Pernikahan

Tantangan Setelah Menikah Itu Ternyata Menghadapi Diri Sendiri

tantangan setelah menikah

Tantangan terberat selama menikah. Pertanyaan ini muncul dari permainan Ask Me di Instagram yang diambil dari akun @theasianparent_id.

Kayaknya tanpa pikir panjang, saya bisa menjawab pertanyaan ini dengan spontan. Saya akan jawab, tantangannya adalah menghadapi diri sendiri!

Tantangan setelah menikah itu banyak sekali. Tapi yang menjadi tantangan paling berat ternyata bukan seperti cerita-cerita di luar sana yang diuji dengan suaminya, anaknya, mertua, ipar, orang tua, saudara kandung. Dalam kasus saya bukan itu semua. Tapi ternyata diri saya sendirilah jawabannya!

Bukan tak pernah diuji dengan hal lain. Tapi ternyata menghadapi diri saya sendiri saja sungguh sulit. Terlepas apakah setelah umur 25an kemarin saya menghadapi quarter life crisis, saya tidak tahu. Yang jelas semua emosi negatif rasanya semakin bermunculan.

Tantangan setelah menikah itu ternyata bukan datang dari luar

Ya, sebenarnya saya punya suami yang amat baik, anak-anak yang sehat, sempurna, dan cerdas. Punya mertua juga sama pekanya. Makanya saya bisa bermanja dengan mertua layaknya ke orang tua sendiri. Keluarga kandung dan saudara-saudara ipar juga semua baik rasanya.

Ya Allah, suami saya tuh orang yang paling bijaksana, peka sekali. Dari awal menikah bahkan dia sudah menunjukkan kepekaannya tanpa pernah saya minta. Misalnya saja saya sibuk, suami dengan pekanya langsung bantu tanpa saya minta. Setiap kali hamil, beliaulah yang selalu terdepan mengingatkan saya minum vitamin dan susu. Setiap kali sakit, beliaulah yang merawat saya dan mengambil alih urusan anak-anak dan rumah.

Cerita-cerita tentang suami yang cuek, sungguh tidak berlaku. Makanya saya sampai heran, kok ada laki-laki seperti dia yang pekanya kelewatan. Saking pekanya, bahkan suami yang justru lebih mengenal seorang Ade Delina Putri, istrinya ini.

Isu yang bukan baru muncul

Alih-alih bersyukur, saya justru punya isu dengan diri sendiri. Saya sampai bingung awalnya. Kenapa kok baru keluar sekarang?

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya tidak juga sih. Dari kecil saya sudah sering teriak kalau emosi dan ketakutan. Dari dulu saya juga mudah panik. Mudah tersinggung. Isu itulah yang semakin keluar justru setelah punya anak. Kesalahan 1, saya bisa marah sampai level 10. Itu kan tidak normal. Saya juga sulit sekali untuk sabar dalam beberapa hal.

Makanya saya heran, kok suami bisa sabar. Saya sendiri bahkan, jika menghadapi diri sendiri, rasanya takkan bisa sabar ah. Diri saya ini keras kepala sekali. Kalau emosi, buruk sekali tingkahnya. Makanya, saya pernah benci sekali pada diri sendiri.

Bahkan tak sekali dua kali saya berpikir, kasihan anak-anak dan suami mendapat ibu dan istri seperti saya. Apa lebih baik mereka mendapat ibu yang lain saja. Mendapat istri baru saja. Saking saya takut sekali mereka terluka 😭

Akar pernikahan ini adalah kesabaran suami

Yah kalau tidak ada kesabaran suami, mungkin diri saya sudah rapuh habis-habisan. Sudah ditinggal sejak lama.

Pernikahan bisa sampai di titik ini saya rasa akarnya adalah kesabaran suami. Penerimaan suami akan diri saya seutuhnya.

Suami mengaku, saya memang banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tidak punya kelebihan. Beliau selalu percaya bahwa saya berharga. Saya adalah orang yang pintar. Luas pengetahuannya. Sehingga beliau yakin bahwa saya PASTI BISA menuju ke arah yang lebih baik.

Itu sebabnya suami sangat mendukung saya untuk membenahi diri. Ikut kelas self healing, pergi ke psikiater, dan yang terbaru saya mencoba ke psikolog.

Berulang-ulang saya bertanya, “Kenapa Kakak mau bertahan sama Ade?” Jawaban yang juga selalu diulang-ulang, “Karena Kakak yakin Ade BISA. Karena Kakak cinta Ade.” 😭

Suami bahkan bilang, saya tak akan lebih baik jika pergi dari beliau. Alih-alih baik, saya justru bisa-bisa semakin hancur jika lepas dari pelukan suami 😭

Pernikahan itu menguji diri sendiri

Pernikahan itu sungguh tidak mudah, Kawan. Rupanya saya belum menguasai banyak hal tentang pernikahan. Termasuk satu hal yang baru saya sadari setelah menikah adalah bahwa kita harus selesai dengan diri sendiri.

Rupanya banyak sekali isu dalam diri saya yang belum selesai. Tentang segala pengalaman masa lalu yang kurang enak. Begitu dilindungi, sampai saya selalu merasa aman. Segala hal yang mudah saya dapatkan. Intinya saya belum belajar banyak. Saya baru sadar bahwa pengalaman saya mengarungi tantangan hidup amat sedikit.

Mungkin itulah yang membuat semuanya baru terasa setelah menikah. Saya banyak menangis menghadapinya. Kok jauh dari keluarga sedih ya?, punya anak, berat juga ya?, kenapa suami tega sih membiarkan saya melakukan ini sendiri?, kok saya kayak dibiarin sendiri ya? Nggak kayak ayah ibu yang tidak membiarkan saya kesulitan.

Perubahan memang tidak mudah

Itu yang sering diajarkan suami saya. Suami membawa saya ke Surabaya. Merantau, hal yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya lakukan. 22 tahun saya tidak pernah hidup jauh dari keluarga.

Suami membiarkan saya masuk ke dapur. Percaya saya bisa jalan sendiri dengan ojek online. Padahal dulu pas single seringnya saya diantar jemput. Beliau juga keukeuh memberi daftar apa saja yang harus saya lakukan jika ingin berubah.

Ya, memang terkesan tega. Tapi itulah cara yang kata beliau biar saya belajar.

Tak apa saya harus menangis. Tak apa saya harus kesal. Tapi dari situlah suami percaya bahwa saya BISA. Saya sebenarnya bisa diberi kesempatan. Dan yang terpenting, saya bisa dipercaya.

Pelan-pelan saya mencintai diri sendiri

Tentu saja tak ada perubahan yang instan. Tapi setidaknya pelan-pelan saya tak lagi benci pada diri sendiri. Saya belajar mencoba menerima segala yang pernah dialami di masa lalu. Sebab hanya dengan penerimaan saya bisa menjadi lebih baik.

Atas tekad suami, saya mulai bisa menerima diri sendiri. Belajar mencintai diri sendiri.

Suami bilang, jika saya berubah maka berubahlah karena diri sendiri bukan orang lain bahkan bukan untuk suami dan anak-anak sekalipun.

Karena jika berubah untuk orang, maka saya tidak akan mampu bertahan lama. Tapi jika saya menemukan tujuan untuk diri sendiri, itu dampaknya lebih kuat. Karena tak ada alasan lain, selain kita memang mencintai diri sendiri.

Dan terakhir, psikolog saya bilang, “Mbak Ade pasti nggak mau lihat suami Mbak bersama perempuan lain. Mbak Ade pasti nggak akan tega anak-anak Mbak Ade diasuh ibu lain.” 😭

Ya, memang benar, bahwa sesungguhnya jauh di lubuk hati, saya ingin seterusnya hidup bersama suami dan anak-anak. Dan saya juga yakin, tak ada istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak selain diri saya 😭

Allah, berilah hamba kemudahan. Izinkan hamba menjadi lebih baik untuk diri hamba sendiri, suami, juga anak-anak.

Tagged , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

24 thoughts on “Tantangan Setelah Menikah Itu Ternyata Menghadapi Diri Sendiri

  1. iya ya mbak suami itu harus mau berbagi tugas dengan istri dan mengerti apa yang dimauin istrinya. banyak ortu yang salah mendidik anak laki2. banyak yang membuat anak alki2 raja yang hrs dilayani. Nah, inilah penyebab banayk suami yang gak peka dg istrinya. Makanya aku mendidik anak laki2ku bukan yg hrs dilayani tapi juga mau melayani. berbagi tuas rumah tangga di rumah. semoga dia kelak sbg suami bisa membantu istrinya tanpa diminta

  2. Memang tantangan pernikahan itu masing2 ya mba..tergantung oada kondisi kelg dan kejiwaan masing2 juga. Terima kasih sdh berbagi kisah ini mba.. Semoga seriap tantangan segera daoat terlampaui..

  3. Hampir mewek saya baca paragraf terakhir, mbak Ade… Siapa yang mau anak sendiri diurus sama orang lain.
    Allah memang maha adil, mbak Ade dan suami bisa melengkapi ^^.
    Perubahan yang dirasakan mbak Ade pas pindah ke Surabaya, mirip sama yang saya rasakan saat diajak suami stay for a while di Taiwan hihi.
    Semangatt teruss ya mbak Ade ^^

  4. hmm begitu ya
    aku gak tau suamiku akan seperti apa nanti
    bagaimana tantangan kami setelah menikah
    aku sih akan menikah 3 bulan lagi
    tapi ya begitu, komunikasi dengan pacar bukan berarti bisa menjamin bagaimana dirinya setelah menikah
    yaaa aku gak tahu juga sih
    akan ada banyak perubahan
    akan perlu adaptasi dan pengertian
    mungkin dibutuhkan saling mengerti dan komunikasi

  5. kehidupan setelah menikah itu memang luar biasa ya. saya juga merasa kadang masih maksain ego saya ke suami. terus kalau saya sudah tenang, mikir, Ya Allah, kasihan banget suami saya, sering kali saya maksa harus ini, harus itu, pengen yang ini dan itu, tapi suami masih sabar. semoga kita selalu diberikan kesabaran, dan selalu dilindungi oleh Allah.. serta kebaikan selalu menyertai keluarga kita. Aamiin aamiin..

  6. Iyaya, kak..
    Seringkali kita mencari penyebab itu dari hal-hal di luar kendali kita. Misalkan rejeki, kesehatan, padahal itu pangkalnya adalah dari persepsi dan bagaimana kita memberikan yang namanya self love.
    Terimakasih banget, kak..
    Insighful yang sangat berharga sekali bahwa kita berubah bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri kita sendiri.

  7. Mbak Ade terima kasih sudah berbagi. Saya membaca ini kok nangis ya. Mbak Ade nyaris punya kesamaan dengan saya yang merasa tidak pernah berharga dan nggak layak menjadi istri yang baik. Sayang takdir kita yang berbeda. Kalau suami mbak bisa sesabar itu, syaa justru sebaliknya. Dan mungkin dari sini Allah ingin saya memperbaikinya sebelum saya diberikan kesempatan untuk menikah lagi.

  8. Mbak Ade terima kasih sudah berbagi. Saya membaca ini kok nangis ya. Mbak Ade nyaris punya kesamaan dengan saya yang merasa tidak pernah berharga dan nggak layak menjadi istri yang baik. Sayang takdir kita yang berbeda. Kalau suami mbak bisa sesabar itu, saya justru sebaliknya. Dan mungkin dari sini Allah ingin saya memperbaikinya sebelum saya diberikan kesempatan untuk menikah lagi.

    Semoga kita sama – sama bisa lebih baik dan menjadi wanita penghuni surga yang taat sama suami ya mbak. Amin

  9. Mbak Ade terima kasih sudah berbagi. Saya membaca ini kok nangis ya. Mbak Ade nyaris punya kesamaan dengan saya yang merasa tidak pernah berharga dan nggak layak menjadi istri yang baik. Sayang takdir kita yang berbeda. Kalau suami mbak bisa sesabar itu, saya justru sebaliknya. Dan mungkin dari sini Allah ingin saya memperbaikinya sebelum saya diberikan kesempatan untuk menikah lagi.

    Semoga kita sama – sama bisa lebih baik dan menjadi wanita penghuni surga yang taat sama suami ya mbak. Amin

  10. MasyaAllah, suaminya berarti sabar banget ya Mbak.
    setuju banget ama Suaminya, kalau mau berubah emang harus dari diri sendiri dan untuk diri sendiri bukan orang lain, orang lain jadi alasan ke sekian kali ya biar jadi motivasi aja ya, faktor eksternal gitu lah ya.
    karena jika orang lain saja bisa menerima kita apa adanya, kenapa justru kita harus denial terhadap diri? huhuh
    semangat Mbak 🙂

  11. Mbak Ade semangat. Saya pernah juga mengalami fase ini. Butuh proses memang untuk ‘sembuh’. Alhamdulillah Mbak punya suami yang dengan sabar mau menemani Mbak untuk berproses. Insyaa Allah Mbak bisa dan tidak melelahkan kalau ada tangan suami yang selalu memegang tangan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.