Kita semua dilahirkan sudah pas dan sempurna menurut Tuhan. Tidak ada yang perlu kita sanggah apalagi kita cela. Karena one again, kita sama-sama manusia. Maka mari saling menghargai.

Tagged , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.