Bincang Keluarga, Cerita Bunda

#BincangKeluarga: Tantangan Ibu Rumah Tangga

Jadi ibu rumah tangga atau bahasa kerennya Stay at Home Mom itu enak nggak sih? Enak ya, deket sama anak. Bisa seharian di rumah, bisa merhatiin perkembangan anak setiap harinya dari waktu ke waktu, nggak perlu capek-capek kerja, de el el, de el el. Mungkin ada yang mbatin gitu hehe. Ya saya sebagai ibu rumah tangga cuma bisa bilang Alhamdulillah. Nyatanya semua ‘keenakan’ yang digambarkan itu memang benar kok. Jadi bersyukur juga. Cuma apa iya enak terus? Oh tentu tidak haha. Tapi saya nggak mau bilang nggak enak. Setuju dengan Mbak Rosa, yang menyebut ini sebagai tantangan. Jadi, apa saja tantangan saya sebagai ibu rumah tangga?

Eh tapi sebelumnya baca dulu punya Mbak Rosa ya. Kalau dia tantangan sebagai working mom. Wah cucok nih. Jadi dibahas dari dua sisi. Biar nggak ada war-waran lagi 😛

Baca punya Mbak Rosa:

Tantangan Ibu Bekerja

Tantangan sebagai ibu rumah tangga

Rela jarang keluar rumah

Saat single saya adalah seorang pekerja. Dari Senin sampai Sabtu saya bekerja di perkantoran. Pulangnya, saya masih kuliah sampai malam. Bahkan hari libur pun bukannya istirahat, tapi malah nyari-nyari kegiatan positif lainnya. Ya seminar, pameran buku, atau sekedar hangout sama teman-teman sekolah/kampus. So, bisa disimpulkan bahwa saya dulu hampir setiap hari keluar rumah. Tapi begitu menikah dan memutuskan jadi ibu rumah tangga? Full di rumah aja. Ditambah saya diboyong ke Surabaya, yang mana daerah baru buat saya. Jadilah semakin nggak bisa kemana-mana karena ya mau ngapain juga sih haha. Iya, sampai sekarang saya belum berani pergi jauh sendiri di Surabaya :’)

Awal-awal fine, tapi lama-lama kebosanan datang juga. Saya mulai jenuh di rumah. Kalaupun suami ngasih waktu nganter saya buat me time keluar, nggak pernah tenang juga karena kepikiran anak dan suami. Jeleknya, pernah terpikir oleh saya, enak kali ya kerja lagi? :’) Bahkan sempat merasa kok hidup saya begini-begini aja ya. 

Nggak mau berlama-lama begitu, saya curhat ke suami. Dan akhirnya ya udah mencoba rela kalau sekarang perannya memang jadi ibu rumah tangga. Kan kalau kata ustadz Salim A Fillah, “Jalani saja peranmu.” 😊 Makanya itu sebabnya saya yang punya dua anak kok masih bisa rajin ngeblog, rajin baca buku. Ya karena itulah cara saya buat mengusir kejenuhan. Supaya tidak…

Dilanda stres

Yes, supaya tidak dilanda stres, saya harus cari kegiatan lain. Bener deh, jadi ibu rumah tangga itu kalau nggak punya kegiatan dan hanya mengurus anak dan rumah yang nggak ada habis-habisnya 24 jam, bisa-bisa streslah kita, eh saya maksudnya. Kasihan dong masa sih setelah menikah, perempuan hanya bisa berdiam diri tanpa punya waktu untuk cari kegiatan yang disukainya, tentu tidak bisa begitu dong.

Tapi tidak saya pungkiri saya pun pernah merasa stres. Mungkin semacam mengalami fase ‘kaget’ karena yang tadinya single bisa kemana-mana, sekarang harus full di rumah mengurus suami dan anak-anak. Rasanya betul-betul tidak enak. Pikiran jadi senewen mulu. Yah ujung-ujungnya siapa lagi yang jadi tempat ‘sampah’ keluhan selain suami 😆 Alhamdulillah untungnya suami tipe yang ringan tangan banget bantuin istrinya buat segala urusan. Dan punya suami yang fleksibel soal hobi istrinya.

via Pixabay

Baper karena postingan media sosial

Media sosial juga salah satu hiburan bagi ibu rumah tangga kayak saya. Setiap hari saya buka medsos. Dan nggak selamanya mulus. Ada kalanya saya pun baper haha. Ibu bisa kopdar blogger bawa anak, bisa liburan sendiri kemana-mana, bisa kumpul dengan teman-temannya sesering mungkin, anaknya yang seumuran anak saya sudah bisa ngapa-ngapain, endebre yang lainnya. Oh kalau perasaan tidak enak mulai merasuki hati, segala iri dengki mulai berdatangan, saatnya tutup media sosial, dan kembalikan mata ke rumah haha 😆

Yes, baper itu ada. Tapi saya nggak mau juga itu dibiarkan lama-lama. Bisa merusak hati, Bok! Jadi kendali media sosial memang bukan ada di orang lain. Kita nggak bisa mengendalikan orang untuk bersikap sesuai mau kita. Rasa empati itu haruslah timbul dari dalam diri sendiri. Jadi ya kita sebagai penggunalah yang dituntut untuk bijak. Kita yang mengenal diri kita sendiri. Maka kita pula yang tahu kapan perasaan tidak enak itu datang dan harus segera dicari solusinya. Tujuannya jelas, supaya media sosial bukan ajang kita untuk dengki. Tapi murni bisa dijadikan hiburan. Toh di medsos kita bisa banget kok dapat informasi yang lebih bermanfaat lainnya.

Saya pikir cukup tiga aja. Setidaknya tiga itu yang pernah saya rasakan. Well, apapun tantangannya, mau tidak mau, saya harus menerima peran ini. Karena jalan peran ini jualah yang saya pilih sendiri. Mencoba ikhlas, bersabar, dan bersyukur walaupun harus terseok-seok. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih indah. Aamiin.

Bunda sendiri, stay at home mom, atau working mom? Punya tantangan apa nih dalam menjalani peran itu? Boleh sharing ya 😉

Tagged , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

10 thoughts on “#BincangKeluarga: Tantangan Ibu Rumah Tangga

  1. Ini saya banget hihihi…

    Stresss deh rasanya di rumah terus, coba aja bisa memilih, saya lebih milih kerja kantoran, se stres-stres nya kerjaan numpuk, masih lebih stres liat setrikaan numpuk hahaha..

    Tapi emang benar ya mba, kalau udah kayak gitu, saya biasakan matikan HP. Lalu gulung-gulung sama kedua bocah di kasur sambil membiarkan rumah berantakan.
    sejenak perasaan syukur muncul, masha Allah betapa enaknya jadi IRT itu, kalau ngantuk tinggal ajak bocah masuk kamar, nyalahkan AC trus kelonin bocah.

    Coba kalau ngantor? ihhh tersiksa dengan kantuk.

    Lama-lama saya sadar, saya bukannya stres jadi IRT, saya iri liat timeline sosmed hahaha.. *Plak :’)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *