Cerita Emir, Kids, Review

Hore Emir Sudah Disunat!

Hore, Emir sudah disunat! YEAY! Alhamdulillah, akhirnya satu kewajiban sebagai orang tua sudah ditunaikan lagi. Metode yang dipakai Emir adalah sunat klem.

Sebagai ibunya, saya memang pengen Emir segera disunat. Apalagi umurnya sudah mau 5 tahun. Jadilah, saya dan ayahnya teringat kalau klinik dekat rumah menerima sunat.

Di klinik dekat rumah hanya ada satu metode. Yakni Electric Cauter (atau biasa disebut laser).

Dari jauh hari sebelumnya, saya sudah sering sounding bahwa Emir mau disunat. Kenapa laki-laki harus disunat pun saya jelaskan. Bahkan ayahnya menjanjikan hadiah mobil remot.

Meski ada penolakan, untunglah pada akhirnya Emir mau disunat.

Drama nggak diterima sunat di klinik

Sebelumnya, kami sudah telepon ke klinik tersebut untuk janjian waktunya. Karena tanggal 24 Januari, abah mimihnya Emir ke Surabaya, maka kami pilih untuk sunat tanggal 25 Januari.

Dua hari menjelang sunat, diharuskan kontrol untuk mengetahui kondisi penis Emir. Kami janji kontrol tanggal 23 hari Sabtu siang.

Dokter jaga rupanya menemukan fimosis di penis Emir. Dan solusinya memang harus dikhitan. Tapi bukan dokter tersebut yang menangani. Nantinya akan ada dokter lain yang biasa menangani khitan.

Phimosis atau fimosis adalah kelainan pada penis yang belum disunat berupa kulup atau kulit kepala penis yang melekat erat pada kepala penis. Hal ini merupakan hal yang normal pada bayi dan anak-anak. – Alodokter

Sayangnyaaa, begitu ke bagian administrasi untuk menelepon dokter yang biasa menangani khitan, tiba-tiba saja kami ditolak. Alasannya, Emir belum genap 5 tahun. Padahal waktu ditelepon, bagian administrasi tidak ada bicara mengenai usia sama sekali. Heu, mana kami tahu kalau ternyata ada penentuan usia -_-

Entahlah. Katanya manajemennya tidak mau menerima kalau belum lima tahun. Fiewh. Sempat gondok di sini >_<

Mencari tempat sunat lain hari itu juga

Kami bingung sekali. Saya pikir, pokoknya sunatnya harus jadi. Pertama, pas ada abah mimihnya lagi ke Surabaya. Kedua, kami sudah telanjur pesan makanan untuk dibagikan ke tetangga.

Dengan berbekal Google tentu saja, akhirnya kami menemukan Rumah Sunat dr. Mahdian di Jl. Ngagel Jaya No.38, Pucang Sewu, Kec. Gubeng, Surabaya.

Walaupun jadi agak jauh dari rumah, tak apalah. Yang penting Emir tetap jadi sunat.

Kami pun ke lokasi siang itu juga.

Tiba di Rumah Sunat dr. Mahdian

Pertama, kami disambut hangat oleh bagian administrasi.

Sembari kami konsultasi, anak-anak bermain dulu di playground yang sudah disediakan Rumah Sunat dr. Mahdian. Ini yang bikin kesan pertama saya langsung tertarik dengan Rumah Sunat dr. Mahdian. Tempatnya juga nyaman.

sunat klem

Di website Rumah Sunat  tertulis ada dua metode sunat. Klamp dan Gun Stapler. Mungkin Gun Stepler ini masih sama dengan Electric Cauter (waktu konsul sih kata petugasnya sama :D).

Kami juga menjelaskan bahwa Emir ada fimosis. Ternyata, di Rumah Sunat tersebut, kasus fimosis memang banyak terjadi pada anak. Jadi mereka sudah biasa menangani kasus ini.

Uniknya, Rumah Sunat dr. Mahdian punya tagline Tanpa Bius Suntik. Jadi biusnya menggunakan cairan yang disemprot gitu.

Rumah Sunat dr. Mahdian juga menyediakan dua pilihan. Sunat di rumah, atau di klinik. Kalau di rumah, kalau saya tidak salah ingat biayanya sekitar 2.500.000 sudah all in. Di klinik 2.080.000 all in.

Untuk efisiensi, kami memilih di klinik saja 🙂

Kami memilih metode sunat klem

Dari dua metode sunat, dua-duanya sama-sama bagus. Proses khitannya cepat, tidak dijahit, dan langsung bisa beraktivitas.

Tapi karena nantinya saya yang akan merawat Emir pasca sunat, maka saya pilih yang sekiranya perawatannya lebih mudah.

Setelah membaca pengalaman beberapa teman dan adik saya sendiri, akhirnya saya memilih metode sunat klem.

Sesuai namanya, metode ini dipakaikan klamp. Semacam tabung yang akan ditaruh di penisnya.

sunat klem
credit: https://rumahsunatan.com/

Yang saya suka lagi, metode sunat klamp ini juga tidak mengganggu aktivitas. Setelah disunat, anak bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan boleh kena air dan mandi seperti biasa.

Oke, kami janjian untuk datang lagi hari Senin tanggal 25 Januari jam 11 siang untuk proses sunat. Untung saja kami masih dapat nomor antrian 3. Jadi tidak terlalu lama.

Akhirnya Emir disunat!

Kami datang setengah jam sebelum masuk. Tujuannya supaya tidak terlalu lama menunggu dan membuat Emir stres.

Sambil menunggu, Emir Elis main di playground dulu. Dan tidak ketinggalan, kami foto-foto bersama abah mimih hehe.

Tidak begitu lama, kami dipanggil. Saya pikir, cukup abah dan ayahnya saja yang masuk. Tapi ternyata, saya pun diizinkan masuk. Maklum masih pandemi, saya pikir tidak boleh terlalu banyak orang. Dan di bagian administrasi pun dibilang hanya dua orang yang boleh ikut.

Proses sunat klem dimulai

Pertama kali, penis Emir dibius dulu dengan cairan yang disemprot. Setelah kebas, masuk ke proses pembersihan kotoran dari fimosisnya. Di sini agak lama, karena kotorannya cukup banyak hiks. Sekitar 20-30 menit. Sebab digunting pelan-pelan kulup penisnya agar terbuka.

Pembersihan selesai, penis Emir diukur pakai spidol untuk menentukan titik potong kulupnya. Baru dipakaikan klem. Kemudian dimulailah proses sunat dengan memotong kulit kulup.

Hanya 6 menit, sunat selesai! Jadi kalau tidak ada fimosis, prosesnya memang cepat.

Pulangnya sebetulnya bisa saja pakai celana biasa asal longgar. Tapi Emir kami pakaikan sarung. Dan karena kami mengambil paket lengkap, jadi sudah dapat celana tempurung dari klinik.

Biaya dan fasilitas sunat klem yang kami dapatkan

Biaya yang kami habiskan untuk sunat klem sekitar 1.975.000. Sebab kami tidak mengambil obat yang dimasukkan ke dubur. Jadi lebih murah sedikit dari biaya awal 2.080.000.

Kami diberi satu tas yang sudah lengkap. Isinya ada dua celana tempurung, dua celana plastik, tas kecil berisi perlengkapan obat-obatan untuk pasca sunat, boneka, dan sertifikat.

sunat klem

sunat klem

Obat-obatan ini terdiri dari:

  • Obat minum untuk mengatasi nyeri dan anti bengkak
  • Kassa
  • Betadine
  • Larutan NaCl dan semprotannya untuk membersihkan penis setelah cebok
  • Obat tetes untuk diteteskan ke penis agar tidak nyeri dan bengkak
  • Cotton bud untuk mengelap tabung setelah kena air
  • Dan souvenir (semacam untuk naruh softlens kali ya)
  • Masker medis

Sudah deh, Alhamdulillah proses sunat selesai!

So far, saya cukup puas dengan proses sunatnya. Dokter dan petugasnya ramah dan cekatan. Emir juga tidak menangis yang bagaimana. Hanya menangis sedikit karena bosan 😀

FYI, semua petugas dan dokter di Rumah Sunat dr. Mahdian menerapkan protokol kesehatan yang baik. Jadi walaupun masih pandemi, sunat di sini insya Allah aman dan oke.

Next saya bikin postingan tentang perawatan pasca sunat ya. Nah pasca sunat ini lebih seru lagi haha. Ditunggu ya!

*Postingan ini tidak berafiliasi dengan Rumah Sunat dr. Mahdian. Murni ulasan pribadi.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.