Cerita Bunda, Kolaborasi, Pernikahan, Tips

Nurut pada Suami: Kebaikan, Keran Komunikasi, dan Mengalahkan Ego

nurut suami

Satu hal yang paling berat dilakukan setelah menikah menurut saya adalah nurut dengan suami. Nurut suami dalam artian, sekali dibilangin langsung dilakuin gitu. Sementara, yang terjadi selama ini terlalu banyak alibi atau sanggahan yang saya utarakan πŸ˜‘

Sampai saya lihat video dari Teh Febrianti Almeera dan suaminya di Youtube dikatakan bahwa menurut dengan suami itu bisa menguatkan ikatan hubungan suami dan istri. Maksudnya apa? Maksudnya adalah ketika kita nurut suami, maka pride atau penghargaan suami sebagai laki-laki akan meningkat. Ia merasa berhasil menjadi pemimpin bagi kita. Dan ketika ia merasa berhasil, ia akan makin sayang dengan kita sebagai istrinya.

Baca: Kenapa Sih Harus Izin Suami?

Belum menyadari posisi setelah menikah

Lantas kenapa kok kayaknya menjadi penurut susah banget? Ini pendapat saya ya. Mungkin, karena sebelumnya kita adalah wanita single. Yang bebas melakukan apapun sesuka hati kita. *Atau paling hanya izin orang tua, itu pun kadang masih bisa kita koordinasikan πŸ˜› Sehingga ketika kita sudah menikah, kita jadi semacam ‘kaget’. Tiba-tiba ada orang yang harus kita turutin. Tiba-tiba ada orang yang harus kita dengarkan. Kenapa sih gue nggak boleh lakuin itu? Padahal itu kan baik. Kenapa sih kok dilarang? Kenapa, kenapa, dan pertanyaan kenapa lainnya yang terus muncul di benak kita.

Baca: Hal-hal yang Berubah Setelah Menikah dan Punya Anak

Dengan kata lain, kita belum menyadari bahwa posisi kita setelah menikah sudah berbeda. Tidak lagi hidup sendiri. Tapi sekarang kita DIPIMPIN oleh seorang laki-laki yang kita PILIH menjadi suami kita. Yap, keywordnya adalah PILIH. Ketika suami adalah pilihan kita, maka semestinya kita menyadari bahwa sekarang posisi kita TIDAK LAGI mandiri. Apa-apa yang kita lakukan, itu akan menjadi tanggung jawab suami. Karenanya, suami merasa harus membimbing istrinya menuju ‘jalan yang benar’.

Nurut suami juga kebaikan bagi istri

Yap, efek nurut suami itu pun tidak hanya mengikatkan hubungan suami istri saja. Tapi juga untuk kebaikan istri sendiri. Wanita dan laki-laki tercipta dengan otak yang berbeda. Dimana tingkat logis laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Karenanya, laki-laki lebih sering berpikir jauh ke depan. Wanita mungkin percaya diri bahwa apa yang dia lakukan baik. Tapi seringkali, ini hanya berlaku jangka pendek. Berbeda dengan laki-laki yang seringkali punya alasan yang lebih jauh dan baik untuk masa depan.

Saya merasakan sendiri kok. Kalau saya nggak nurut, nggak langsung melakukan apa yang suami pinta atau menjauhi yang dilarang suami, saya jadi kena getahnya sendiriΒ πŸ˜‘ Ujung-ujungnya jadi susah sendiri. Dan parahnya, bisa-bisa suami juga ikut terseret. Hiks.

Yang kayak gitu, yang nggak saya pikir panjang. Saya nggak tahu kalau ternyata suami mikir sejauh itu. Yang saya pikirkan, hanya ego sendiri saja. Hanya keinginan sementara saja. Saya nggak mikirin kemaslahatan umat yang lain atau ke depannya nanti bakal berakibat apa.

Alhasil, saya jadi benar-benar kapok. Saya lebih milih bermain aman dengan nurut aja apa kata suami. Even itu saya nggak suka atau menurut saya baik, kalau kata suami tidak ya tidak. Kalau kata suami ya berarti iya. Dan itu masya Allah. Memang benar, ada aja berkahnya kalau nurut. Pokoknya ujung-ujungnya selamat deh.

Buka keran-keran komunikasi

Lagian sebetulnya suami juga bukan otoriter. Saya masih bisa mengutarakan pendapat. Alasan kenapa saya mau atau tidak melakukan sesuatu. Artinya, di sini saling dibutuhkan diskusi.

Seperti yang juga dianjurkan oleh suami Teh Febrianti untuk para suami, “bukalah keran-keran komunikasi.” Sampaikan alasan-alasan kenapa istri harus melakukan A, melakukan B, atau tidak melakukan C. Ini supaya para istri bisa mengerti kenapa dia harus menurut. Ya emang sih, kadang kalau tidak disampaikan alasannya, kita kayak berat banget mau nurut suami. Padahal tanpa alasan pun, suami pasti punya kebaikan yang sudah dia pikirkan. Tapi kalau dibuka keran komunikasinya kan pasti akan lebih baik. Biar sama-sama enak dan tidak terjadi kesalah pahaman.

Yang kedua, suami yang baik juga akan bertanggung jawab atas apapun yang dia minta atau larang pada istrinya. Misalnya ternyata di depan si suami yang salah, maka suamilah yang harus bertanggung jawab atas apa yang dia pilih.

Mengalahkan ego

Pada akhirnya, balik lagi, kunci rumah tangga adalah komunikasi. Istri nurut suami itu kewajiban. Meskipun suami tidak wajib untuk memberi alasan kenapa istri harus nurut, tapi jika keran komunikasi dibuka, itu akan memudahkan para istri untuk lebih memahami suami. Alhasil, rumah tangga pun menjadi lebih tenteram.

Peran suami untuk menjadi baik pada istrinya juga sangat diperlukan. Sehingga dia bisa menjadi orang yang layak didengarkan, dihargai, dan dihormati. Biar bagaimana rumah tangga dibutuhkan its takes two to tango. Dalam artian berdua sama-sama saling berusaha menjaga keutuhan.

Dan bagi istri, setelah menikah, kita memang harus belajar untuk mengabaikan kesenangan sendiri. Karena sekarang kita sudah jadi tanggung jawab orang lain. Yaitu suami. Yang mana ridhonya Allah ya tergantung ridho suami. Bahkan istri mau menutup usia pun, kita masih butuh ridho suami :’)

Tinggal yakini saja dalam diri, bahwa nurut suami, selama itu dalam hal kebaikan dan bukan menyuruh pada apa yang dilarang Allah, insya Allah kita akan selamat dunia akhirat. Masya Allah NTMS banget deh!

Bagaimana Ayah Bunda, ada yang mau sharing tentang nurut pada suami? Boleh ya di kolom komentar 😊

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Nurut pada Suami: Kebaikan, Keran Komunikasi, dan Mengalahkan Ego

  1. Paragraf kedua nyesek bgt maa syaa Allah.. memang bener ya, perempuan (khususnya aku pribadi) mikirnya ga sejauh laki-laki.. ga sadar akan konsekuensi dari setiap perbuatan yg dilakukan. Atau sebenernya sadar tapi ego nya lebih menguasai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.