#ODOPISB, Cerita Bunda, ODOP ISB, Parenting

Sebagai Ibu, Saya Berharga Bagi Anak-anak

Menjadi ibu itu memang tidak mudah. Kalau mau dicari, saya merasa banyak sekali gagalnya. Merasa tak sesabar ibu-ibu lain. Merasa kurang setelaten ibu-ibu lain. Bahkan pernah ada dalam benak saya bertanya, “Masih pantaskah saya jadi seorang ibu?”

Dulu saya suka banding-bandingkan anak. Oh, anak si A sudah bisa tengkurep. Oh, anak si B sudah tumbuh gigi. Oh, anak si C sudah bisa ini. Bisa itu. Bla bla bla dan sebagainya. 

Ah, lama-lama saya merasa capek juga. Saya kembali lagi tatap anak-anak saya. Yang matanya masih polos. Wajahnya masih suci. Dirinya masih bersih. Yang bahkan tak punya dosa. Hih, yang ada saya yang dosa tidak bisa melihat mereka secara jernih. 

Itulah yang membuat saya sering up and down menjadi ibu. Padahal sebagai ibu, saya juga berhak untuk membahagiakan diri saya sendiri. Bukan hanya ibu di luar sana, saya juga bisa kok menjadi ibu. Saya juga bisa kok menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak saya.

Kita harus paham kondisi diri sendiri

Apa sih definisi kebaikan? Yang sesuai dengan semua teori parenting? Ada berapa banyak teori yang bisa saya terapkan? Apa saya tidak gila jika memaksakan semuanya? Lantas ke mana sebenarnya arah yang saya tuju?

Untung saja ada suami penengahnya. Andai beliau tak punya visi, mungkin saya juga terus terombang-ambing.

“Ini kondisi kita. Kita harus paham bahwa kondisi kita seperti ini. Kita berada di titik ini. Kita akan ke sana. Maka fokus saja dengan tujuan kita.” Begitu kata suami.

Lanjutnya, “Boleh saja mengambil teori-teori yang ada di luar. Tapi ingat-ingat lagi kondisi dan tujuan kita sendiri.”

Saya berharga bagi anak-anak

Sampai kemudian saya sadar. Saya dulu punya ayah dan ibu yang pernah memarahi anak-anaknya. Ayah dan ibu punya banyak sekali kesalahan. Tapi kalau disuruh ganti ayah dan ibu, ya jelas saya tidak mau!

Ayah dan ibu adalah ayah dan ibu yang terbaik bagi saya. Sebaik ayah dan ibu apapun di luar sana, posisi ayah dan ibu saya tak akan tergantikan selamanya. Darah daging ayah dan ibulah yang membuat saya terus menerus bangga menjadi anaknya.

Maka begitulah sekarang saya berpikir. Saya mungkin banyak salah dengan anak. Tak sedikit kelirunya. Tak terhitung dosanya. Tapi saya yakin, itu tidak lantas menghilangkan posisi saya sebagai ibu mereka.

Yakinlah, dalam nurani, saya sayang sekali pada anak-anak. Saya ingin mereka tumbuh sesuai fitrahnya. Saya juga ingin mereka punya masa depan yang cerah dan bahagia. Itu sebabnya saya bertahan menjadi ibu.

Saya akan tetap merawat mereka. Saya akan tetap mendidik mereka. Saya akan terus belajar untuk menambal yang bolong-bolong. Saya akan belajar untuk mereka. Saya akan berdiri untuk mereka. Saya akan bangkit untuk mereka.

Saya berharga. Diri saya bermanfaat. Setidaknya untuk anak-anak saya. Maka dengan ini saya memutuskan, untuk tak lagi tengok kiri kanan.

Menjadi sebenar-benar manfaat bagi anak

Yang tahu anak saya, saya sendiri. Yang tahu kondisi saya dan anak, juga saya sendiri. Yang tahu apa visi keluarga saya, juga saya sendiri. Maka saya sendirilah yang berhak memutuskan jalan apa yang saya pilih.

Saya ingin seperti ayah dan ibu dalam kebaikannya. Saya tahu mereka juga jatuh bangun menjadi orang tua. Saya tahu bagaimana mereka belajar dan berusaha untuk anak-anaknya. Begitulah saya ingin seperti mereka bisa membawa anak-anaknya menjadi anak yang tumbuh sesuai fitrahnya dan berjalan sebagaimana mestinya.

Menjadi orang tua memang bukan tak pernah salah, tapi adalah tentang bagaimana kita menjadi sebenar-benar manfaat bagi anak.

Tagged , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.