Keluarga, Pernikahan, Pillow Talk

#PillowTalk: Me Time

Rasanya udah lama saya nggak nulis tema Marriage di blog ini. Terakhir bulan Mei lalu tentang Kebiasaan-kebiasaan Sebelum Nikah. Lama banget ya haha. Sampai akhirnya kemarin pas lagi cari-cari ide, kok malah kepikiran pengen nulis semacam seri #PillowTalk gitu seperti beberapa blogger lain. Dan kayaknya itu seru deh.

Saya udah pernah cerita sih soal kalau pillow talk itu adalah rutinitas saya dan suami setiap hari beserta manfaat yang saya rasakan. Eh malah baru terpikir sekarang, kayaknya seru kalau obrolan saya sama suami ditulis aja di blog ini *hitung-hitung biar update terus 🙈* Tapi tentu saja dong yang ditulis hal-hal yang pasti sudah umum. Nggak mungkinlah ya nulis yang sifatnya pribadi banget 😁

Nah di seri pertama ini, saya dan suami ngomongin tentang me time.

What’s ‘me time’?

Me time bagi saya adalah melakukan sesuatu tanpa gangguan apapun termasuk gangguan anak-anak.

Itu definisi awalnya. Seiring waktu, di saat kegiatan saya di media sosial semakin aktif, saya mulai menyadari bahwa ada rasa iri dalam hati. Me time yang saya lihat dari ibu-ibu lain, bisa pergi keluar rumah! *Keluar dalam artian pergi jauh sendiri. Entah sekedar ngemall, nonton, atau mungkin ikut kegiatan positif seperti seminar. Tentu saja lagi-lagi tanpa membawa anak.

Iseng-isenglah saya tanya ke suami, “Kak, Ade boleh nggak nonton (ke bioskop) sendiri?”

Jawaban suami, “terus gimana ini Emir? (Waktu itu Elis belum lahir) Terus ini Surabaya, nanti kalau dirimu nyasar gimana? Kalau Emir nangis gimana?”

Memang, saya sadar. Saya ini masih terhitung baru di Surabaya. Belum hafal semua jalannya. Dan memang saya masih takut kemana-mana sendiri 🙈 Makanya, sebenernya yang saya pengen itu ya, suami ikut pergi, kemudian saya masuk ke bioskop sendiri. Tapi ya jawaban suami cuma, “Terus nanti di sebelah Ade siapa? Kalo cowok gimana? (Ciyee cemburu 😂)” Haha ya udah. Dengan semua alasan itu, intinya saya paham, bahwa itu artinya belum boleh.

Sedih sih, kok saya nggak bisa kayak ibu-ibu lain yang dengan enaknya bisa keluar rumah tanpa anak.

 

“Kondisi kita beda”

Kemudian suami bilang, “kondisi kita beda.” Iyes. Emir masih bayi, masih ASI (sebelum adiknya lahir, Emir belum kena sufor). Ditambah saya nggak pernah pompa ASI, jadilah mau nggak mau Emir harus selalu dekat dengan saya karena dia masih menyusui.

Sedangkan orang lain, bisa jadi mereka bisa pergi karena anak mereka sudah besar. Atau kalaupun masih bayi dan ASI, dititipin entah ke orang tua atau siapanya dan sudah ditinggalkan ASIP. Atau lain-lainnya yang saya nggak tahu, yang intinya kondisinya memang berbeda.

Karena itulah me time ini selalu jadi perdebatan karena keras kepalanya saya yang selalu menuntut me time itu adalah (hanya) keluar rumah. Sampai akhirnya suami justru balik bertanya, “gimana kalau suami juga menuntut me time?” Sementara selama ini beliau memang nggak pernah main-main saat hari libur. Senin-Jumat kerja, pulang ke rumah full nemenin saya sama anak. Begitu pun hari libur. Nggak pernah beliau keluar, pasti selalu di rumah. Jadi kalaupun mau pergi, satu pergi, kita pergi semua.

Sebenarnya sih bukan saya nggak pernah dikasih waktu untuk bisa kumpul sama teman-teman. Karena udah beberapa kali saya bisa ikut ngumpul bareng komunitas. Dan sampai di tempat, suami jaga Emir, saya sendiri kumpul sama teman-teman.

“Me time boleh. Tapi kita harus lihat kondisi. Kondisi kita dengan mereka (di luar sana) nggak bisa disamain. Ini kan juga suami bukan keluar rumah dalam rangka have fun, tapi kerja. Hari libur pun Kakak selalu ada di rumah kan. Nggak kemana-mana.”

Duh jleb banget. Rasanya kok ya seperti saya nggak bersyukur. Padahal me time itu memang nggak melulu harus keluar rumah. Dalam rumah pun, kalau mau diakui saya sudah punya cukup banyak waktu untuk me time. Ya nulis, ngeblog, baca buku, atau sekedar buka-buka sosmed pas anak tidur atau lagi ada ayahnya.

Dan lagian, berdasar pengalaman yang udah-udah, pas saya ngumpul sama temen, sementara suami di luar nunggu sama anak, yang ada saya malah kepikiran mereka mulu. Ada rasa nggak enak ninggalin mereka meskipun di tempat yang sama. Lah gimana seandainya saya benar-benar pergi sendirian, sedangkan mereka nunggu di rumah? 😔 Terbukti kan, pas saya arisan di tetangga aja padahal, tapi hati mikirin anak mulu huhu 😔

 

Me time itu bertanggung jawab dan ada saatnya

Nah, minggu kemarin, iseng-iseng saya buka survey di status Facebook tentang me time versi teman-teman dan bagaimana seandainya suami mereka juga menuntut me time. Jawabannya, hampir semua sepakat bahwa me time bagi suami istri itu perlu. Dan ya, mereka punya caranya masing-masing untuk me time bahkan sekalipun itu hanya di dalam rumah.
Di situ ada komen yang menarik. Pertama, me time itu harus bertanggung jawab. Me time saat single dengan sudah menikah itu berbeda, apalagi sudah punya anak. Pasti sudah punya tanggung jawab masing-masing.

Kedua, bersabar. Semua ada saatnya kita PASTI bisa me time keluar.

Well, kesimpulannya me time itu memang tetap perlu. Asalkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Bisa keluar rumah ya monggo, selama suami istri sepakat dan anak-anak juga terjaga. Mau di dalam rumah pun tidak masalah. Toh inti dari me time itu sendiri kan memang untuk merecharge energi dalam diri, supaya tidak terjebak dengan rutinitas yang melelahkan sehingga semua tugas bisa dilakukan dengan lebih positif dan rasa bahagia kan 😊

Terakhir dari suami, “sabar. Semua pasti ada saatnya. Anak-anak ini juga nanti besar. Setelah mereka besar dan sudah bisa dilepas mandiri, kita bisa bebas mau ngapain aja.”

Ya, semua ada saatnya 😊

4 thoughts on “#PillowTalk: Me Time

  1. iya mba, sebagai seorang ibu dan juga istri kadang kita butuh me time ya, tapi karena anak saya masih kecil, jadi belum bisa ditinggal
    Jadi me timenya beli buku banyak n baca di rumah, lumayan menyenangkan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *