Pernikahan, Pillow Talk

Pillow Talk: Suami atau Istri yang Memegang Kendali Rumah Tangga?

piilow talk suami istri

Saya kaget banget waktu suami cerita bahwa anaknya almarhum Ustadz ternama berpisah dengan istrinya. Padahal di blog Sohibunnisa saya pernah menulis panjang tentang salutnya saya pada keberanian anak Ustadz tersebut menikah di usia yang sangat muda. Alvin Faiz dan Larissa Chou. Mungkin teman-teman pembaca juga tahu cerita mereka.

Hal ini jadi menarik perhatian saya lagi. Terlebih saya juga melihat beberapa teman saya yang sebelumnya sudah menikah dan punya anak, tiba-tiba mereka menghapus semua foto suaminya. Belum lagi ditambah narasi-narasi mereka yang terlihat seperti rumah tangga mereka memang ada masalah. Wallahua’lam. Jelas itu bukan ranah saya. Apapun itu, semoga teman-teman saya selalu diberi kemudahan menghadapi segala masalahnya.

Suami pemegang kendali teratas dalam rumah tangga

Dengan kasus Alvin dan beberapa teman saya tersebut, saya justru jadi berpikir, bahwa dalam rumah tangga, suamilah yang harus memegang kendali. Kendali di sini bukan dalam artian suami harus otoriter. Tapi kendali untuk mempertahankan rumah tangganya. Jadi apapun masalahnya, mestinya seorang suami mampu untuk membawa rumah tangganya ke arah yang meningkat dan lebih baik lagi.

Maksud saya begini. Dalam rumah tangga, suami harusnya memegang kendali teratas. Yang mana, dalam islam memang sudah tercatat laki-laki adalah qowwam. Pelindung. Pemimpin. Jadi ya, yang sesungguhnya berhak memutuskan akan ke mana arah rumah tangga, seharusnya memang suami.

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)

Suami perlu memantaskan diri menjadi pemimpin rumah tangga

Hanya saja, yang tak jarang terjadi di lapangan, suami justru kurang mampu untuk memegang kendali. Entah karena perilakunya yang kurang pantas sebagai pemimpin, entah nafkah lahir batin untuk istri yang kurang, atau masalah lainnya, yang membuat suami menjadi ‘jatuh’ posisinya di hadapan istrinya. Alhasil, istrilah yang akhirnya memegang kendali. Bahkan berani memutuskan untuk berpisah saja dengan suaminya.

Di sini bukan bermaksud untuk ‘menyalahkan’ suami. Hanya saja, saya masih percaya, ketika seorang suami mampu menjadi pemimpin, dan dia memang memantaskan dirinya untuk dihormati, serta menjaga sikapnya untuk mengayomi istrinya, insya Allah kok rumah tangga pasti bisa dipertahankan. Karena laki-laki itu pada dasarnya makhluk yang logis dan berpikir panjang ke depan. Nah sikap ini yang harusnya dimiliki seorang suami.

Istri yang memegang setir kendali rumah tangga

Saya bawa masalah ini ke sesi Pillow Talk bareng suami. Menurut suami, justru istrilah yang memegang setir dalam rumah tangga. Ibaratnya suami sudah tahu akan ke mana. Tapi istri yang memegang setir kendalinya.

Maksudnya, sebagaimana pun sikap suami, istrilah yang sebenarnya bisa menentukan arah rumah tangga. Karena istri yang memegang setirnya.

Katakanlah, suami sedang ada di titik terendah dalam rezekinya, istri bisa memilih untuk terus menemani suaminya, atau tidak. Atau misalnya suami melakukan kekerasan. Tapi istri punya hak untuk memilih bertahan, atau berpisah. Karena gugatan cerai itu kan tidak mesti dimulai dari suami. Istri juga bisa menggugat jika memang ada hal-hal yang dirasa sudah melanggar agama dan tidak cocok dengan suaminya.

Suami yang jadi pemimpin, istri yang jadi pengikut

Ya kalau dilihat, pandangan saya dan suami sebetulnya saling terkait. Saya bilang suami harusnya menjadi pemimpin, suami bilang istri yang punya setir kendali. Jadi suami yang memang sudah pantas menjadi pemimpin dan istrinya mau mengikuti ke mana arah pemimpin itu melangkah. Itulah rumah tangga yang klop.

Kalau salah satu timpang, rumah tangga bisa jadi goyah. Suami sudah berusaha menjadi pemimpin yang baik. Segala kewajibannya sudah dipenuhi. Tapi istrinya tetap membangkang dan tidak menghormati, ya goyahlah. Demikian pula sebaliknya. Istri sudah memenuhi kewajibannya dengan baik. Menghormati suami. Tapi suami malah berakhlak buruk ke istrinya. Bisa hancurlah jadinya.

Its take two to tango, agar suami istri harmonis

Saya sendiri akhirnya berkesimpulan bahwa dalam rumah tangga itu, memang harus ada yang keukeuh (kuat pendirian) untuk mempertahankan rumah tangga. Sebagaimana pun buruknya sikap suami atau istri, jika salah satunya tetap tabah menjalani dan mengayomi pasangannya, insya Allah rumah tangga itu bisa terselamatkan.

Kasarannya, misalnya suami dzalim ke istrinya, tapi istrinya tetap hormat ke suaminya. Atau istri yang dzalim ke suaminya, tapi suaminya tetap sabar membimbing.Β Atau suami yang belum bisa menjadi pemimpin, tapi rela untuk disetir oleh istrinya. Walau diakui, melakukan semua hal tersebut memang tidak mudah. Meskipun kita tahu mungkin balasan-Nya kelak indah.

Tapi pada akhirnya, agar berjalan dengan adil, rumah tangga itu memang seharusnya its take two to tango. Suami bisa menjadi pemimpin dan pelindung bagi keluarganya. Istri pun mampu menjadi makmum dan mengikuti arahan suaminya dengan baik. Keduanya terus saling menghormati dan menghargai. Suami istri masing-masing tahu posisi dan porsinya dalam rumah tangga. Dengan begitu maka terciptalah rumah tangga yang harmonis. Sakinah mawaddah warahmah. Aamiin.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

19 thoughts on “Pillow Talk: Suami atau Istri yang Memegang Kendali Rumah Tangga?

  1. Intinya sih suami istri harus memantaskan diri masing-masing ya. Suami harus belajar untuk menjadi pemimpin yang sabar, istri pun harus belajar jadi istri yang tidak semena-mena.

    Banyak yang terjadi dari penglihatanku sendiri, sang istri cerewet minta ampun, akhirnya suami tidak kuat malah lari ke minum-minuman keras. Duuh, kan malah jadi saling mendzalimi.

    Aku sih berharap semoga kami dan juga semua pembaca blog ini, bisa mendapatkan kebahagiaan dari pernikahaan dan juga bisa meraih Surga bersama-sama.

  2. Pillow talk itu penting ya mba, untuk membahas hal-hal yang ‘dalem’ antara suami istri. Jadi tahu pendapat satu sama lain dan mencoba mencari jalan tengah jika terdapat perbedaan-perbedaan yang dirasakan. Tentunya ini jadi usaha kita dalam mewujudkan rumah tangga harmonis, sakinah, mawaddah, warahmah

  3. Pillow talk itu penting ya mba, untuk membahas hal-hal yang ‘dalem’ antara suami istri. Jadi tahu pendapat satu sama lain dan mencoba mencari jalan tengah jika terdapat perbedaan-perbedaan yang dirasakan. Tentunya ini jadi usaha kita dalam mewujudkan rumah tangga harmonis, sakinah, mawaddah, warahmah…Amin

  4. aku setuju mba kalau suami harusnya menjadi pemegang kendali atas rumah tangga kita dan istri sebagai makmum selain harus patuh juga tetap harus bisa tegas kalau suami ada lengahnya sama kewajibannya.

    kalau dalam kasus alvin dan clarisa ini aku melihatnya mereka memang menikah dalam usia sangat muda jadi yah diusia sekarang pun masih bisa belum dewasa melihat rumitnya masalah rumah tangga, yang terbaik untuk mereka berdua kalau memang perpisahan jalannya

  5. Menurut ku suami istri yang saling menyayangi, tidak akan berbuat dzalim satu sama lain. Karena pijakannya kasih sayang, apalagi bila ada dasar iman yang teguh. Insyaa Allah ikhtiar mendapatkan solusi untuk setiap masalah juga bakal mudah.

  6. setuju. pernikahan hanya akan bisa bertahan lama jika kedua pihak yang menjalaninya mau memperjuangkannya. kalau satu aja yang berjuang bakalan berat banget. trus kalau soal zalim, kalau zalimnya sudah ke KDRT mah mending bye aja.

  7. Aku juga agak kaget dan menyayangkan mereka akhirnya pisah mbak.

    Soalnya ngikutin pas dari awal nikahnya. Duh bapaknya santun dan bikin adem aja liatnya.

    Sayang banget semua ini kejadian pas beliau udah nggak ada.

    Emang sih di akhir akhir melihat mereka berdua udah berbeda. Mungkin masa muda nya belum puas merasakan bebasnya main main. Jadi pas dah nikah bingung gitu.

    Meski gak semua org nikah muda demikian si soalnya temen ada yang nikah muda juga adem ayem aja sampe sekarang.

    Emang berat ngomongin olahraha ya mbak. Apalagi aku belum menjalaninya. Hihi

  8. Sepakat, Mbak
    Kalau misalnya dua duanya juga lempeng, bakalan enggak ada yang ingat niat pertama kali memutuskan untuk menikah
    Semoga selalu kuat dan sabar membangun rumah tangga ini ya, Kak…

  9. Aku setuju sih sama pendapat suami mbak. Karena meskipun suami bisa bawa keluarga maju kemanapun, tapi kendali setir ga boleh sepenuhnya di suami, melainkan dibagi dengan istri juga. Kadang kala kita lagi down, istri lah yang mesti bisa bantu membangkitkan semangat.

    Etapi, semua balik lagi ke komunikasi sih.
    Kalo kuliat kasus alvin dan larissa, mereka memang punya komunikasi yang payah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.