#BincangKeluarga, Cerita Bunda, Cerita Elis, Cerita Emir

#BincangKeluarga: Masa Toddler Anak Jarak Dekat

masa toddler

Masa-masa anak bayi sudah terlewati. Tapi soal kesabaran, jangan ditanya. Rasanya harus setiap hari kudu direstock terus. Kalau tidak, bukan cuma anak yang tantrum, tapi bisa-bisa orang tuanya juga ikutan tantrum 😴 Yah, anggap saja ini curhatan dari seorang ibu dua anak jarak dekat yang dua-duanya sudah masuk masa toddler.

FYI dulu ya:

Usia toddler adalah usia antara 1-4 tahun, dimana seorang anak mulai belajar menentukan arah perkembangan dirinya, suatu fase yang mendasari bagaimana derajat kesehatan, perkembangan emosional, derajat pendidikan, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi serta kemampuan diri seorang anak di masa mendatang.

Tahun ini Emir 3 tahun, dan adiknya, Elis 2 tahun. Di satu sisi tentu saja saya bersyukur kalau semakin besar, mereka sudah semakin mandiri. Ya makan sendiri, sudah bisa dimintai tolong juga. Setiap hari juga anteng main bareng. Tapi oh hidup tanpa drama rasanya nggak seru kan?

Tapi kali ini saya nggak nulis sendirian. Saya nulis lagi bareng Mbak Rosa setelah bulan kemarin kami nggak nulis karena sama-sama lagi nggak ada ide huhu. Silakan dibaca ya:

Ajaibnya Fase Terrible Two

Hidup tanpa drama, apalah artinya. Sejatinya memang begitu kan. Manusia nggak ada yang namanya lepas dari ujian. Jadi, kira-kira beginilah kelakukan dua anak saya yang semakin hari semakin ajaib:

Sudah mulai iseng

Dua-duanya sudah bisa main bareng. Tapi dua-duanya pula sudah mulai iseng. Yang kakak ngisengin adiklah. Yang adik ngisengin kakaklah. Karena mereka hitungannya sama-sama masih bayi, ya udah salah satu mesti ada yang mengeluarkan tangisan 😪

Tapi mereka pun kadang nggak cuma iseng antar mereka. Suka juga ngisengin ayah bundanya 😪 Kita lagi diam, dicolek-colek rambutnya. Atau dikelitikkin, Dan dengan wajah polosnya, mereka ketawa-tawa ajaaa.

via GIPHY

Berebut mainan atau perhatian

Nggak cuma iseng. Mereka sudah mengerti mainan milik mereka. Mereka juga sudah paham perhatian orang tuanya. Kalau lagi akur, mereka ya anteng main berdua. Anteng main sama ayah bundanya. Tapi entah gimana ceritanya, suka tiba-tiba mereka rebutan mainan. Kakak nggak mau ngalah, adik juga nggak mau yang lain. Atau sebaliknya. Biasanya kalau udah gini, saya lihat dulu, mainan itu punya siapa atau mana yang duluan main. Pokoknya, harus ditengahkan, salah satu harus ada yang ngalah dan dialihkan ke yang lain.

Tapi kadang juga saya biarin aja sih. Paling kalau salah satu ada yang nangisnya mulai kencang, baru saya tengahi.

Demikian juga dengan perhatian. Saat Bunda lagi ikutan main misalnya. Tiba-tiba adik ngantuk, kakak nangislah karena minta diperhatikan juga. Saya kasih pengertian pelan-pelan ke Emir, “Adiknya mau bobo dulu ya.” Kalau Emir nangis, saya biarkan dulu sembari saya nyusuin Elis. Pas saya nyusuin, biasanya Emir udah ngerti. Nah begitu saya selesai, ya udah main sama Emir.

Atau saat ayahnya gendong salah satu. Biasanya satunya kepengen juga tuh. Ya mau nggak mau digendonglah dua-duanya 😆 Begitulah namanya juga punya dua bayi yak.

Tingkat penasaran tinggi

Sekarang Emir Elis mulai sering nanya, “Ni apa, ni apa? Trus kalau ini apa?” Sudah dijawab pun masih aja nanya, “Ni apa?” 😪 Trus kalau sudah dijawab, “Oh, apel ya, Bunda.” Trus nanya lagi, “Ni apa?” Gitu aja terus, Nak. Kalau saya lagi ngantuk, “Sudah yuk bobo. Nanti lagi mainnya.” 😆

Ikut-ikutan

Jarak dekat bikin mereka kayak copycat. Nggak cuma adik yang ngikutin kakak. Kakak pun kadang ikut-ikutan adik. Misalnya adik kemana, kakak ngikutin. Atau kakak nggak mau makan, adik juga nggak mau. Tapi ada kalanya, mereka sama-sama sebal kalau diikutin. Alhasil salah satu ngambek atau marah 😆

via GIPHY

Saling ganggu saat tidur

Kalau kakak, biasanya sudah lebih ngerti kalau adik bobo ya nggak boleh berisik. Nah adik ini yang masih jadi PR besar. Harus benar-benar dibilangin berulang-ulang kalau kakak bobo nggak boleh berisik. Sebetulnya kalau mereka sudah pulas, nggak masalah mau main berisik pun. Tapi yang agak nyesek kan kalau kakak baru tidur misalnya, tiba-tiba adik mainin hape-hapean yang bunyi dan seketika kakak melek lagi 😩

via GIPHY

Makanya suka geregetan kalau mereka tidurnya nggak barengan. Mamak jadi nggak bisa me time. Karena kadang salah satunya suka terganggu dan tidurnya jadi nggak nyenyak 😌

Anteng berdua

Saling iri dan cemburu wajar aja namanya juga kakak adik. Dan orang tua pasti ada kalanya harus memilih salah satu karena biar bagaimana pun perhatian tidak bisa terbagi-bagi. Tapi kalau sudah melihat mereka anteng main berdua gitu. Atau ketawa-tawa berduaan, ya bahagia juga. Kalau lagi ada suami, suka saya senggol untuk melihat tingkah mereka juga.

Kalau sudah begitu, biasanya kami bersyukur banget Allah percayakan mereka berdua pada kita 😥 Ini juga salah satu yang bikin kami bersyukur bahwa punya anak dengan jarak dekat itu tidak selamanya sulit. Tapi justru dengan mereka jarak dekat, mereka lebih cepat mengerti konsep kakak adik. Dan rasa empatinya pun tumbuh lebih cepat. Masya Allah Tabarakallah 😥

Baca: Kelebihan Punya Anak Jarak Dekat

Sabar sabar sabar

Ini jadi PR besar banget deh bagi saya sampai saat ini. Saya bukan ibu sempurna kok. Terkadang saya pun masih lepas kendali. Sebisa mungkin kalau lagi begini dan nggak bisa nahan emosi, saya menjauh dari anak-anak. Ketimbang melakukan hal-hal yang disesali, lebih baik saya menepi dulu sampai diri ini tenang.

Karena saya amati juga kalau sayanya tenang, anak-anak pun tenang dan lebih nurut. Huhu, maafkan Bundamu yang belum sempurna ya, anak-anak 😥

via GIPHY

Memang betul kalau dikatakan, anak itu anuegrah sekaligus menjadi ujian untuk orang tuanya. Butuh hati yang lapang untuk siap menjadi orang tua. Dan yang pasti butuh selesai dulu dengan diri sendiri. Menurunkan segala ekspektasi bahwa biar bagaimana pun mereka hanya anak-anak yang terlahir tidak berdosa. Kita sebagai orang tualah yang justru harus terus belajar tanpa berhenti 😥

Tagged , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

4 thoughts on “#BincangKeluarga: Masa Toddler Anak Jarak Dekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.