Pernikahan

Perkara Tidak Pacaran dan Jangan Nikah Muda

nikah muda

Tahun 2017 saya pernah menulis ‘Kampanye’ Nikah di Media Sosial. Tulisan ini sebetulnya timbul dari kekhawatiran saya tentang banyaknya ‘promosi’ terselubung tentang menikah terlebih nikah muda. Saya tidak mau anak-anak muda sekarang cita-citanya hanya menikah saja. Apalagi baru lulus sekolah. Semestinya mereka punya cita-cita lain yang lebih banyak, dalam hal karirnya, hobinya, atau apa saja yang bisa memberdayakan diri mereka.

Rupanya, banyak juga yang khawatir seperti saya. Kebanyakan mereka ini justru sudah menikah. Barangkali karena kami ‘lebih’ paham bahwa kehidupan pernikahan itu seperti apa. Kami sudah makan asam garam bahwa pernikahan justru ‘membawa’ masalah baru yang seringkali lebih kompleks dari saat kita masih single.

Tapi, kalau akhir-akhir ini justru terlalu banyak ‘kampanye’ tidak menikah muda, saya jadi agak khawatir juga. Khawatir jika poin yang ditangkap justru tidak boleh menikah.

“Lah, katanya jangan nikah muda, kok ketika orang menasihati jangan nikah muda dibilang salah juga sih, De?”

Gini, gini. Ada satu fakta yang saya tangkap. Generasi milenial saat ini tidak bisa menerima sesuatu atau pendapat jika itu tidak dijelaskan secara detail. Misalnya saja perkara nikah muda ini.

via GIPHY

Perkara untuk tidak pacaran, yang mereka tangkap justru bukan poin TIDAK PACARANNYA, melainkan “kalau nggak pacaran, ya nikah dong!”. Dan perkara jangan nikah muda, yang ditangkap bukannya bekerja keras dan introspeksi diri dulu, tapi mereka menganggap bahwa menikah itu salah. Nah dua persepsi inilah yang keliru kalau tidak dijelaskan.

Tidak pacaran, bukan berarti menikah.

Saya akui, akun-akun yang terlalu membagus-baguskan nikah, itu jelas amat keliru! Tapi jika akun tersebut melarang pacaran, itu jelas tidak bisa dibantah kebenarannya. Pacaran dilarang dalam Islam itu bukan tanpa sebab. Berduaan, melibatkan hati yang kuat padahal belum ada ikatan resmi, itu sama saja mendekati zina.

Adakah yang bisa menjamin pacaran tidak membawa mudhorot? Saat berduaan, nggak puas hanya lihat-lihatan. Lanjut pegangan tangan. Nggak puas, lalu ciuman. Nggak puas, dibenarkan oleh kemaluan. naudzubillahimindzalik. Belum lagi jika salah satu disakiti dan ditinggal pergi? Apa yang tersisa selain merana? Menyesal? Naudzubillah.

Jadi poin sebenarnya adalah, JANGAN PACARAN!

Akun tanpa pacaran ini masih keliru sebab dia belum menjelaskan detail ALTERNATIF dari tidak pacaran ini apa. Kalau dijelaskan menikah, itu tidak salah juga. Tapi apa iya kalau anak SD pacaran lantas alternatifnya menikah? Ya nggak dong!

via GIPHY

Baca: Pernikahan Bukan Akhir dari Masalahmu

Ada banyak sekali yang bisa kita lakukan agar tidak menjerumuskan diri pada hal yang  mendekati zina tersebut. Sekolah yang rajin, pandai di sekolah. Lulus sekolah, bisa kuliah atau menekuni hobi. Bekerja keras. Memberdayakan diri dengan banyak melakukan kegiatan positif. Banyak puasa sunnah. Dengan kata lain, memantaskan diri dengan hal-hal yang positif.

Menikah itu segaris lurus dengan kepantasan. Jika Allah merasa seseorang sudah pantas, maka ia juga yang akan langsung turun tangan memilihkan jodoh kita. Dia yang akan memberi jodoh di waktu yang tepat. Yakinlah Dia tidak pernah keliru selama kita yakin bahwa Dialah Maha Tahu yang terbaik bagi kita.

Apakah nikah muda tidak boleh?

Yang menjelaskan untuk tidak menikah muda juga masih keliru. Sebab bisa-bisa yang ditangkap oleh para single adalah tidak dibolehkannya menikah. Padahal menikah memang benar kok menjauhi kita dari zina. Menikah itu juga sunnah Rasulullah yang Allah beri pahala.

Nikah muda salah? Belum tentu! Nikah tanpa ilmu memang salah. Nikah tanpa kesiapan juga salah. Apalagi masih bergantung pada orang tua itu juga salah.

Baca: Pernikahan Bukan Hanya Sekedar Sah

Alvin Faiz barangkali bisa jadi salah satu contoh yang berhasil menikah muda. Definisi berhasil di sini, Alvin sudah mumpuni dalam hal pengetahuan agama. Jelas ini modal utama untuk membimbing istrinya. Alvin sudah mapan dalam hal materi. Sehingga ia tak perlu khawatir keluarganya akan kekurangan. Perkara apakah sebenarnya dirinya memang siap, jelas itu hanya dia dan keluarganya sendiri yang bisa menilai.

So, jadi apa poinnya? Menikah itu adalah KESIAPAN. Tidak peduli usia berapa pun, selama seseorang memang siap menikah, itu sah-sah saja jika dia sudah lewat 18 tahun. Sekalipun dia usia 30 tahun, tapi jika dia menikah dalam ketidak siapan, itulah yang keliru.

via GIPHY

Jangan sampai kita mendiskreditkan nikah muda. Apalagi sampai ‘mengharamkan’ nikah secara tidak langsung. Selama si anak muda terlihat mumpuni *layaknya Alvin misalnya*, itu tidak masalah. Ilmu sudah ada. Materi sudah siap. Minimal dia mau bekerja keras. Its ok sah-sah saja.

Siap untuk bertanggung jawab. Siap menghadapi segala konsekuensi usai menikah. Siap untuk menafkahi. Siap untuk mengurus keluarga. Siap untuk mendidik anak jika punya anak nanti. Siap juga untuk menanggung beban bersama pasangan ketika rumah tangga dilanda masalah.

Dan yang terpenting adalah tidak mudah putus asa untuk mempertahankan rumah tangga. Sebab rumah tangga bukan ajang suka-sukaan. Tidak suka, lantas bubar. Tidak! Ada keluarga besar kita yang terlibat. Orang tua, saudara-saudara, bahkan ada anak yang harus kita jaga. Itu sebabnya menikah tidak bisa main-main.

Menikah itu sah, asaal…

Jadi kampanye tidak pacaran dan jangan nikah muda, itu memang harus dijelaskan secara detail agar tidak terjadi kesalah pahaman. Ada banyak alternatif untuk tidak pacaran, demikian juga nikah muda yang sah-sah saja selama orang itu siap.

Itu sebabnya kita harus banyak-banyak melakukan kegiatan positif saat masih sendiri. Dan memahami kenapa menikah harus dimengerti ilmunya supaya landasan nikah tidak hanya membolehkan yang haram saja. Tapi juga ada visi ke depan. Ada tanggung jawab yang sudah kita tahu. Sehingga kita bisa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan melahirkan generasi-generasi yang hebat.

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Perkara Tidak Pacaran dan Jangan Nikah Muda

  1. Sepakat, Mbak.

    Mungkin disini lah sebenarnya peran penting orang tua zaman sekarang untuk menyiapkan anak agar saat baligh menjadi benar2 sudah dewasa dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup, termasuk nikah muda kalau memang harus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.