Kids, MPASI, Tips

Tips Paling Penting Menghadapi Masa Makanan Pendamping ASI

makanan pendamping asi

Saya pernah bilang kalau salah satu dari problematika menjadi ibu baru adalah memasuki masa-masa awal MPASI aka makanan pendamping ASI. Fase satu ini sebetulnya nggak problem-problem amat di awal. Malah biasanya bahagia. Saking bahagianya  biasanya para bunda semangat buat ngumpulin peralatan dan perlengkapan buat makan si bayi. Dan tanya teman sana-sini tentang pengalaman anak mereka saat MPASI. Belum lagi mengumpulkan teori yang banyak gimana cara MPASI yang baik. So, dimanakah problemnya?

Tips paling penting menghadapi masa-masa Makanan Pendamping ASI

Hehe, ini dia yang mau saya omongin. Lebih daripada teori, peralatan, perlengkapan, kumpulan-kumpulan pengalaman, sebenarnya ada satu yang paling PENTING dari menghadapi masa-masa makanan pendamping ASI yang harus kita persiapkan. Apa itu? DIRI KITA SENDIRI sebagai orang tua. Yap, siapkan diri sematang mungkin. Tapi mari saya jabarkan saja penjelasannya supaya lebih terang.

Jauhkan ekspektasi

Kita boleh punya harapan kalau si bayi akan makan dengan tenang, lahap, bahkan bisa sambil haha-hihi dan kita pun jadi bahagia. Tapi pada kenyataannya, seringkali yang terjadi sebaliknya. Makanan disembur keluar oleh si bayi. Hingga yang habis bahkan nggak sampai setengahnya. Kalau pun kita paksa, yang ada si bayi malah nangis. Ah, ya sudahlah jauhi saja harapan-harapan bahwa saat makan akan terjadi situasi yang ideal. Ya, kita harus bersiap di awal dengan segala kejutan yang akan kita terima nanti. Sehingga kalau pun nantinya situasi tidak terkendali, kita masih bisa ramah menatap bayi haha.

Rendahkan standar

“Anakku gampang makannya. Apa aja doyan. Dia bisa anteng duduk saat makan. Anakku juga bisa makan sendiri.” Itu hanyalah kalimat-kalimat yang mungkin kita dengarkan. Tapi, stop cukup sampai dengarkan saja. Jangan dirasuki ke hati. Karena ya itu tadi, situasi tidak akan selalu ideal. Hidup tidak seindah postingan-postingan di media sosial bukan? Maka turunkan standar kita. Belajar boleh. Tapi rendahkan standar bahwa anak-anak kita bisa seperti anak-anak lain. Kalau kita saja tidak mau disamakan dengan orang tua lainnya, maka kenapa kita harus dengan sadis membandingkan anak kita? *eh.

Kalau GTM? Shantai aja Shay!

GTM atau Gerakan Tutup Mulut konon adalah gerakan yang paling ditakuti ibu-ibu. Sebab disinyalir gerakan ini akan menghambat otak ibu untuk berpikir jernih *eh. Jadi begini Buibu ya, kalau anak kita nggak mau makan, shantai (yep, harus pake huruf h) aja shay. Apalagi kalau masih fase ASI, tidak makan pun tidak apa. Karena ASI masih cukup untuk menjadi nutrisi bayi. Lagi pula, ada banyak alternatif kalau tidak mau makan. Mungkin dia tidak eh belum suka wortel, tapi bisa kita kasih tomat. Atau dia bosan dengan beras putih, kita bisa kasih beras merah. Ya, intinya shantai aja. Kalau kita santai, insya Allah pikiran kita bisa berjalan dengan jernih hehe.

‌Bahagia saat nyuapin.

Nah ini kayaknya sih kuncinya ya. Yang kita hadapkan kan anak sendiri, ya bahagia aja saat nyuapin. Again, abaikan anak-anak lain di luar sana. Buang standar ideal jauh-jauh. Jauhkan segala ekspektasi. Maka yang ada di depan kita, bisa kita tangani dengan baik. Mau dia lepeh makanan, paling kita ketawa aja. Mau dia makannya nggak bisa diem, kita santai aja. Mau si anak GTM, ya udah nanti sore aja lanjut makan lagi hoho. So, jangan lupa bahagia ya Bunda 😁

Nah, sekian tips dari bunda dua anak ini. Bunda yang sotoy sih. Dan masih suka sebal kalau si anak melepeh makanan. Tapi ya, kita juga lagi belajar buat bahagia hehe. Yuk mari kita sama-sama bahagia 😍

Eh BTW kalau Ayah Bunda punya tips lain soal MPASI boleh lho dishare di komen 😁

Tagged , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.