Cerita Bunda, Parenting

Menjadi Orang Tua itu Sungguh Tidak Mudah

Beberapa hari yang lalu, saya sempat lihat postingan teman bookstagram yang sedang mereview buku pengembangan diri. Di reviewnya tersebut beliau cerita tentang dirinya yang pernah baby blues saat anaknya baru lahir. Saya jadi teringat, kayaknya ibu-ibu yang mudah terserang stres itu kebanyakan ibu-ibu yang baru melahirkan dan punya batita ya. Sementara ibu-ibu yang anaknya sudah 4 tahun ke atas, saya lihat justru seperti lebih tenang dan aura bahagianya tuh lebih terpancar.

Menjalani masa transisi yang tidak mudah

Ya bukan berarti saya mau bilang bahwa ibu yang baru melahirkan dan punya anak di bawah 4 tahun itu nggak bahagia. Karena saya yakin banyak juga kok yang bahagia. Cuma kalau saya pribadi, merasakan sekali masa transisi dari single, ke menikah, lalu hamil, melahirkan, dan punya bayi lalu menjadi batita, itu tidak mudah.

Kita yang dulu kemana-mana bisa bebas tanpa bawa beban berat, lalu hamil dan harus selalu bersama dengan perut yang semakin membesar. Setelah melahirkan, kita harus ‘terikat’ dengan makhluk kecil bernama bayi. Belum jika harus menyusui. Belum belajar caranya bagaimana pegang dan gendong bayi. Belum lagi mengatasi keluhan bayi baru lahir dan keluhan menyusui. Belum lagi soal orang sekitar yang justru membuat panas telinga kita karena komentar-komentarnya yang tajam.

Beranjak 6 bulan ke atas, masalah mulai berdatangan, bayi sakit dan susah makanlah. Belum lagi perbedaan pola asuh dengan suami dan keluarga. Nanti begitu satu tahun ke atas ada lagi masalah baru. Menghadapi anak tantrum.

Makanya kenapa saya bilang, sepertinya 4 tahun ke atas sudah lebih tenang. Karena masa-masa per-bayi-an sudah selesai. Ya menyusui, ya MPASI. Masa tantrum sudah mulai berkurang. Daya tahan tubuh anak juga sudah lebih kebal. Ya walaupun tak bisa dipungkiri, masalah hidup pasti ada saja. Jadi seiring umur beranjak, masalah pasti tidak bisa dihindari. Tentu saja termasuk anak yang tak pandang usianya πŸ˜…

Merawat dan mendidik anak itu tugas yang tidak main-main

Pukpuk yang sudah jadi orang tua. Toss dulu ah πŸ˜… Jadi paham kenapa di film Dua Garis Biru, ada yang bilang, “Melahirkan itu cuma sekali. Tapi mendidiknya seumur hidup.” Ya bayangin aja, kita sudah hamil anak, merawat anak, bahkan berkewajiban mendidik seumur hidup anak 😭

Begitu pun dengan tugas suami yang menjadi ayah, yang sama beratnya. Membuat istrinya bahagia supaya bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Mencari nafkah agar keluarga tercukupi. Dan menjadi nakhkoda untuk tahu arah tujuan kapal rumah tangga hendak ke mana. Kalau seorang pemimpin tidak bisa menentukan tujuan hidupnya, entah jadi apa kapal rumah tangga tersebut.

Jadi saya yakin, sebetulnya tidak ada yang perlu merasa superior inferior dalam rumah tangga. Perempuan sebagai istri, dan laki-laki sebagai suami punya tugas dan perannya masing-masing. Selama suami istri punya anak, maka sudah sah disebut sebagai orang tua. Yang menjadi pilihan apakah kita bisa menjadi orang tua yang benar dan baik atau tidak 😭

Saya jadi pengen sujud ke ayah (sayang, ayah sudah almarhum) dan ibu. Betapa tugas mereka ternyata berat sekali 😭 Saya paham kenapa seorang anak dikatakan baru benar-benar merasakan posisi orang tua, saat mereka sendiri sudah menjadi orang tua yang sesungguhnya. 

Benar deh, terasa sekali beratnya menjadi orang tua 😭 Dari mulai hamil, sampai mendidik itu bukan tugas yang main-main 😭 Butuh banyak sabar, banyak doa, dan banyak keras kepala soal prinsip mengurus anak.

Keras kepala soal anak itu perlu

Keras kepala soal prinsip itu di masa sekarang semakin berlaku banget deh rasanya. Media sosial seringkali sama kejamnya dengan kehidupan nyata. Perang antar ibu yang merasa sudah memberikan yang terbaik dan menjatuhkan yang lainnya. Komentar tajam hanya karena melihat postingan dan foto sekilas, tanpa mau tahu alasan di baliknya. Atau soal teori parenting yang berlimpah, yang rasanya membuat orang tua menjadi sering insecure dan ingin segalanya sempurna 😭

Padahal setiap orang tua sebetulnya punya instingnya sendiri. Setiap anak juga punya kelebihannya sendiri. Menyamakan atau membanding-bandingkan sungguh tak ada gunanya. Hanya membuat ekspektasi kian meninggi. Semakin kita berekspektasi, justru bisa membuat orang tua stres. Lagi-lagi yang jadi ‘korban’ adalah anaknya 😭 Huhu kok jadi sedih gini sih.

Tak perlu juga membandingkan orang tua zaman now dan zaman dulu. “Orang tua dulu banyak anak santai aja tuh. Orang tua sekarang, baru anak satu aja udah ngeluh.” Dulu orang tua kita barangkali ‘hanya sekadar berhenti’ sampai ‘membuat anak’. Dulu orang tua kita barangkali ter-mindsetΒ “Banyak anak, banyak rezeki.” Dulu barangkali orang tua kita memang punya bekal yang cukup saat menjadi orang tua.

Orang tua zaman now yang dulu jadi anak, masih harus belajar bagaimana caranya menjadi orang tua. Teori yang berlimpah, sungguh jadi kemudahan juga. Orang tua zaman sekarang diberi jangkauan belajar yang lebih luas. Tahu kalau bayi harus diberi ASI sampai 2 tahun. Bayi tidak perlu diberi makan sampai waktunya 6 bulan. Tahu bagaimana caranya menghadapi anak tantrum dengan tenang. Tahu bagaimana caranya menyiapkan dana pendidikan untuk anak. Sampai bagaimana mendidik anak hingga di masa depan anak punya daya juang yang tinggi.

Pahitnya, kalau mau dibandingkan, berapa banyak orang tua zaman now yang masih terjebak inner child yang negatif? Karena orang tua dulu belum mengerti bagaimana seharusnya mengurus bayi yang benar. Bagaimana orang tua dulu yang keras dengan anaknya karena merasa itu jalan terbaik dalam mendidik. Karena orang tua dulu yang belum banyak tahu bahwa cara mereka mengurus dan mendidik anak-anaknya akan berdampak di masa depan.

Semoga semua orang tua diberi kekuatan

Allah, saya sungguh tidak maksud untuk menyalahkan orang tua zaman dulu. Hanya saja semoga tidak ada lagi di antara kita yang membandingkan apa yang terjadi dulu dengan sekarang. Zaman sudah berubah. Jelas tantangan dan teori pun pasti akan berbeda dan berkembang. Hasilnya, pengalaman pun sudah pasti akan berbeda.

Yah, biar bagaimana pun semoga semua orang tua di dunia ini selalu diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena tanpa-Nya kita tidak ada daya dan pertolongan. Kita, orang tua perlu mengisi tangki kebahagiaan dan kesabaran sebanyak-banyaknya. Agar bisa mendidik anak dengan baik. Kita, orang tua perlu belajar untuk menurunkan ekspektasi dan belajar menghadapi realita. Serta lebih banyak menyadari bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu tercapai. Anak-anak pasti punya kelebihan dan dunianya sendiri.

Kita juga mungkin perlu meminta maaf pada orang tua. Kita mungkin perlu memaafkan orang tua atas apa yang terjadi di masa lalu. Agar jalan kita untuk mendidik anak-anak kelak, semoga dimudahkan Allah SWT. Aamiin.

Tagged , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Menjadi Orang Tua itu Sungguh Tidak Mudah

  1. Setuju, “karena orang tua dulu belum mengerti bagaimana seharusnya mengurus bayi yang benar”, dan setuju ” kita, orang tua perlu belajar untuk menurunkan ekspektasi dan belajar menghadapi realita”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.