Uncategorized

Saya Bertahan Menjadi Seorang Ibu

Saya bingung memikirkan tujuan hidup. Akan ke mana saya melangkah. Apa yang sebenarnya saya inginkan?

Saya terus berputar-putar di pertanyaan itu. Untuk kemudian saya bilang pada suami, “Aku tuh merasa, aku sudah nikah. Aku sudah punya anak. Lalu mau apa?”

Dan sekarang saya sadar, bahwa saya hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga!

Siapa bilang menjadi ibu itu mudah?

Dalam perjalanannya sungguh jatuh bangun. Siapa bilang menjadi ibu itu mudah? Rupanya saya terseok-seok! Menikah usia 22 tahun. Punya anak di usia 23 tahun. Usia segitu harusnya sudah mendewasa. Tapi saya harus berhadapan dengan diri sendiri yang ampun sulitnya untuk bangkit.

Saya ingat sekali pertama kalinya menangis saat sedang menyusui anak pertama. Saya tidak pernah begadang. Kenapa sekarang saya harus bangun malam untuk menyusui?

Saya pegal sekali menyusui. Kapan menyusui ini selesai?

Saat saya belum sepenuhnya matang menjadi ibu, saya justru dianugerahi kehamilan ke dua. Allah sedang tidak bercanda bukan?

Untung saja hari-hari saya ditemani suami. Sampai saya yakin bahwa saya mampu untuk menjadi ibu dengan dua bayi nantinya.

Jadilah saya menyusui dua bayi. Mengurus dua bayi sekaligus tugas-tugas istri dan rumah yang juga harus ditunaikan.

Saya tumbang. Suatu waktu saya meledak tidak karuan.

Puncaknya, saya harus pergi ke psikiater. Karena saya pikir, ini sudah tidak bisa dibiarkan.

Perlahan-lahan, saya bangkit lagi. Saya belajar tentang kesadaran penuh. Saya ingin menyadari betul-betul bahwa saya ada di sini dan saat ini. Saya adalah seorang Ade yang sudah menikah, dan sekarang menjadi ibu dua anak. Tapi saya juga berhak untuk menjadi diri sendiri dengan apa yang saya inginkan.

Dan yang saya tuju, ternyata tetaplah menjadi seorang ibu rumah tangga.

Ternyata saya memang bercita-cita menjadi seorang ibu

Saya bilang pada suami, apa saya harus punya cita-cita selain menjadi ibu?

“Tidak. Tapi jadilah dirimu sendiri. Jadilah apa yang sesungguhnya memang kau inginkan.” Demikian kata suami.

“Tak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga. Bahkan itu adalah tugas mulia. Saat di mana suami dan anak-anakmu bisa bertumbuh, itu adalah karena jasamu, seorang ibu.”

Kemudian saya kilas balik. Saya ingat saat masih kecil, saya bahagia ibu selalu ada di rumah. 24 jam ibu menemani anak-anaknya. Hal ini sudah pernah saya ceritakan di postingan Balada Menjadi Ibu Rumah Tangga.

Bahkan – ternyata saya pernah menulis juga tentang Kenapa Saya (Mau) Menjadi Ibu Rumah Tangga.

Sesederhana itulah cita-cita saya. Dan rupanya sebab keinginan menjadi ibulah yang membuat saya mau terus menerus belajar dan mencoba bangkit.

Menjadi ibu tidak mudah

Sedari masih sendiri, saya sudah belajar tentang parenting. Tentang bagaimana memantaskan diri untuk menikah dan menjadi seorang ibu. Setelah menikah, saya cari terus apa yang perlu saya ketahui untuk mengurus seorang bayi, balita, bahkan sampai mencari tahu bagaimana caranya menumbuhkan agar anak mampu berkembang sesuai fitrahnya.

Menjadi ibulah yang membuat saya bertahan.

Saya jatuh, tapi saya datangi psikolog, pakar mindfulness, sampai psikiater.

Saya kalut, tapi saya kembali melihat anak-anak tak berdosa yang tatapannya masih suci dan meneduhkan.

Saya linglung, tapi saya kembali lagi untuk waras.

Sungguh tak mudah bila tak diizinkan Allah.

Sungguhlah saya berterima kasih pada Allah, yang masih terus membalik hati saya agar tetap pada jalan lurus-Nya.

Saya akan tetap menjadi seorang ibu

Akhirnya saya menyadari, bahwa cita-cita masa kecil itu tidak remeh. Sejak dulu ternyata saya sudah berjalan untuk menuju cita-cita saya. Bahkan ketika sekarang terseok-seok, saya tetap kembali mencoba bangkit lagi. Jatuh, bangkit, jatuh, bangkit, begitu saja terus.

Demikianlah, pada akhirnya saya bertahan menjadi seorang ibu. Saya sungguh menghindari mengharap balasan dari anak-anak. Saya hanya berharap, mereka tumbuh sesuai fitrahnya, sampai kemudian mereka bisa menjalankan kehidupan sebagaimana mestinya.

Cita-cita ini sekali lagi tidak remeh. Tapi saya yakin, saya akan tetap belajar sampai kapanpun. Sampai Allah yang menjawab sampai kapan batasnya.

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Saya Bertahan Menjadi Seorang Ibu

  1. Kalo menurutku banyak perempuan yang kehilangan jati dirinya setelah menikah dan punya anak. Semacam, tidak bertumbuh karena tujuannya hanya membersamai anak. Jadi 24 jam terpusat ke anak semua.

    Begitu ada yg bikin ga nyaman karena anak trantum, susah makan, sakit dll. Jd ga ada yg bs dijadikan pegangan untuk tetap berpikir positif. Karena sehari2 udah uplek sama anak terus. Jd makin stress dan pusing dengan rutinitas.

    Mungkin Ade bisa mulai ambil hobi dan kejar lagi cita2 yang belum diwujudkan.

    Gimana pun ibu pasti butuh jadi diri sendiri. Butuh diakui eksistensinya sebagai dirinya sendiri, bukan bagian dari ibu seorang anak atau istri seseorang.

    Karena kalau terus menerus 24 jam dengan anak tanpa mikir diri sendiri, nanti stress.

    Gpp kok growing up, kerjain apa yang pengin dikerjain. Bahagialah lebih dulu sebelum membahagiakan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.