#PillowTalk, Parenting, Tips

#PillowTalk: Orang Tua Sering Emosi dengan Anak? Bisa Jadi itu Karena Masa Lalu

orang tua

Saya sering bertanya pada suami, “Kenapa menjadi orang tua itu sulit? Apa karena kita tidak bersyukur? Apa karena kita tidak bersabar?” Tapi faktanya, ada orang tua yang marah-marah, tapi tetap sayang pada anaknya. Ada orang tua yang bisa menerima kekurangan anaknya, meskipun sesekali dia harus goyah emosinya.

Saya bingung, kenapa bisa seperti itu? Saya juga sering bertanya pada teman-teman saya. Dan rata-rata kebanyakan, jawaban mereka adalah “Sabar. Karena ada masa-masa anak-anak akan besar. Masa di mana kita akan kangen dengan mereka yang nempel kita kemana-mana.” Atau jawaban lain, “Syukuri. Karena di luar sana ada banyak orang yang mendambakan seorang anak.”

Lantas, apakah benar orang tuanya tidak bersabar? Apakah orang tuanya tidak bersyukur?

Lantas, apa masalah kita, para orang tua?

Saya kembali bertanya lagi pada suami, “Apa ya masalahnya? Orang tua bersyukur kok. Orang tua bersabar kok dengan anak-anak. Buktinya, anak-anak mereka bisa tumbuh dengan baik. Buktinya mereka bisa tetap mendampingi anaknya kapan dan kemana pun.”

Setelah diurai satu-satu permasalahan, saya dan suami bertemu pada satu kesimpulan. Bahwa bisa jadi kita, sebagai orang tua punya masa lalu yang belum selesai. Bahwa kita punya value atau nilai-nilai yang masih tertancap di diri kita. Bahwa ada trauma-trauma yang masih bercokol dalam hati dan secara tidak sadar telah menggerogoti hati kita sehingga timbullah emosi-emosi negatif.

via GIPHY

Yap, bersabar dan bersyukur itu harus. Tapi terkadang permasalahan tidak sesimpel itu. Bukan karena kita tidak bersabar. Bukan pula karena kita tidak bersyukur. Toh selama ini kita selalu bisa menerima anak-anak kita dengan baik. Mengurus mereka dengan sepenuh hati. Dan bersyukur karena Tuhan anugerahi anak-anak pada kita.

Tapi bisa jadi karena ada masa lalu kita yang belum selesai.

Mengurai akar masalah

Maka langkah satu-satunya adalah mengurai benang masalah hingga ke akar. Kita harus tahu apa permasalahan kita sesungguhnya hingga memunculkan masalah yang sekarang. Kelihatannya itu sulit, atau mungkin terasa sakit karena kita harus mengorek masa yang sudah lewat, juga bisa saja masa-masa menyakitkan. Tapi ketika akar masalah itu ditemukan, maka kita akan lebih mudah untuk mencari solusinya.

Barangkali ada value atau nilai yang sudah tertancap kuat di diri kita. Lantas di masa sekarang, kenyataannya seringkali tidak sesuai ekspektasi. Misalnya saja kita punya nilai bahwa rumah itu harus rapi dan bersih. Tapi anak kita masih masa-masa bermain. Rumah jadi kotor dan berantakan. Alhasil kita dihinggapi amarah karena kita merasa rumah tidak rapi dan bersih.

Atau ada trauma masa lalu yang ternyata belum sembuh. Kita sering dibentak dan dipukul orang tua. Sekarang, saat anak sedikit ‘berulah’ dengan menumpahkan makanan misalnya, kita pun jadi marah dan memukul mereka.

Baca: Inner Child dan Pola Asuh Orang Tua

Yap, ternyata itu menyakitkan. Dan bisa saja bertahun-tahun kita mampu memendam masalah itu. Selama itu pula kita merasa bahwa diri kita baik-baik saja. Tapi sayangnya, itu hanyalah bagaikan gunung berapi, yang suatu saat kapan pun siap meledak dan menumpahkan apinya. Dan rupanya, api itu justru meledak di saat kita sudah menikah dan punya anak 🙁

Selesaikan masa lalu-masa lalu kita

Memang sebahaya itu dampaknya. Makanya, finally saya paham, kenapa sebelum menikah kita dianjurkan untuk melakukan proses cleansing. Membersihkan diri dari masa lalu-masa lalu yang mungkin menyakitkan. Masalah yang tidak hanya bisa timbul dari keluarga terdekat saja, tapi juga bisa dari pengalaman-pengalaman kita dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Karena ketika cleansing, kita akan diajak untuk menyelami masa lalu itu, lantas perlahan-lahan kita mencoba belajar memaafkan. Dan ini terkadang prosesnya tidak sebentar. Bahkan bisa jadi butuh bantuan orang yang ahli seperti psikolog.

Tapi kalau kenyataannya kita baru sadar hal itu setelah menikah, sungguh tidak ada kata terlambat untuk membenahi diri kita. Selama kita masih hidup, akan selalu ada kesempatan baik.

via GIPHY

So, selesaikan itu. Bicaralah pada diri kita sendiri. Jika tak mampu, minta tolonglah pada orang yang kita percaya 🙂 Maka perlahan kita akan menemukan solusi yang paling kita butuhkan. Dan hal ini, hanya bisa diselesaikan oleh diri kita sendiri. Karena kita yang paling tahu diri kita. Karena kita yang bisa menyelami diri kita sendiri 🙂

Setelah ketemu akar masalahnya, maka mari kita berdamai dengan diri sendiri 🙂

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “#PillowTalk: Orang Tua Sering Emosi dengan Anak? Bisa Jadi itu Karena Masa Lalu

  1. Kalo saya seringkali emosi karena merasa capek. Seperti tidak ada waktu untuk diri sendiri. Saya butuh seorang teman untuk teman bicara, teman mengasuh anak, teman beberes rumah ketika suami sedang kerja. Saya bilang sama suami terus terang, saya butuh ART yang bisa bantu membereskan pekerjaan rumah. Alhamdulillah suami menyanggupi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.