Alasan saya pakai cara ini pun bukan sekedar karena ingin dimengerti saja, tapi saya ingin agar suami juga melakukan hal yang sama. Karena kebalikan dari saya, suami lebih memilih diam jika sedang marah. Jadi dengan cara saya mengungkapkan langsung apa yang saya rasakan, saya berharap suami juga bisa melakukan hal yang sama. Dan Alhamdulillah, hasilnya semakin ke sini semakin baik. Apa yang membuat kami tidak nyaman, kami bicara. Apa yang mengganjal, kami juga bicara. Tidak ada yang ditutup-tutupi lagi.
Mungkin ini juga pelajaran untuk mengalahkan ego. Kalau suami istri sama-sama diam dan tidak mau mengungkapkan perasaan atau ganjalan dalam hatinya, otomatis salah satu dari suami atau istri harus bisa peka. Kalau tidak, akan ada pihak yang merasa lelah. Lelah karena merasa tidak dimengerti. Lelah karena merasa ‘kok pasangannya cuek’. Padahal ya itu tadi, pasangan kita bukan cenayang dan hanya manusia biasa yang tidak bisa membaca pikiran kita. Kalau tidak diungkapkan, ya tidak ada yang tahu. Alhasil satu merasa baik-baik saja, satu lagi merasa bahwa sebenarnya sedang ada masalah.
Sekali lagi, mungkin wajar jika sesekali kita mau dimengerti. Tapi jangan sampai kita jadi lelah karena menyimpan emosi dan masalah sendiri. Kalau dibiarkan lama-lama, kita yang akan sakit sendiri, sedangkan pasangan tidak juga menunjukkan tanda-tanda kepekaannya. Bisa-bisa malah jadi bom waktu huhu. Dan barangkali kita juga harus belajar, untuk sesekali bisa mengerti pasangan. Sama saja dengan rasa cinta yang juga harus diungkapkan. Agar cinta juga selalu terpupuk dengan baik. Agar pasangan juga tahu bahwa kita masih cinta dengannya ? Yah, intinya dalam pernikahan dan rumah tangga harus ada kata saling kali aja?

Makasih banyak, artikel ini semacam reminder buat saya yang selalu ingin dimengerti dan ga mau ngomong wkwkwkw
Hihi, sama-sama Mbak 🙂
Kak, kadang aku tuh takut kalo mau ngomong di suami soal apa yg bikin aku ganjel dan ga nyaman. Suamiku orangnya kaku dan agak emosian soalnya. Jadi daripada aku diomelin dan berantem aku lebih milih diem. Sedih sih kak kalo harus mendem sendiri. Tapi kadang aku curhat ke temenku, alhamdulillah sedikit ngurangin beban. Hnggg kayaknya temenku sampe jenuh kalo aku curhatin dan rewelin ?
Mungkin bicaranya harus pada momen yang pas. Momen dimana hati suami lagi enak-enaknya. Barangkali dg begitu suami bisa mengerti 🙂