Cerita Bunda, Keluarga, Untitled

The New Normal. Kelak Kita Paham, Keluarga Anugerah Tak Tertandingi

Bagi saya yang sukanya jalan-jalan, menghadapi pandemi ini tentu saja awalnya terasa berat. Biasanya, seminggu sekali ada saja agenda ke luar bareng suami dan anak-anak. Entah itu ke mall, tempat wisata, atau mungkin sekadar ke taman dekat rumah atau keliling nyari jajanan di sore hari.

Tapi sekarang, sudah satu bulan lebih. Dan saya sampai lupa rasanya ke luar rumah. Bahkan untuk ke rumah tetangga pun, saya seperti ngeri sekali rasanya.

Dunia luar yang tak lagi sama

Di bulan lalu, saya ‘terpaksa’ ke luar rumah untuk belanja kebutuhan rumah tangga yang memang sudah habis. Itu saja rasanya sudah tak sama lagi. Sekalipun jalanan masih ramai seperti biasa, saya merasa ada aura yang memang berbeda. Saya bekal masker dari rumah, yang sebelumnya sudah lama tak saya lakukan.

Sampai di supermarket pun, banyak orang yang memakai masker. Social distancing mulai diterapkan walau tidak saklek-saklek amat. Tak butuh waktu lama, selesai belanja saya dan suami pulang.

Ada rasa sedih. Biasanya saya senang berlama-lama di jalanan. Tapi jalanan sudah tak sama lagi. Saat ini rumah adalah tempat terbaik. Pulang-pulang saya langsung ke kamar mandi, bersih-bersih, dan ganti baju. Barulah saya berani ketemu anak-anak. FYI, saya pergi memang tidak mengajak anak.

Ini cobaan kita semua

Emir senang karena tidak perlu pergi ke sekolah. Pagi yang biasanya dihiasi kesibukan Emir bersiap sekolah, kali ini cukup santai. Biasanya jam 8 saya hanya disibukkan adiknya, sekarang ada Emir yang ikutan bermain. Biasanya saya bermain bebas dengan Elis, sekarang saya harus membantu Emir mengerjakan tugas-tugas dari sekolahnya.

Anak-anak mungkin senang. Karena dasarnya mereka memang jarang bermain di luar rumah. Tapi tak dipungkiri, awal-awal #dirumahaja, saya sempat stres. Kapan saya bisa jalan-jalan lagi? Refreshing dari kesibukan rumah tangga. Tak apa bawa anak. Asalkan kita ke luar jalan-jalan!

Tapi lama kelamaan saya sadar, bahwa ini bukan hanya cobaan saya sendiri. Ini cobaan semua orang. Bukan lagi se-Indonesia. Melainkan seluruh dunia! 

Mungkin bukan saya saja yang stres, ada banyak orang lainnya juga. Ya, kita semua butuh penyesuaian.

Dunia yang biasanya ramai, kini mulai sepi. Kita yang biasanya santai berkerumun bahkan dengan orang tak dikenal, kini harus menjaga jarak. Kita yang biasanya tak masalah bersalaman, kini harus menangkup tangan di dada seraya meminta maaf bahwa ini demi kebaikan bersama.

Masker, cuci tangan, cairan pembersih tangan mulai sangat akrab di telinga kita.

Dunia mulai berubah haluan

Ibu-ibu rumah tangga yang biasanya bisa bernafas sebentar saat anak sekolah, kini harus menemani anaknya mengerjakan tugas. Yang biasanya hanya masak makan siang dan malam, kini bertambah menjadi persediaan camilan karena ada anak-anak yang lapar terus. Tak ada lagi antar jemput anak sekolah. Bersih-bersih rumah juga mulai berkurang karena sudah disibukkan anak.

Ibu-ibu yang biasanya punya waktu untuk ke luar seminggu sekali, kini harus bertahan di rumah setiap hari. Me time yang dilakukan bersama teman-teman di luar, kini mungkin hanya bisa dilakukan secara daring di rumah.

Ayah yang biasanya berangkat ke kantor setiap pagi, kini bisa bangun lebih santai karena bekerja dari rumah. Ayah yang biasanya tenang karena fokus bekerja, kini ‘sedikit terganggu’ dengan suara anak-anak.

Anak-anak yang biasanya sekolah, kini senang karena tak perlu pergi ke sekolah. Tapi ada anak-anak yang juga mulai bosan karena banyaknya tugas sekolah. Belum lagi jika ditambah, nada-nada tinggi ibu. Kapan aku sekolah lagi? Kapan aku bisa bermain bersama teman-teman lagi? Kapan aku bisa jalan-jalan lagi?

The new normal

Begitu katanya. Mungkin sekaranglah fase kita menerima kehidupan yang baru.

Setelah satu bulan lebih, perlahan kita mulai bisa menerima, bahwa ternyata kita masih baik-baik saja. Meski naik turun, pada akhirnya kita sadar, bahwa tak ada sesuatu yang bisa kita paksakan. Terlebih jika itu jelas-jelas di luar kendali kita.

Segala kebosanan kita di rumah. Segala kejenuhan kita mengurus anak. Segala kerinduan kita akan indahnya dunia luar. Dengan menyadari satu tarikan nafas, kita mulai eling, bahwa kita beruntung masih diberi kehidupan dan kesehatan. Kita jelas masih lebih beruntung karena kita cukup diam #dirumahaja.

Dan yang jelas kita sangat amat beruntung, karena kita masih diberi kedekatan dengan suami dan anak-anak kita. Melihat dan memeluk mereka secara langsung tanpa halangan 🙂

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang baru

Kelak, saat semua ujian ini sudah selesai, semoga kita memang benar-benar bisa menjadi the new normal. Menjadi diri kita yang baru. Yang sadar bahwa kehidupan ini sungguh patut disyukuri.

Kita juga sadar, bahwa kebahagiaan rupanya tak ada di luar rumah, atau di mana-mana. Tapi ternyata ada di penerimaan diri kita di setiap keadaan apapun.

Kita mulai meyakini, bahwa rumah dan keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang. Sebab di dalamnya, ada kenikmatan yang tak tertandingi oleh apapun juga.

Kini kita pun sudah mulai menyadari, bahwa tak ada guna kita meraba-raba masa depan yang tak pasti. Kita mampu membuat rencana, tapi keputusan itu mutlak ada pada-Nya.

Dan kelak kita sudah semakin paham, bahwa hidup tenang ternyata ada di rasa bersyukur. Syukur akan kehidupan yang masih kita terima. Dan keluarga yang masih berada dekat dengan kita, adalah anugerah yang tak tertandingi.

Bersyukurlah hari ini
Kita masih dapat berjumpa
Dalam kasih sayang-Nya

Berdoalah dari semua
Cita-cita hidup di dunia
Dan jangan kita lupa
Dia yang di atas sana, Kawan

7 Bintang, Jalan Masih Panjang 

Tagged , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

4 thoughts on “The New Normal. Kelak Kita Paham, Keluarga Anugerah Tak Tertandingi

  1. New normal…saya suka istilah ini. Semoga setelah pandemi ini berakhir (aammiin) menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi the new normal untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.